Nusantara

Mahasiswa FKIP Unila Juara ll Lomba Esai Nasional Lawxury Fest 2025 UIN Sunan Kalijaga

Mahasiswa FKIP Unila Juara ll Lomba Esai Nasional Lawxury Fest 2025 UIN Sunan Kalijaga

Kiri ke kanan. Sepvania dan Triaswari. | Dandy HR

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Triaswari Ayunandini mahasiswa Pendidikan Ekonomi FKIP Unila angkatan 2024 bersama rekannya, Sepvania Berlian Rengganis, mahasiswa PPKN angkatan 2024 FKIP Unila, berhasil meraih juara ll Lomba Esai Nasional Lawxury Fest 2025 yang diselenggarakan oleh UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kompetisi yang berlangsung secara daring selama dua bulan ini diikuti peserta dari berbagai universitas besar di Indonesia.

Lomba dimulai sejak pembukaan pendaftaran pada awal Oktober 2025. Setelah proses seleksi esai, panitia mengumumkan finalis pada 22 November 2025.

Peserta kemudian mengikuti babak presentasi pada 27 November 2025, dan pemenang diumumkan pada 29 November 2025.

Triaswari tampil sebagai finalis bersama rekannya, Sepvania. Keduanya berkolaborasi khusus karena tema besar lomba “Peran Masyarakat Sipil dalam Mengawal Demokrasi dan Keadilan Sosial”, dinilai sangat relevan dengan bidang kajian mereka masing-masing.

“Kami melihat tema ini sangat luas dan membutuhkan analisis dari lebih dari satu perspektif. Makanya saya mengajak Sepvania agar analisisnya lebih tajam dan komprehensif. Ini juga menjadi kesempatan untuk membawa nama baik Unila di tingkat nasional,” kata Triaswari hari ini kepada wartalampung.id.

Dari lima subtema yang ditawarkan, tim Unila memilih sektor pendidikan dan mengusung judul esai “Mengawal Edukasi-Berintegritas Melalui ‘PenaRakyat’: Sinergi Civic-Tech dan Jaringan Sipil-Guard Melawan Kesenjangan Pendidikan dan Memperkuat Demokrasi.”

Menurut Triaswari, ide ini muncul dari keprihatinan terhadap dua persoalan mendasar, yaitu kesenjangan pendidikan dan minimnya partisipasi publik dalam pengawasan pendidikan.

Triaswari dan Sepvania membangun esai mereka melalui riset mendalam.

Mereka mengumpulkan data dari BPS, Kemendikbudristek, hingga laporan lembaga internasional seperti Transparency International. Keduanya juga mempelajari teori civic-tech, literasi kritis ala Paulo Freire, dan gagasan pembangunan manusia dari Amartya Sen.

Meskipun seluruh rangkaian berlangsung daring, atmosfer kompetisi tetap terasa sengit. Finalis dari berbagai universitas menyampaikan gagasan kritis dan inovatif, disertai sesi tanya jawab yang menegangkan.

Triaswari menyebutkan, momentum paling berkesan adalah ketika timnya mendapat banyak pertanyaan tajam terkait dengan antisipasi resistensi birokrasi.

Ketika diumumkan sebagai juara ll, Triaswari dan Sepvania mengaku terharu dan bangga.

“Ini pencapaian nasional pertama kami sebagai tim. Rasanya semua lelah terbayar. Kami bangga bisa membawa nama Unila di panggung nasional,” tutupnya. [Dandy HR]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda