Kacamata Adian

Esai untuk Eva Dwiana

Esai untuk Eva Dwiana

Eva Dwiana dan penulis. Foto diambil tahun 2017 usai pembukaan Yamet Hatori Shadow Teacher Course.

Dalam sebulan terakhir sudah beberapa kali Bandar Lampung kebanjiran. Dalam beberapa kali banjir itu kebetulan Wali Kota Eva Dwiana tidak berada di kota ini.

Waktu itu sedang umrah, kali ini sedang ikut retreat di Magelang bersama ratusan kepala daerah lain se-Indonesia mengikuti instruksi Presiden Prabowo.

Namun, menariknya, sebelum ikut retreat itu, Eva sempat meresmikan Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Siger Milenial.

Jembatan ini menghubungkan kantor Pemkot dan Masjid Al Furqon, Lungsir. Duit membangun jembatan itu mencapai Rp20,5 miliar.

Sebelum banjir terakhir kemarin dan dua hari lampau, sempat pula ramai bahwa pemda di kota ini akan membangun kereta wisata gantung.

Saya tak ingin berpanjang kata dalam esai kali ini. Desakannya tidak banyak.

Segeralah pulang untuk melihat kota yang Anda pimpin. Tak usah diteruskan rencana membangun kereta wisata gantung itu.

Rakyat jelas tak butuh itu. Yang sekarang dibutuhkan adalah jaminan bahwa banjir ini tidak lagi menimpa Bandar Lampung.

Anggaran yang ada diposkan saja ke alokasi yang superurgen. Salah satunya untuk penanganan banjir.

Memang rumit mengelola Bandar Lampung ini. Tapi namanya penguasa tentu punya kekuatan untuk itu. Itulah fungsi kami punya pemimpin.

Tugas pertama, yang taktis, adalah kerahkan semua kekuatan untuk membersihkan selokan besar di jalan-jalan utama dan siring di semua lokasil. Sisir lokasi yang paling parah. Bisa dimulai dari Panjang dan sekitarnya.

Waktu zaman Herman HN, intensitas hujan juga tinggi. Banjir ada, tapi tidak separah sekarang.

Saya ingat Herman HN sering mengerahkan semua anak buahnya untuk bersih-bersih saluran air di Jalan Pramuka, Jalan Zainal Abidin Pagaralam, dan jalan-jalan protokol lain.

Sampah yang berhasil dikeruk luar biasa banyak. Jika hujan turun lagi, dampaknya tidak separah sebelum ada tindakan.

Tugas kedua, menciptakan banyak titik resapan air. Pemkot bisa meminta pengelola usaha di jalan-jalan utama dengan membikin titik resapan sehingga bisa meminimalkan peluang banjir.

Juga warga diminta ikut bantu bikin titik serapan air. Biopori adalah yang paling mikro. Bikin yang lebih gede juga tak apa. Malah tambah bagus.

Memang tak bakalan serta merta menghilangkan banjir. Tapi itu lumayan mengurangi dampak hujan deras yang berujung banjir.

Ketiga, coba tengok beberapa kali di dalam kota yang mengalami penyempitan karena pembangunan. Baik itu pembangunan rumah oleh warga maupun pemilik tempat usaha.

Penyempitan itu membuat air tak mengalir lancar. Debit yang ada tak bakal sanggup ditampung kali yang lebarnya sudah menciut jauh.

Satu lagi, izin-izin pembangunan gedung baru di kota ini mesti dilihat betul soal akses airnya. Jangan sampai memanfaatkan sungai atau kali yang sudahlah kecil makin diperkosa untuk kepentingan usaha.

Satu lagi keinginan rakyat adalah soal jalan. Warga itu simpel. Dia tidak usah banyak dibantu urusan-urusan lain. Perbaiki saja jalan.

Kalau jalan sudah oke, orang kemana-mana juga enak. Kendaraan motor dan mobil bisa melaju dengan enak. Tak terganggu ban masuk lubang yang dalam sampai bikin kendaraan rusak.

Di dalam kota ini, bahkan di jalan protokol, lubang sudah biasa kasatmata. Bahkan di jalan besar dalam kota banyak titik yang rusak. Ini belum lagi kalau memasuki jalan lingkungan.

Itu saja keinginan warga. Soal uang kesehatan, sebagian besar warga sudah bisa bayar BPJS kesehatan secara mandiri.

Soal pendidikan, tak usah gembar-gembor gratis pun, banyak yang masih bayar. Sejauh ini rakyat bahkan kelas prasejahtera sekalipun masih bisa bayaran anak sekolah meski kembang kempis.

Soal pekerjaan, juga tak usah juga dibantu ini dan itu. Soalnya, memang cari kerja juga susah.

Yang sarjana juga banyak belum bekerja. Tapi rakyat halulyakin bisa dapat rezeki dari Tuhan dengan beragam cara halal.

Yang rada rumit mau kami kerjakan sendiri ya dua itu. Menangani banjir dan jalan rusak.

Kalaupun ada jalan yang diperbaiki swadaya, usianya jelas tak bakalan lama. Sebab, uang perbaikan dari sum-suman warga tentu tak sebesar duit APBD.

Semoga ke depan Bandar Lampung ini makin bagus. Setidaknya jalan makin bagus dan banjir bisa diminimalkan. Kalau hilang sama sekali, apalagi dalam masa pemerintahan kedua Eva Dwiana ini rasanya mustahil.

Tapi mengurangi dampak banjir dan mengurangi titik banjir, itu insya Allah bisa. Asal mau saja. Anggaran ada, personel ada. Simpulannya, jangan teruskan rencana kereta gantung wisata itu.

Fokus pada penanganan banjir dan perbaikan jalan rusak. Itu saja. Kami tahu kemampuan terbatas. Toh Tuhan pun tak memberatkan hambanya dengan sesuatu yang si hamba tak bisa mengerjakan.

Satu lagi sebelum lupa, waktu pilkada 27 November tahun lalu, saya mencoblos Eva Dwiana. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda