Abdul Hakim
Oleh Dr. Ir. KH. Abdul Hakim, MM, Anggota DPD RI Perwakilan Provinsi Lampung
Setiap tanggal 25 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Guru Nasional sebagai bentuk penghormatan kepada para pendidik yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mencerdaskan generasi.
Bagi saya, peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum untuk meneguhkan kembali komitmen kita bahwa pendidikan adalah jalan peradaban, dan guru adalah lentera utamanya.
Dalam perspektif Islam, kemuliaan guru mendapat kedudukan sangat tinggi. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat.”
Ayat ini memberi pesan kuat bahwa ilmu adalah jalan kemuliaan, dan guru sebagai pewaris ilmu memiliki kedudukan yang harus dihormati.
Rasulullah saw pun menegaskan bahwa para ulama—yang juga berperan sebagai pendidik—adalah pewaris para nabi. Maka memuliakan guru sejatinya adalah memuliakan warisan kenabian.
Namun, di balik kemuliaan itu, kita tak bisa menutup mata atas berbagai tantangan yang masih dihadapi guru di Indonesia, termasuk di Provinsi Lampung.
Kesejahteraan guru honorer yang belum merata, kebutuhan peningkatan kompetensi, serta fasilitas pendidikan yang masih terbatas menjadi catatan penting yang harus dibenahi secara serius dan berkelanjutan.
Dalam menjalankan tugas pengawasan dan memperjuangkan aspirasi masyarakat di Senayan, saya meyakini bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak akan pernah lepas dari perbaikan kualitas dan kesejahteraan guru.
Guru yang kuat akan melahirkan generasi yang kuat; guru yang sejahtera akan melahirkan pembelajaran yang penuh ketulusan.
Peringatan Hari Guru Nasional tahun ini hendaknya menjadi ruang refleksi bagi pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk memperkuat ekosistem pendidikan.
Kita perlu memastikan bahwa guru tidak hanya menjadi objek kebijakan, tetapi subjek pembangunan pendidikan yang diberi ruang, dukungan, dan penghargaan yang layak.
Kita juga perlu mengembalikan martabat seorang guru sebagai teladan moral. Dalam dunia modern yang serbacepat dan penuh distraksi, guru harus tetap menjadi penjaga nilai—membimbing murid bukan hanya cerdas dalam akal, tetapi juga matang dalam akhlak.
Pendidikan karakter yang kita dambakan tidak akan terwujud tanpa keteladanan dari para pendidik.
Sebagai wakil daerah, saya mengajak seluruh elemen masyarakat Lampung untuk menjadikan Hari Guru Nasional sebagai titik awal memperkuat sinergi.
Mari kita muliakan guru dengan penghargaan, perhatian, dan dukungan nyata. Jika ilmu adalah cahaya, guru adalah lentera yang menuntun kita keluar dari kegelapan kebodohan. Menyalakan lentera itu berarti menjaga masa depan bangsa.
Akhirnya, atas nama pribadi dan sebagai anggota DPD RI, saya menyampaikan terima kasih, penghormatan, dan doa terbaik untuk seluruh guru Indonesia, khususnya di Provinsi Lampung.
Semoga Allah swt selalu melimpahkan berkah, kesabaran, dan kemuliaan kepada para pendidik yang telah mengabdikan hidupnya dalam jalan ilmu.
Selamat Hari Guru Nasional. Semoga guru terus menjadi cahaya peradaban. []

Tinggalkan Komentar Anda