Gufron Azis Fuadi
Saat mempelajari Alquran, kita akan mendapatkan seakan-akan Alquran adalah kitab sejarah. Karena kisah-kisah sejarah manusia masa lalu banyak diungkap dalam A;quran. Tetapi pengungkapan sejarah dalam Alquran selalu tidak keluar dari konteks fungsinya.
Jika dilihat dari fungsinya, Alquran merupakan sebuah petunjuk (huda li al-anas), penjelas (bayyinat), dan sekaligus pembeda (al-furqan) bagi umat manusia.
Oleh karena itu, meskipun memuat kisah kisah masa lalu atau sejarah, Alquran tetaplah bukan kitab sejarah. Sedangkan pengisahan sejarah manusia dan peradabannya pada masa lampau adalah bertujuan untuk menegaskan fungsi Alquran sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan atas petunjuk tersebut, dan pembeda antara yang benar dan salah.
Sebagaimana firman-Nya dalam Al Baqarah ayat 185:
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran, sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).”
Saat kita membaca Al Fatihah sampai pada ayat “Ihdinash shirathal mustaqim…” sampai akhir surat, misalnya, itu bukan hanya doa (permohonan) tetapi juga penjelasan sejarah model manusia yang dahulu pernah ada agar kita bisa mengambil pelajaran tentang kelompok mana (siapa) yang harus diikuti (mendapat nikmat/petunjuk) dan mana (siapa) yang harus dihindari dan dijauhi (yang dimurkai dan yang tersesat).
Kemudian doa tersebut, kata Amru Khalid, dijawab dalam surat surat berikutnya dalam Alquran terutama surat Al Baqarah yang menjelaskan tentang sifat-sifat manusia dahulu yang “ghairil maghduubi ‘alaihim” sedangkan surat Ali Imran banyak menjelaskan tentang siapa itu yang “adh-dhalin“, mereka yang tersesat.
Sungguh sangat menakjubkan keterkaitan antartema dan tujuan antara ayat dan surat yang satu dengan yang lainnya!
Berbeda dengan buku sejarah yang seringkali ditulis secara subyektif dan penuh mitos sehingga ada ungkapan “sejarah ditulis oleh pemenang”.
Ungkapan ini menyiratkan bahwa narasi sejarah cenderung didominasi oleh sudut pandang pihak yang menang dalam suatu peristiwa, tidak ada tempat untuk narasi pihak yang kalah.
Sementara itu Alquran menulisnya dengan sangat objektif jauh dari mitos yang tidak berdasar dan selalu banyak pelajaran sesuai dengan fungsi Alquran, hudan linnas wabayinat minal huda wal furqan.
Pengungkapan sejarah dalam Alquran juga memberikan gambaran kepada kita bahwa assira’ bainal haq wal bathil atau pertarungan antara kebenaran dan kebatilan itu abadi. Dari mulai kisah tentang kedua anak Nabi Adam Qabil dan Habil, kisah Nabi Ibrahim dan Raja Namrudz, Nabi Musa dan Raja Fir’aun, Jalud dan Thalut, konspirasi keji kaum Yahudi terhadap Nabi Isa, hingga kisah para pemuda Kahfi semuanya menegaskan bahwa pertarungan antara hak dan batil tidak pernah berhenti ila yaumil qiyamah.
Penegasan Allah dalam Al Baqarah ayat 120 menegaskan hal tersebut.
Termasuk pertarungan antara hak dan batil dalam diri kita, dalam skala individu, akan terus berlangsung sampai qiyamah sugra, sampai ajal menjemput.
“Dan janganlah kamu campur-adukkan kebenaran dengan kebatilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” (Al Baqarah: 42)
Ayat ini menegaskan larangan untuk mencampuradukkan antara kebenaran dan kebatilan, serta menyembunyikan kebenaran yang diketahui.
Dan talqin bagi orang yang menjelang kematiannya hakikatnya adalah bantuan dari sekutunya agar dia (yang akan meninggal) mampu memenangkan pertempuran terakhirnya. Karena posisi di hadapan Allah seseorang akan dinilai pada akhir hayatnya.
Wallahu a’lam bi shawab. [Gufron Azis Fuadi]

Tinggalkan Komentar Anda