Perajin di Berkah Jaya Gerabah. | Wartalampung.id

Wartalampung.id, Natar – Purnama adalah seorang peerajin gerabah di Dusun Sukoharjo, Desa Negararatu, Kecamatan Natar, Lampung Selatan. Ia bekerja di Berkah Gerabah Jaya milik Andre Supriatna.Saban hari Purnama membuat gerabah sesuai dengan pesanan. Setiap hari ia bekerja kecuali Minggu. Hari Ahad pun kadang ia dan teman-teman satu profesinya masih bekerja jika ada yang melakukan kunjungan ke Berkah Jaya Gerabah.
Andre Supriatna berumur 26 tahun yang terlahir dari pasangan Oneng dan Cici yang juga pembuat gerabah. Usaha pembuatan gerabah ini adalah warisan turun-temurun dari keluarganya. Usaha gerabah ini dibuka mulai sejak tahun 2008 oleh ayahnya yang kemudian dilanjutkan oleh Andre hingga saat ini.
Andre dulunya hanya seorang kuli yang ikut bekerja di tempat orang penghasil gerabah juga. Lama-kelamaan pembelajaran dari tempat kerja dahulu membuat Andre bangkit dan akhirnya memikirkan untuk melanjutkan usaha yang telah diwariskan orangtuanya.
Andre memulai melanjutkan usaha gerabah ini sejak tahun 2017 saat ia berumur 20 tahun. Untuk melanjutkan usaha ini bukanlah hal yang gampang. Tapi dengan bantuan dan dukungan orangtua akhirnya Andre semangat melanjutkannya.
Andre melanjutkan usaha ini dengan modal awal Rp25 juta. Kini, omzet dan keuntungan yang ia tangguk melebihi modal awal yang ia keluarkan. Andre kini memiliki 13 orang karyawan, 1 perempuan dan 12 laki-laki.
Untuk pembuatan gerabah ini, Andre mengambil tanah sawah dan membeli di tetangganya dengan harga Rp250 ribu/pikap. Andre bercerita, proses pembuatan gerabah ini ada 6 langkah.
- Pengelolahan Tanah
Gerabah dibuat dari tiga campuran tanah liat yaitu, tanah liat putih, tanah liat merah, dan tanah liat hitam. Ketiga tanah tersebut dicampur dan digiling hingga menjadi lempung. Tanah ini setelah digiling langsung ditutup oleh terpal agar tidak terkena sinar matahari. Jika terkena sinar matahari, tanah ini akan menjadi keras dan harus diolah lagi
- Pembentukan
Proses setelah tanah liat digiling lalu dibentuk sesuai ukuran yang diinginkan. Ada beberapa bentuk untuk pembuat gerabah ini dari pembentukan dasar hingga pembentukan diakhirnya. Teknik lilin adalah teknik yang digunakan untuk pembuatan gerabah. Tujuannya, untuk memperhalus gerabah, meratakan, dan membentuk sesuai yang diinginkan. Dari pembentukan ini biasanya 1 orang pembuat gerabah bisa menghasilkan 20 hingga 100 gerabah per harinya.
- Pengukiran
Ini adalah proses setelah dibentuk lalu diukir sesuai apa yang diinginkan seperti bentuk kelopak bunga, burung hantu, dan lainnya, sesuai model yang diinginkan. Setelah selesai pengukiran kemudian masuk ke tahap penjemuran.
- Penjemuran
Ini adalah proses keempat setelah pengukiran di mana gerabah ini dijemur selama kurang lebih dua hari hingga benar-benar kering.
- Pembakaran
Proses di mana setelah kering kemudian dibakar selama kurang lebih 1 hari 1 malam. Gerabah ini dibakar dengan menggunakan 2 api. Yang pertama dibakar dengan api kecil dan kemudian di akhir dibakar dengan api besar. Jika menggunakan api besar duluan, gerabah tersebut akan mudah hancur. Pembakaran gerabah ini memakai kayu karet.
- Finishing
Setelah pembakaran kemudian masuk ke proses finishing yaitu proses pengecatan gerabah tersebut. Pengecetan dilakukan sebanyak 3 kali.
Gerabah ini memiliki 12 ukuran dan harga jual yang berbeda. Andre menjual gerabah dari harga Rp5.000 hingga Rp200 ribu sesuai dengan pesanan dan ukuran yang diminta. Biasanya gerabah banyak dijual di dalam Lampung dan ada juga di luar Lampung, tetapi lebih banyak di dalam Lampung.
Saat masa pandemi seperti ini, kata Andre Supriatna, penghasilan yang dia dapat meningkat drastis. Ia bisa mendapat keuntungan lebih banyak dari sebelumnya. [Kenny Ayu Putri/Srikandi University]
