Ida dan anaknya, Intan. | Dokumentasi IZI
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Di usia 58 tahun, Ida Herlina, seorang ibu asal Gunung Alip, Tanggamus, sedang menghadapi ujian terberat dalam hidupnya. Di tubuh yang mulai renta, bersarang penyakit yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya: kanker anus.
Sebuah diagnosis yang tak hanya mengejutkan, tapi juga mengubah seluruh ritme hidupnya.
Gejala awal yang ia rasakan muncul perlahan: nyeri di sekitar anus, rasa tidak nyaman saat duduk, dan gangguan buang air besar. Awalnya ia kira itu hanya penyakit biasa. Namun setelah menjalani pemeriksaan lebih lanjut, hasil medis menunjukkan bahwa kanker telah berkembang dan harus segera ditangani dengan serius.
Dengan kondisi fisik yang terus menurun, Ida dirujuk ke RSUD Abdul Moeloek di Bandar Lampung.
Di sanalah ia dijadwalkan untuk menjalani radioterapi sebanyak 33 kali—sebuah proses panjang, melelahkan, dan tentu saja sangat berat bagi pasien seusianya.
Namun dalam perjuangan ini, Ida tidak sendiri. Ia ditemani oleh putri tercintanya, Intan, yang dengan penuh kasih dan kesetiaan mendampingi sang ibu dalam setiap langkah pengobatan.
Intan tidak hanya menjadi pengantar, tapi juga menjadi penguat, perawat, sekaligus sandaran harapan bagi sang ibu.
Perjalanan dari Gunung Alip ke Bandar Lampung bukanlah hal yang mudah. Selain jauh, mereka harus menghadapi jadwal pengobatan yang padat dan tidak menentu.
Selama 33 kali sesi radioterapi, tentu mereka membutuhkan tempat tinggal yang layak dan aman—dan di situlah Rumah Singgah Pasien YBM PLN IZI Lampung menjadi bagian penting dalam perjuangan mereka.
“Alhamdulillah, rumah singgah ini sangat membantu kami. Kami tak perlu pulang-pergi jauh, bisa fokus menjalani pengobatan, dan merasa lebih tenang karena tinggal di tempat yang nyaman,” ungkap Intan dengan suara lembut sambil memegang tangan ibunya.
Rumah singgah ini menjadi rumah kedua bagi mereka. Tak hanya menyediakan tempat tidur dan makanan, tapi juga suasana kekeluargaan yang mendukung secara mental.
Di sana, Ida bertemu dengan pasien-pasien lain yang juga berjuang—menjadikan perjuangannya terasa lebih ringan karena tak dijalani sendirian.
Setiap kali sesi radioterapi dijalani, Ida menguatkan hati. Rasa lelah dan nyeri ia tepis demi harapan untuk kembali sehat, untuk kembali pulang ke rumah, dan bisa menjalani hari-hari dengan lebih baik.
Kisah Ida Herlina adalah kisah tentang ketabahan, cinta seorang anak, dan perjuangan melawan penyakit yang menguras segalanya.
Semoga Allah swt memberikan kekuatan dan kesembuhan terbaik untuk beliau.
Dan semoga Rumah Singgah Pasien YBM PLN IZI Lampung terus menjadi tempat penguat semangat dan pelita harapan bagi setiap keluarga yang sedang menempuh jalan pengobatan yang panjang, seperti Ida dan Intan. []

Tinggalkan Komentar Anda