Rafista Deviyanti
Oleh Rafista Deviyanti, Dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unila, Kandidat Phd University of Szeged Hungaria
Saat anak-anak mempelajari bahasa asing, sering kali orang tua memiliki ekspektasi yang tinggi bahwa anaknya dapat segera berkomunikasi menggunakan bahaasa asing tersebut. Orang tua tidak menyadari bahwa anak-anak butuh melewati fase yang disebut “silent period” atau periode diam.
Ini merupakan tahap alami dalam proses pemerolehan bahasa kedua, di mana anak menyerap informasi tanpa banyak berbicara. Mereka mendengarkan, mengamati, dan memproses bahasa baru secara internal sebelum mereka merasa siap untuk mengekspresikannya.
Banyak orangtua dan guru yang khawatir ketika anak mereka tidak segera berbicara dalam bahasa asing yang dipelajari. Akan tetapi, kekhawatiran ini sebenarnya tidak perlu karena silent period ini merupakan bagian penting dari proses pembelajaran.
Anak sedang membangun pemahaman, menyimpan kosakata, dan memproses struktur bahasa baru. James Asher mengembangkan metode Total Physical Response (TPR) yang mengakomodasi silent period sehingga memungkinkan siswa merespons secara fisik tanpa tekanan untuk berbicara.
Hingga saat ini, metode TPR banyak digunakan untuk mempelajari bahasa asing, terutama di kalangan anak-anak usia 3-10 tahun.
Lamanya silent period ini dapat berbeda-beda pada setiap anak, bisa berlangsung beberapa minggu bahkan hingga berbulan-bulan. Anak yang lebih muda (pre-school) cenderung memiliki silent period yang lebih panjang dibandingkan dengan anak yang lebih tua.
Selama fase ini, sangat penting bagi guru dan orang tua untuk tetap memberikan input yang kaya, konsisten dan bermakna tanpa memaksa anak untuk berbicara.
Selama silent period, anak membutuhkan aktivitas yang mendukung pemahaman tanpa menuntut produksi bahasa. Guru dan orang tua dapat menggunakan gambar, gestur, dan intonasi yang ekspresif untuk membuat cerita supaya lebih mudah dipahami.
Berikan kegiatan yang memungkinkan anak merespons dengan gerakan fisik (metode TPR) seperti “touch your nose” atau “jump three times”. Menonton video atau mendengarkan lagu dalam bahasa target dengan konten dan visual menarik juga efektif.
Ccontohnya lagu “Johnny Johnny yes papa” atau “The wheel on the bus” yang sering digumamkan oleh anak-anak. Yang terpenting, semua aktivitas ini harus menyenangkan dan bebas tekanan.
Respons nonverbal seperti mengangguk, menunjuk, atau mengikuti instruksi sederhana menunjukkan bahwa mereka memahami, meskipun belum berbicara.
Tanda-tanda anak telah melalui silent period biasanya dimulai dengan peniruan kata-kata sederhana, dilanjutkan dengan frase pendek, dan akhirnya kalimat lengkap.
Saat anak mulai secara spontan menggunakan kata-kata dari bahasa target dalam percakapan sehari-hari, ini menandakan silent period telah berakhir. Meskipun begitu, transisi ini tidak terjadi sekaligus, tetapi bertahap dan bervariasi tergantung kepribadian anak.
Silent period bukanlah tanda kegagalan, melainkan bukti bahwa proses pembelajaran sedang berlangsung. Ini merupakan tahap transisi yang alami dan produktif yang akan berlalu dengan sendirinya ketika anak sudah siap untuk mengekspresikan diri dalam bahasa baru yang dipelajari. []

Tinggalkan Komentar Anda