Bandar Lampung

Tari Nyambai Meriahkan Bulan Bagha 2025: Rayakan Budaya Lampung Saibatin di Bawah Cahaya Purnama

Tari Nyambai Meriahkan Bulan Bagha 2025: Rayakan Budaya Lampung Saibatin di Bawah Cahaya Purnama

Tari Nyambai. | Nathania Shakira

Wartalampung.id, Bandar Lampung — Kegiatan Bulan Bagha yang diselenggarakan oleh Sekelik Himpunan Program Studi Pendidikan Bahasa Lampung (Sekubal) FKIP Unila berlangsung meriah.

Acara dimulai pada pukul 19.15 WIB hingga 24.00 WIB, bertempat di Laboratorium Budaya Nuwo FKIP Unila, Jumat malam (10/10/2025).

Kegiatan ini merupakan tradisi masyarakat Lampung tempo dulu yang mengadakan pentas seni setiap bulan purnama.

Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bentuk syukur sekaligus hiburan bagi masyarakat sambil menikmati keindahan bulan terang itu.

Hingga kini, tradisi serupa masih lestari di beberapa daerah, termasuk melalui kegiatan yang diinisiasi oleh Sekubal FKIP Unila.

Rangkaian Bulan Bagha tahun ini menampilkan berbagai pertunjukan seni, mulai dari Temui Agung, tari Nyambai, gitar klasik, tari Melinting, sastra lisan, hingga tari Cangget Agung.

Sebagai penutup, acara dilengkapi dengan prosesi lempar selendang yang dilakukan oleh para muli dan mekhanai.

Salah satu penampilan yang mencuri perhatian adalah tari Nyambai, yang dibawakan oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa Lampung angkatan 2023 dan 2024.

Tarian ini berasal dari daerah Lampung Saibatin yang menggambarkan pertemuan antara muli dan mekhanai atau bujang dan gadis dalam acara adat seperti pernikahan, yang berfungsi sebagai ajang perkenalan atau mencari jodoh.

Tari Nyambai sebelumnya sempat ditampilkan dalam Bulan Bagha 2023, namun absen di tahun 2024 dan kini kembali hadir pada 2025.

Dwi Damayanti sebagai salah satu penampil juga mengungkapkan alasan tari Nyambai dipilih kembali dalam gelaran Bulan Bagha tahun ini agar masyarakat, khususnya mahasiswa Pendidikan Bahasa Lampung tidak lupa akan budaya Lampung Saibatin.

Mengingat di Lampung sendiri terdapat 2 daerah besar yakni Lampung Saibatin dan Lampung Pepadun.

“Sebelumnya kami sudah banyak menampilkan seni dari daerah Pepadun, jadi tahun ini kami ingin mengangkat kembali unsur Saibatin,” ujarnya

Dwi juga menambahkan bahwa proses latihan dilakukan selama tiga minggu dengan berbagai tantangan, terutama mengenai jadwal yang saling bertabrakan antar anggota.

Meski demikian, berkat kekompakan dan koordinasi tim yang baik, semua dapat berjalan dengan lancar.

Selain menjadi bentuk pelestarian budaya, berbagai macam penampilan ini juga merupakan bagian dari penilaian mata kuliah yang diambil oleh para mahasiswa di Program Studi Pendidikan Bahasa Lampung FKIP Unila.

Kegiatan Bulan Bagha menjadi bukti nyata komitmen mahasiswa dan civitas akademika FKIP Unila dalam menjaga serta memperkenalkan kekayaan budaya Lampung kepada generasi muda. [Nathania Shakira]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda