Kacamata Adian

Nairobi dan Pujian di Kelas Besar

Nairobi dan Pujian di Kelas Besar

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Lampung Dr Nairobi SE MSi. | wartalampung.id

Salah satu dosen yang cukup berkesan selama saya kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Lampung (Unila) adalah Nairobi. Saya memanggilnya Bang Nairobi atau Bang Nai. Kini ia adalah dekan di fakultas itu.

Salah satu mata kuliah yang ia ajarkan ketika tahun 2000 kepada kami mahasiswa manajemen adalah Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya (BLK). Saya ingat mata kuliah itu karena dari sinilah cerita esai ini bermula.

Tahun itu pula produktivitas menulis saya di Lampung Post cukup baik. Setiap pekan, atau setidaknya dua pekan sekali, ada tulisan yang dimuat. Bahkan, jika beruntung lantaran idenya aktual, bisa empat tulisan.

Semangat menulis tentu karena ada honorariumnya. Satu tulisan diganjar Rp75 ribu sampai dengan Rp100 ribu. Saya masih menulis cerita anak dan resensi juga di Lampost sehingga lumayan punya tabungan di koran itu setiap bulan.

Suatu waktu kami belajar di kelas besar di gedung A fakultas. Mata kuliahnya Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Dosennya ya Bang Nai.

Ia masuk dengan pakaian yang rapi. Baju dimasukkan. Celana kain rapi tersetrika dengan baik. Ia menenteng tas yang pada zamannya banyak digunakan dosen-dosen lain.

Hari itu kami memasuki pertemuan ketiga atau keempat. Ia menjelaskan perihal Bank Indonesia.

Saat memasuki penjelasan soal fungsi Bank Indonesia sebagai lender of the last resort, ia bertanya kepada kami. Siapa yang memahami fungsi ini.

Ia bertanya kepada beberapa orang dengan menunjuk sembarang. Beberapa belum tahu karena memang baru akan dipelajari.

Ia mengedarkan pandangan dan menuju ke saya. Jika kepada yang lain ia tak sebut nama, begitu telunjuknya mengarah kepada saya, ia menyebut nama.

“Kamu Adian Saputra, kan?”

Saya mengangguk. Kaget juga. Soalnya kami belum pernah interaksi atau berkenalan. Saya heran dosen ini tahu nama saya dengan persis.

“Silakan kamu Adian Saputra jawab. Apa itu fungsi BI sebagai lender of the last resort.”

Masih kaget, saya jawab bahwa fungsi Bank Indonesia (BI) sebagai lender of the last resort (LoLR) adalah untuk memberikan pinjaman kepada bank yang sedang kesulitan likuiditas. Fungsi ini bertujuan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional. Kurang lebih begitu saya jawab.

Tanggapan dosen Nairobi justru yang membuat saya kaget.

“Benar kamu Adian. Kalian yang lain, tahu enggak siapa Adian Saputra ini. Tahu? Kita mesti bangga sama Adian Saputra ini. Dia rajin nulis di Lampung Post bawa nama baik kampus kita. Kalau kamu kuliah di kampus di Jakarta, Adian, kamu dapat duitnya dobel. Dari koran kamu dapat honor, dari kampus kamu dapat uang karena kamu sudah bawa nama baik kampus di koran.”

Dipuji begitu, bungah hati saya. Serasa terbang. Teman-teman juga mengangguk-angguk. Beberapa melihat sekilas ke saya.

Nairobi kemudian melanjutkan.

“Saya baca tulisan kamu, Adian. Saya tandai pakai stabilo tulisan kamu, apalagi soal perbankan, soal ekonomi, dan soal Bank Indonesia. Maka itu saya tanya ke kamu dan ternyata kamu bisa jawab.”

Rupanya Bang Nai ini baca semua tulisan saya di Lampung Post. Dugaan saya, mungkin dia cari info soal saya di kampus dan temukan nama saya di daftar mahasiswa yang ambil mata kuliah yang dia ajar.

Dari situ saya akrab dengan Bang Nai. Bagi saya justru makin serius belajar sebelum kelas dimulai.

Saking senangnya diajar beliau, ada satu mata kuliah yang sebetulnya tak wajib saya ambil, saya ambil juga.

Nama mata kuliahnya Ekonomi Moneter. Ini wajib buat anak akuntansi. Tapi karena saya mau menambah pengetahuan dan diskusi lagi sama Bang Nai, mata kuliah itu saya ambil di semester berikutnya.

Nilai untuk mata kuliah yang dia ajar tentu saja A. Masak iya sudah dipuji di muka kelas tak dapat A, hahahaha.

Kami sering diskusi santai usai itu. Bahkan, Bang Nai sudah ber-gua-elu dengan saya. Yang saya ingat kala dia diundang menjadi pembicara seminar nasional ekonomi syariah, dia minta bahan kepada saya.

Lantaran sering mengkliping beberapa berita dan artikel soal itu, saya serahkan semua kepadanya.

“Gua pinjem dulu ya, Adian. Mau narasumber bareng Gubernur BI pekan depan, seminar nasional.”

Saya kadang menemuinya di gedung Pusat Jasa Ketenagakerjaan kampus, tempat dia didapuk juga menjadi pengurus di dalamnya.

Dosen memuji mahasiswa di kelas itu buat saya sejauh ini langka. Apalagi hafal nama mahasiswa.

Itulah sebab ketika saya diminta menjadi dosen tamu di UIN Raden Intan mengajar mata kuliah jurnlistik, saya berusaha menghafal semua nama mahasiswa. Tak hanya itu, juga berusaha berinteraksi dengan mereka. Sehingga ada kedekatan antara dosen dan mahasiswa.

Pelajaran baik dari sewaktu disebut nama dan dipuji oleh Bang Nai berbilang tahun yang lampau, berimbas kepada saya di masa sekarang.

Lama tak bersua, saat kerja di jejamo.com, dapat kabar dia menyandang gelar doktor. Saya mengirim pesan WhatsApp mengucapkan selamat. Dia berterima kasih atas ucapan itu.

Tahun 2017 saya mengadakan diskusi ekonomi. Salah satu pembicara di Hotel Horison itu Bang Nai. Ia senang karena saya menghubunginya lagi. Saya ingin Bang Nai paparkan analisisnya untuk tren ekonomi ke depan. Acara berjalan sukses.

Sekarang Bang Nai adalah dekan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unila. Kampus tempat saya kuliah dulu sudah makin keren.

Beberapa kali kami masih bersua baik di acara kondangan maupun olahraga di lapangan sepak bola Unila. Doa kami untuk Bang Nairobi semoga sukses dan lancar selalu semua aktivitasnya.

Masih suka memuji mahasiswa di kelas enggak, Bang? Tabik.

Kebonjeruk, 20 Maret 2025/20 Ramadan 1446 Hijriah. [ADIAN SAPUTRA]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda