Oleh Indah Nevira Trisna dan Dina Martha Fitri (Dosen Prodi Pendidikan Bahasa Prancis dan Dosen Prodi Magister Teknologi Pendidikan Unila)
Project Based Learning (PjBL) merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses belajar. Melalui pembelajaran berbasis proyek, siswa didorong untuk mengamati masalah, bekerja sama, berpikir kritis, serta menghasilkan karya sebagai bagian dari proses belajar.
Dalam konteks kurikulum, PjBL tidak hanya bertujuan meningkatkan penguasaan materi, tetapi juga membangun keterampilan abad ke-21 seperti komunikasi, kolaborasi, dan kemandirian belajar.
Dalam praktiknya, penerapan Project Based Learning sering dipahami sebagai metode pembelajaran yang ideal dan inovatif. Namun, pengalaman lapangan menunjukkan bahwa penerapan PjBL tidak selalu berjalan mulus sebagaimana yang tertulis dalam modul atau panduan pembelajaran.
Hal ini terlihat ketika mahasiswa pada mata kuliah Landasan Kependidikan melakukan kunjungan dan sesi berbagi di salah satu sekolah di Bandar Lampung.
Dari hasil observasi dan diskusi dengan pihak sekolah, mahasiswa menemukan sejumlah persoalan nyata yang menjadi tantangan dalam penerapan pembelajaran berbasis proyek.
Temuan pertama berkaitan dengan proses adaptasi pembelajaran pascapandemi Covid-19. Meskipun pembelajaran tatap muka telah kembali berlangsung, dampak pandemi masih terasa dalam kebiasaan belajar siswa.
Beberapa siswa menunjukkan penurunan motivasi, kesulitan berinteraksi secara aktif, serta kecenderungan belajar pasif. Kondisi ini memengaruhi efektivitas PjBL yang menuntut keterlibatan aktif siswa.
Sekolah tidak hanya dituntut untuk melanjutkan pembelajaran, tetapi juga memulihkan ritme dan budaya belajar yang sempat terganggu.
Persoalan kedua adalah penerimaan wali murid terhadap penerapan Project Based Learning. Dari hasil diskusi, terungkap bahwa tidak semua wali murid memahami tujuan dan manfaat pembelajaran berbasis proyek.
Sebagian masih memandang PjBL sebagai aktivitas tambahan yang menyita waktu, sementara hasil akademik dianggap tidak langsung terlihat. Kurangnya pemahaman ini membuat guru berada pada posisi yang tidak mudah ketika mencoba menerapkan pembelajaran yang berorientasi pada proses dan pengalaman belajar siswa.
Temuan ketiga yang cukup menonjol adalah pandangan wali murid yang masih sangat menjunjung tinggi nilai akhir dibandingkan proses belajar. Keberhasilan siswa sering kali diukur dari angka pada rapor, bukan dari perkembangan keterampilan berpikir, kreativitas, atau kemampuan bekerja sama.
Pandangan ini secara tidak langsung memengaruhi iklim pembelajaran di sekolah. Guru dituntut untuk mengejar capaian nilai, sementara ruang untuk bereksperimen dengan metode pembelajaran seperti PjBL menjadi terbatas.
Ketiga temuan tersebut menunjukkan bahwa tantangan penerapan Project Based Learning tidak hanya terletak pada kesiapan guru atau siswa, tetapi juga pada ekosistem pendidikan secara keseluruhan.
Pengalaman ini menjadi pelajaran penting bagi pendidikan calon guru di perguruan tinggi. Mahasiswa perlu lebih sering bersentuhan langsung dengan realitas sekolah agar tidak terjebak pada pemahaman metode pembelajaran yang ideal dan normatif.
Tanpa pengalaman lapangan, konsep seperti PjBL berisiko dipahami hanya sebagai tuntutan kurikulum, bukan sebagai kebutuhan kontekstual sekolah.
PjBL pada akhirnya bukan sekadar metode pembelajaran, melainkan sarana untuk memahami realitas sekolah, membangun dialog antara sekolah dan orang tua, serta menumbuhkan kesadaran bahwa proses belajar sama pentingnya dengan hasil akhir. []

Tinggalkan Komentar Anda