Bandar Lampung

Diskusi Dosen FDIK UIN Raden Intan Lampung Gagas Dakwah Komprehensif dan Konseling Virtual

Diskusi Dosen FDIK UIN Raden Intan Lampung Gagas Dakwah Komprehensif dan Konseling Virtual

Diskusi Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Raden Intan Lampung. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Bandar Lampung—Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Raden Intan Lampung Abdul Syukur mengatakan, dakwah harus mengikuti perkembangan zaman. Menurutnya, berdakwah bukan hanya tugas Umat Islam yang memiliki dasar pendidikan keagamaan, sebab makna dakwah kini lebih luas.

Ahli apa pun dapat berdakwah melalui keahlian dan skil yang dimiliki. Perumpamaan yang digambarkan, misalnya seorang ahli teknologi dapat melakukan dakwah dengan mengemas dan menyiarkan konten keislaman melalui media digital.

Ia menjelaskan, dakwah komprehensif adalah kajian dan kegiatan dakwah yang mencakup berbagai aspek pendekatan, seperti ilmu agama, sosial, ekonomi, politik, dan budaya.

Tujuannya, meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang ajaran Islam (pesan dakwah) yang moderat (wasathiyah) dalam upaya mengembangkan masyarakat yang beriman, berilmu, dan beramal saleh guna memperoleh kebahagiaan hidup di dunia dan akherat.

Demikian kata Abdul Syukur dalam Diskusi Dosen Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Jumat (21/2), di ruang arapat dekanat setempat.

Kegiatan ini menghadirkan dua pemateri yakni Abdul Syukur dan Anisa Mawarni, dosen FDIK. Tampak hadir Wakil Dekan I Mubasit, Kaprodi dan Sekprodi Komunikasi dan Penytiaran Islam (KPI) Khairullah dan Ade Nur Istiana.

Kemudian, Kaprodi dan Sekprodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Mansur Hidayat dan Zamhariri. Lalu Kaprodi dan Sekprodi Bimbingan Konseling Islam (BKI) Sri Ilham Nasution dan Umi Aisyah.

Tampak hadir pula para dosen antara lain Sri Wahyuni, Nasrul Efendi, Fiqih Amalia dan David Saputra.

Syukur mengatakan, dalam kajian akademik dakwah perlu direkonstruksi ulang. Ilmu dakwah dalam pemaknaan dan implementasi memiliki pengertian dan pandangan yang bebeda jika dilihat dari sudut pandang kajian Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Pengembangan Masyarakat Islamn (PMI), Manajemen Dakwah (MD), Bimbingan dan Konseling Islam (BKI).

Dalam perspektif KPI, definsi dakwah adalah proses penyampaian pesan Islam dengan menggunakan media dan metode tertentu oleh da’i (mubaligh, mu’alim, jurnalis, presenter, host) kepada sasaran dakwah (mad’u: khalayak, public) sehingga mereka memiliki perubahan pikiran, sikap, dan perilaku sesuai dengan ajaran Islam dengan tujuan mereka memiliki peningkatan iman, amal saleh dan akhlak agar mereka bahagia di dunia dan akhirat.

Penyampaian pesan dakwah dengan Penyiaran Islam dan Komunikasi Islam dalam konteks milenial, dibutuhkan penyesuaian label, nama, brand misalnya Penyiaran Islam dengan nama Digital Penyiaran, Komunikasi Digital sehingga lebih menarik dan diminati oleh generasi milineal memilih Prodi KPI.

Kemudian dalam perspektif PMI, definsi dakwah adalah proses perubahan sosial menggunakan pendekatan dan strategi tertentu yang bersumber dari ajarah Islam secara testual dan kontestual untuk melakukan pemberdayaan dan pengembangan masyarakat dalam semua aspek kehidupan berbasis nilai-nilai Islam yang bersinergis dengan budaya lokal (local wisdom/al-‘urfu) untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akherat.

“Dalam konteks PMI, ajaran Islam (pesan dakwah) sebagai sumber perubahan, sumber inspirasi, dan sumber aspirasi bagi masyarakat dalam melakukan pemberdayaan dan pengembangan kehidupan. Dalam perspektif milenial, Prodi PMI melakukan brandy dengan nama Kesejahteraan Sosial, Pemberdayaan Masyarakat, Pengembangan Sumber Daya Sosial, Pemberdayaan Ekonomi Digital, dan lainnya agar generasi milenial memilih Prodi PMI,” ujarnya. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda