Gufron Azis Fuadi
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Waktu kecil saya punya tetangga pas sebelah rumah, orang China nonmuslim. Kami bertetangga dengan baik.
Anak-anaknya juga main bola dan badminton bersama dengan kami di belakang dan depan masjid. Punya anjing besar yang dirantai dan selalu menggonggong saat mendengar azan.
Belakang rumah kami adalah masjid, hanya dibatasi tanah halaman kecil tempat biasa kami main potjes, kelereng.
Suatu kali si encik sebelah rumah ngobrol dengan ibu saya kalau dia baru pulang dari Gunung Kawi.
“Ngapain,” kata ibu saya.
“Ya biasalah, seperti orang Islam yang naik haji biar tambah kaya..,” jawabnya.
Ibu saya, “???”
Saya punya kenalan kaya, pengusaha hasil bumi, berkali-kali mau naik haji tapi tidak jadi. Karena setiap niat mau berangkat tahun ini, ndilalahnya kok dapat proyek terus. Sehingga tertunda-tunda.
Padahal waktu itu, sebelum tahun 2008, kapan kita punya uang dan mendaftar haji maka bisa berangkat haji tahun itu juga. Tidak ada daftar tunggu.
Dan akhirnya, kawan ini, sampai meninggal tidak pernah pergi haji atau umrah, bahkan usahanya bangkrut dan meninggalkan banyak utang.
Sebaliknya kawan saya yang lain yang dulu seprofesi dengan saya sebagai PKS (pedagang kambing dan sapi) saat berangkat haji bareng, dia bilang, Pak Gufron tahun ini dagangan saya, saya pasrahkan kepada Allah. Karena saya mau fokus ngurusi ibu dan istri saya yang ibadah haji bareng saya.
Saat memasuki prosesi puncak ibadah haji ketika melaksanakan tarwiyah 8 Zulhijjah di Mina, kawan ini bolak balik beli pulsa (saat itu tahun 2006, belum pakai kuota pulsa).
Saat saya tanyakan, kenapa?
Dia bilang, semua kambing dan sapi saya habis sementara yang pesan masih banyak. Jadi saya terpaksa menelepon teman-teman blantik untuk memenuhi pesanan pembeli kambing dan sapi kurban.
“Padahal seumur-umur saya belum pernah kehabisan stok barang,” katanya.
Kemudian saya katakan, itu karena kamu memasrahkan daganganmu kepada Allah dan bagi Allah adalah perkara yang sangat mudah menggerakkan hati orang untuk membeli daganganmu.
Allahlah yang membolak-balik hati manusia dan Allah juga Zat Yang Maha Pemberi Rezeki. Ditambah dengan niatmu untuk fokus ngurus haji ibumu yang sudah sepuh.
Ada pepatah China mengatakan, urus orang tua mu bagaikan mengurus raja, maka rezekimu akan seperti rezekinya raja.
Sebaliknya, bila menjadikan orang tuamu seperti pembantu, rezekimu nanti akan seperti rezeki pembantu.
Selain itu juga mungkin itu jawaban Allah atas ungkapan doa haji, “wa tijaratan lan tabur...”, dan perniagaan yang tidak pernah rugi, pasti untung.
Di kesempatan lain saya juga bertemu dengan orang yang sedang berhaji di Mekah, bolak-balik minta pulang ke Tanah Air karena teringat usaha panglong kayunya tidak ada yang ngurus.
Begitulah pentingnya memasrahkan diri kepada Allah atas semua yang ditinggalkannya di rumah baik itu keluarganya maupun usaha perniagaannya. Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk kita. Kita harus percaya itu!
Tetapi yang jelas, perjalanan haji berbeda dengan perjalanan wisata biasa yang justru mengurangi simpanan uang kita. Karena haji adalah perjalanan yang tidak pernah rugi. Meskipun belum tentu menjadi semakin kaya seperti orang yang melakukan perjalanan ke Gunung Kawi.
Hal ini boleh jadi karena penggalan doa yang dibaca oleh para jamaah haji seperti di atas, watijaaratan lan tabur..., Dan perdagangan yang tidak merugi… Atau lengkapnya:
“Allahummarzuqna hajjan mabruuran, wa ‘umratan mabruuran, wa sa’yan masykuuraan wa dzanban maghfuuran wa ‘amalan shaalihan maqbuulaan wa tijaaratan lan tabuuran yaa ‘aalima maa fish shudur akhrijnaa minadh dhulumaati ilan nuur.”
Artinya: “Ya Allah karuniakanlah kepada kami haji yang mabrur (baik dan diterima), umrah yang mabrur, sa’i yang disyukuri, dosa yang diampuni, dan amal saleh yang diterima dan perdagangan kami yang tidak merugi, wahai Zat Yang Maha Mengetahui apa yang ada dalam dada, keluarkanlah kami dari kezaliman menuju cahaya (keimanan).”
Seperti dalam tulisan sebelumnya, cerita tentang haji itu tidak pernah ada habisnya. Seperti hajinya al Muwaffaq atau Muhaffaq.
Sebagaimana diceritakan oleh seorang ulama mujahid, Abdullah bin Mubarak.
“Saat saya kelelahan seusai melakukan tawaf dan sa’i haji, saya tertidur. Dalam tidurku saya bermimpi melihat dua malaikat turun dari langit. Salah satunya bertanya pada yang lain, berapa jamaah haji tahun ini? Sekitar 700 ribu, jawabnya.
Kemudian berapa yang diterima, yang mabrur?
Tidak satu pun, kata malaikat yang ditanya. Tetapi karena ada satu orang yang tidak berangkat haji, tetapi Allah menerima hajinya, maka semua yang haji saat ini, diterima (mabrur)…
Siapa dia, kok bisa begitu, bertanya lagi malaikat yang pertama.
Jawab malaikat yang ditanya, dialah al Muwaffaq, tukang sepatu di Damaskus.
Dia, Ali bin al-Muwaffaq, seorang tukang sepatu di Damaskus, yang rela tidak pergi haji demi membantu tetangganya yang kelaparan.
Ali, yang telah 40 tahun menabung untuk biaya haji, merasa tergerak oleh belas kasihan ketika ia mendengar tetangganya tidak bisa makan selama beberapa hari. Ia kemudian memberikan uang tabungannya sebanyak 350 dirham yang sedianya menjadi ONH, diberikan semua untuk makanan bagi tetangganya yang saat sedang bersiap menyantap bangkai ayam bakar yang ditemukan di tempat sampah.
Kemudian Ali bin Muwaffaq mengatakan kepada tetangganya, “Belanjakan uang ini untukmu dan anakmu”.
Sembari dalam hati, Ali berkata, “Ya Allah inilah hajiku, ya Allah inilah hajiku, inilah hajiku…”.
Dan ternyata Allah swt menerima hajinya meskipun ia tidak pergi ke Mekah. Bahkan lantarannya, menjadi sebab mabrurnya jamaah haji yang lain, yang sempat wukuf di Arafah.
Sepertinya Allah lebih rindu kepada hamba-Nya yang seperti Ali bin Muwaffaq daripada yang berkali kali pergi haji dan umrah karena alasan rindu kepada Baitullah.
Wallahua’lam bisawab. [GUFRON AZIS FUADI]

Tinggalkan Komentar Anda