Gufron Azis Fuadi
Saat Muhammad bin Abdullah berusia 35 tahun, belum diangkat menjadi nabi, orang orang Quraisy sepakat untuk merenovasi Kakbah.
Sebabnya, Kakbah yang dibangun di masa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sekitar tahun 2000 SM sudah mulai rapuh dan Mekah mengalami banjir besar hingga meluap sampai ke Baitul Haram yang membuat Kakbah sewaktu waktu bisa roboh.
Renovasi Ka’bah dimulai oleh Walid bin Mughirah, kemudian menunggu beberapa hari. Dan kemudian setelah itu ternyata tidak terjadi apa apa (tidak kualat) yang menimpa Walid, semuanya ikut merobohkan.
Dan pembangunannya kembali diarsiteki oleh arsitek dari Romawi yang bernama Baqum Pachomius. Saat pembangunan kembali ini masyarakat Mekah kekurangan dana sehingga menyisakan Hijir Ismail.
Sebabnya karena masyarakat Mekah bersepakat bahwa untuk merenovasi Kakbah ini harus menggunakan dana yang benar benar halal.
Panitia pembangunan tidak menerima dana dari hasil judi, jual beli riba, korupsi atau rampasan dan juga tidak menerima dana dari mas kawin para pelacur.
Dan ternyata sejak dulu mencari dan mengumpulkan dana halal itu memang sulit. Tapi ternyata hal tersebut ada hikmahnya, yaitu kita, yang bukan presiden atau kepala negara, bisa salat di “dalam Kakbah” tanpa melalui pintunya yakni salat di Hijr Ismail.
Dalam hadis yang diriwayatkan Abu Daud, Aisyah ingin salat di dalam Kakbah, namun Rasulullah saw membawanya ke Hijir Ismail dan bersabda, “Salatlah di sini jika kamu ingin salat di dalam Kakbah, karena ini termasuk bagian dari Kakbah”.
Dalam proyek renovasi ini juga Allah menunjukkan kepada masyarakat Mekah bahwa Muhammad yang kelak diangkat menjadi nabi adalah sosok yang kuat leadership-nya, adil dan bijaksana tindakan dan keputusannya.
Hal ini dibuktikan dalam menyelesaikan sengketa tentang siapa yang berhak menempatkan kembali Hajar Aswad ke tempat semula. Saat itu masing masing kabilah sudah berikrar dengan cap jempol darah, eh mencelupkan jarinya ke mangkok berisi darah sebagai pertanda siap tempur sampai titik darah penghabisan.
Tetapi Nabi bisa menyelesaikannya dengan cara damai tanpa pertumpahan darah setetes pun.
Setelah itu Kakbah sempat mengalami pembangunan kembali oleh Abdullah bin Zubair pada tahun 683 M. Setelah dihancurkan oleh Hajaj bin Tusuf Ats-Tsaqafi.
Kemudian dibongkar dan dibangun kembali oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan (692 M) sampai kini.
Sebagai syariat yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim, haji juga dilaksanakan oleh keturunannya dari jalur Nabi Ishaq. Menjelang kelahiran Islam, haji dilaksanakan secara semrawut dan brutal.
Mereka bahkan melakukan tawaf sambil telanjang, menyanyi dan bertepuk tangan.
Menurut hadits riwayat Muslim no. 1185, kalimat talbiyah yang diucapkan kaum musyrikin ketika mereka berhaji pun ditambahkan dengan:
لبيك لا شريك لك، إلا شريكا هو لك، تملكه وما ملك
“Aku menjawab panggilan-Mu, ya Allah; tiada sekutu bagi-Mu, kecuali sekutu yang menjadi milik-Mu; Engkau menguasainya dan ia tidak berkuasa.”
Ungkapan itu dibaca setelah bacaan talbiyah yang kita baca sekarang:
“Labbaik Allahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik, innal hamda wan ni’mata laka wal mulk, la syarika lak“.
“Ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji dan nikmat adalah milik-Mu, dan kerajaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu”
Kakbah adalah bangunan tempat ibadah yang pertama dibangun manusia (Nabi Adam). Kemudian ditinggikan oleh Ibrahim dan Ismail.
Kakbah adalah kiblat umat Islam. Banyak keistimewaannya dalam berbagai tinjauan sudut pandang ilmu pengetahuan.
Tak cukup sehari untuk diceritakan, tak cukup seribu bila dituliskan. Bersyukurlah bagi yang sempat menjadi tamu Allah, datang ke Baitullah.
Jangan sia siakan waktu dengan dihabiskan untuk berbelanja. Bila lelah bersimpuh di depan rumah Nya, datanglah ke tempat bersejarah bagi kelahiran dan perkembangan Islam. Agar kita lebih mencintai Islam.
Saat melihat Kakbah, bangunkan tekad untuk suatu ketika kembali lagi dan bisikkan doa:
“Allahumma zid haadzal bayta tasyriifan wa ta’zhiiman wa takriiman wa mahaabatan, wa zid man syarrafahu wa karramahu min man hajjahu aw i’tamarahu tasyriifan wa takriiman wa ta’zhiiman wa birran.”
“Ya Allah, tambahkan kemuliaan, keagungan, kehormatan, dan kehebatan pada Baitullah ini. Tambahkan juga kemuliaan, kehormatan, keagungan, dan kebaikan untuk orang-orang berhaji atau berumroh yang memuliakan dan menghormati Ka’bah.”
Semoga Allah, dalam sisa ini, memberi kesempatan untuk kembali bersimpuh di depan rumah-Nya, Kakbah Baitullah. Wallahu a’lam bi shawab. [Gufron Azis Fuadi]

Tinggalkan Komentar Anda