Opini

Opini: Media Sosial, Terlalu Banyak Tahu Tapi Tidak Tahu Harus Ngapain

Opini: Media Sosial, Terlalu Banyak Tahu Tapi Tidak Tahu Harus Ngapain

Romi Aprilyansa

Oleh Romi Aprilyansa, Alumnus SMAN 2 Bandar Lampung dan Fakultas Teknik Unila

Hari ini, buka ponsel rasanya capek. Scroll sebentar, isinya harga saham naik-turun.

Scroll lagi, emas katanya lagi “paling aman”. Belum selesai mikir, sudah muncul video lain: “Ini saatnya beli.”

Lima menit kemudian: “Hati-hati, mau crash.” Banyak info. Tapi anehnya, makin bingung.

Psikologi punya satu konsep sederhana: manusia cuma bisa mikir efektif sekitar 5 sampai 9 hal dalam satu waktu. Lebih dari itu, otak mulai kewalahan. Kita jadi gampang panik, gampang ikut-ikutan, dan susah tenang.

Masalahnya, hidup hari ini tidak memberi kita 5–9 informasi. Tapi puluhan. Bahkan ratusan. Semua datang cepat, keras, dan terasa penting. Padahal tidak semuanya benar-benar perlu.

Di kondisi seperti ini, keputusan soal uang sering tidak lahir dari logika, tapi dari rasa takut. Takut ketinggalan.

Takut salah langkah. Takut terlihat “nggak update”. Morgan Housel menulis bahwa uang hampir selalu bertemu emosi. Dan ketika emosi mengambil alih, keputusan jarang jadi lebih baik.

Itu juga yang terlihat sekarang. Saat pasar saham naik turun, orang makin sering ganti sikap. Hari ini yakin, besok ragu.

Pagi optimistis, sore panik. Bukan karena datanya berubah drastis, tapi karena kepala sudah terlalu penuh.

Emas yang naik tinggi juga bisa dibaca begitu. Banyak orang tidak membeli emas karena perhitungan rumit, tapi karena ingin merasa aman. Ingin pegangan.

Itu manusiawi. Tapi jadi masalah kalau setiap keputusan justru bikin makin cemas.

Di media sosial, informasi sering disamakan dengan kepintaran. Semakin banyak tahu, semakin merasa mengerti.

Padahal sering kali yang terjadi justru sebaliknya: terlalu banyak tahu, tapi tidak tahu harus ngapain.

Mungkin masalah kita hari ini bukan kurang informasi, tapi tidak tahu kapan harus berhenti mendengar.

Tidak semua opini harus diikuti. Tidak semua pergerakan harus ditanggapi. Kadang, diam dan mikir pelan-pelan justru lebih sehat.

Menariknya, ini sejalan dengan pesan Alquran dalam Surat Al-Hadid ayat 20. Ayat ini mengingatkan bahwa hidup sering terasa seperti permainan dan perlombaan—tentang harta, pencapaian, dan tampilan luar. Ramai, seru, tapi cepat berlalu.

Kalau terlalu larut, kita bisa lupa apa yang benar-benar penting.

Ayat ini bukan melarang orang cari uang atau sukses. Tapi mengingatkan agar kita tidak terjebak.

Tidak menjadikan naik-turunnya angka sebagai penentu tenang atau gelisahnya hidup.

Buat generasi hari ini, mungkin refleksinya sederhana:

Tidak semua yang viral itu penting. Tidak semua yang ramai itu harus diikuti.

Dan tidak semua keputusan harus cepat. Kadang, keputusan paling dewasa justru datang saat kita berani memperlambat langkah.

Mengurangi suara. Memilih fokus. Karena hidup—dan uang—seharusnya membantu kita bernapas lebih lega, bukan menambah bising di kepala. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda