Kacamata Adian

Nasi Kotak dari Pak Rektor

Nasi Kotak dari Pak Rektor

Saya dan Nasrullah Yusuf. | Dokumentasi Pribadi

KENAL Rektor Universitas Teknokrat Indonesia Dr HM Nasrullah Yusuf SE MBA tentu saja diawali dari kedua anaknya. Anak sulung beliau, Dewi Sukmasari, adalah kawan baik sejak di SMAN 2 Bandar Lampung.

Saat saya didapuk ketua umum OSIS, Dewi saya ajak masuk kepengurusan. Dewi juga menjadi ketua majalah sekolah Derap Pelajar (Deppel). Dewi juga ketua pertama ekskul cheerleader.

Cheer? Ya benar. Soal Dewi saya ingin mendedahkan dalam tulisan lain.

Anak kedua beliau, Mahathir Muhammad, jaraknya dua tahun di bawah saya. Waktu saya ketua umum OSIS, angkatan Mahathir masuk. Sudah pasti mereka yang masuk kala itu kenal dengan saya. Angkatan lulus Mahathir dkk ini tahun 1999.

Kini banyak dari angkatan ini yang sedang berada di puncak karier. Selain Mahathir, masih ada Kepala Dinas Pendidikan Lampung Thomas Amirico, Kepala Dinas Pendidikan Tulangbawang Barat Budiman Jaya, dan Kepala Dinas Pendidikan Way Kanan Machiavelli.

Masih ada juga AKBP Dody Wira Wijaya yang kini bertugas di Polda Riau. Juga ada Muhammad Suhada yang kini anggota DPRD Bandar Lampung. Soal Mahathir juga akan saya tuliskan dalam kesempatan lain.

Balik ke Pak Nasrullah. Waktu masih aktif mengurusi adik-adik di OSIS dan Rohis, kami para alumni sering main ke Teknokrat.

Dahulu, kisaran akhir 1990-an, lokasi masih di Jalan Kartini. Menempati ruko megah persis di belakang rumah Pak Nasrullah.

Kalau kami main dan menumpang ngetik di Teknokrat malam-malam, Pak Nasrullah selalu membelikan kami makanan. Pernah nasi goreng, sering juga uduk. Beliau ramah dan dermawan.

Persinggungan dengan beliau tentu di kampus. Ia adalah dosen saya di Fakultas Ekonomi Universitas Lampung (Unila). Kini nama fakultas ditambahkan ”bisnis” sehingga jadi fakultas ekonomi dan bisnis.

Dua mata kuliah yakni Manajemen Pemasaran I dan Kewirausahaan diajar Pak Nasrullah. Doi ini lulusan Unila juga dan mendapat gelar MBA dari Michigan University. Bahasa Inggrisnya oke. Kalau mengajar enak.

Waktu kenal beliau di kampus, wabilkhusus awal tahun 2000-an, mata kuliah yang ia ajar adalah kewirausahaan. Kebetulan kala itu semester pendek.

Masa itu pula gedung Teknokrat di Jalan Zainal Abidin Pagaralam, seberang MBK kalau sekarang ini, dibangun.

Saya dan Pak Nasrullah akrab di kelas. Apalagi pendapat beliau kerap saya kutip dalam tulisan opini yang saya kirim ke Lampung Post. Di kelas beliau juga sering bertanya kepada saya. Kadang ia bertanya.

”Adian, berapa kurs dolar hari ini.”

Karena belum baca koran, saya suka gelapan juga.

”Masak penulis di Lampost enggak tahu kurs hari ini, hahahaha.”

Belajar di kelas yang diajar beliau buat saya menyenangkan. Ada banyak perspektif baru yang ia kenalkan.

Soal disiplin dalam waktu dan berpakaian. Ikut kelasnya mesti pakai kemeja dan bersepatu. Jangan sesekali masuk kelas dengan kaus oblong meski bagus dan sepatu-sandal yang kala itu lumayan tren.

Semua mesti pakai sepatu dan berkemeja. Mesti rapi dan kinclong.

Pak Nasrullah juga memacu kami untuk berpikir kreatif dan inovatif. Maka itu waktu tugas kelompok mata kuliah kewirausahaan, kami membuat produk yang kreatif.

Saya dan kawan-kawan satu kelompok, Esti Malasofia, salah satunya, membuat ide membuat jilbab yang langsung jas hujan. Jadi kalau hujan, tak mesti ada tambahan jas. Cukup jilbab yang dipakai itulah.

Rupanya ide kami di kelas itu dibawa Pak Nasrullah ke kelas magister manajemen yang juga ia asuh. Ia menantang para calon magister untuk bisa punya ide seperti kami yang sarjana ekonomi pun belum.

Kadang saat ia menunggu mobil Corolla-nya dipanaskan, saya mendekatinya sekadar ngobrol. Saya tidak tahu pasti apakah Bapak tahu saya adalah kawan kedua anaknya. Obrolan di kampus seputar tulisan, mata kuliah, dan gedung baru Teknokrat yang sedang ia bangun.

Saya ingat betul, mungkin karena nyaman mengobrol, dia bilang nominal membangun gedung itu.

”Konsepnya Eropa Timur, Adian. Bapak juga dapat pinjam kok itu bangun gedung.”

Kami tertawa.

Seingat saya, selepas perkuliahan, saya hanya satu-dua kali bertemu beliau.

Saya baru ketemu beliau lagi saat pandemi covid-19 tahun 2021. Lokasinya di Gelanggang Mahasiswa kampus Teknokrat. Waktu itu media yang saya dirikan, wartalampung.id, bekerja sama dengan Teknokrat sebagai salah satu mitra media massa kampus ini.

Momentumnya saat vaksinasi bekerja sama dengan TNI dan Polri. Sudah tentu semua pakai masker.

Maka begitu bertemu beliau, saya membuka masker dan mencium tangannya dengan takzim. Dewi mendampinginya.

Saat saya sebut nama, ia berhenti sebentar dan memperhatikan.

”Adian….Adian Saputra.”

Saya jawab iya. Dewi kemudian menegaskan, ini Adian mahasiswa Bapak.

Dari situ kami berbincang. Itulah juga momentum saya acap datang ke Teknokrat untuk melakukan liputan kegiatan.

Jika merujuk tahun 2021 awal kerja sama sampai dengan 2025 kala tulisan ini dibuat, sudah empat tahun komunikasi berjalan lagi.

Pak Nasrullah rupanya mengingat dengan baik saya kala di kelas dahulu. Kadang ia bercerita dengan rekan-rekan jurnalis yang lain, bilang kalau Adian ini kalau kuliah duduk depan. Aktif menulis di Lampung Post, dan sebagainya.

Saking seringnya nama saya disebut, waktu acara mahasiswa, nama saya tiba-tiba disebut Bapak.

”Itu Adian Saputra kan? Tuh yang di belakang. Itu mahasiswa saya waktu di ekonomi Unila. Dia rajin menulis di Lampost. Kalau kuliah duduk depan. Sekarang jadi jurnalis.”

Momentum kayak begitu bukan sekali-dua, melainkan sering.

Satu kesempatan yang menurut saya menarik dan membuat saya bungah tentu saja yang saya jadikan dalam judul tulisan ini.

Suatu waktu ada kegiatan besar di kampus Teknokrat. Saya dan beberapa jurnalis datang liputan.

Usai liputan kami biasanya duduk di lobi Rektorat. Ada jatah nasi kotak yang mesti kami ambil.

Pak Nasrul sedang makan di meja dengan beberapa tamunya. Ada istri beliau juga, Hj Hernaini SS M.Pd.

Usai urusan beres, kami pamit. Khusus saya karena merasa menjadi anak beliau kala di kampus, tentu saja pamitan langsung kepadanya.

Saya menghampiri Bapak yang sedang makan. Saya tepuk pelan lengan beliau.

”Pak, Adian pamit ya.”

Begitu tahu saya yang pamitan, Pak Nasrul berdiri.

”Adian sudah makan? Ini bawa nasi kotak ya. Bawa buat anak-anak di rumah ya.”

Saya rikuh. Tak enak. Karena dilihat banyak orang. Soal nasi kotak saya sudah pegang satu. Ini masih mesti terima dua nasi kotak langsung dari Bapak.

”Sudah, Pak, sudah dikasih ini sama Mbak Wiwin.”

”Sudah, enggak apa-apa, bawa aja. Buat anak-anak.”

Akhirnya diberilah plastik kresek merah untuk membawa dua nasi kotak itu.

Saya kemudian mencium tangan beliau dengan takzim lalu pamit.

Itu satu cerita. Masih banyak cerita lain.

Kadang kalau yang liputan tak ramai, ia mengajak mengobrol. Saya sesekali saja menimpali. Selebihnya mendengar saja karena memang menarik.

Yang khas, karena pernah kasih tahu istri saya, Sekar, bekerja di inewsTV, ia malah lebih banyak ingat itu.

Kadang kalau ada tamu dari luar dan saya mendampingi, dia kenalkan saya juga.

”Ini Adian, jurnalis. Dulu mahasiswa saya. Istrinya di inewsTv.”

Bapak, mah, malah nama media saya jarang kesebut. Ya wajarlah kalah nama sama media massa arus utama nasional, hahahaha.

Sehat-sehat ya, Pak. Terima kasih atas perhatiannya selama ini. Kangen nasi kotak dari Bapak.

Hajimena, 1 Ramadan 1446 Hijriah. [ADIAN SAPUTRA]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda