Saya bersama Sudarmono (kanan) saat bertemu Ketua DPRD Lampung Selatan Hendry Rosadi (tengah) tahun 2017. | Dokumentasi

RUMAH Sudarmono di Gang Suparman, Tanjungseneng, Bandar Lampung, memang enak dijadikan tempat bersantai. Berandanya yang luas enak dijadikan destinasi ngobrol dengan si empunya rumah. Beberapa pohon buah-buahan dengan batang besar membuat suasana halaman rumah teduh nan rindang. Halaman depannya masih muat dipasang meja pingpong.
Ada satu ruang di dalam sebelum menuju ruang tengah yang biasa saya dan beberapa teman gunakan untuk bekerja. Tuan rumah menempatkan beberapa komputer kerja di sini.
Rentang antara 2017 sampai 2018 saya lumayan akrab dengan ruangan ini. Beberapa majalah yang dikerjakan Sudarmono dilimpahkan kepada beberapa teman, termasuk saya. Ada saya, Chairil Anwar, dan Irsyad. Khasnya, kami berempat, plus Sudarmono tentunya, adalah alumnus Soeta 108–sebutan lumayan akrab Harian Umum Lampung Post. Soeta itu akronim dari Soekarno-Hatta, nama jalan persis di muka kantor koran paling tua di Lampung itu. Dan 108 adalah nomor alamat kantor.
Saya biasa menyapa tuan rumah dengan sapaan Mas Dar. Beberapa kawan lebih sreg memanggilnya Lek Dar. Kadang ada juga yang menyapanya Pak Darmono.
Waktu saya masih kuliah dan jadi wartawan kampus, suatu kali mengikuti pelatihan jurnalistik di FISIP Unila. Yang mengadakan acara Lembaga Penerbitan Mahasiswa Republica. Sesi menulis feature diisi wartawan Lampung Post yang juga sastrawan Iswadi Pratama.
Saat Iswadi Pratama menyampaikan materi, ia menyebut satu nama yang saya ingat dengan jelas. Iswadi bilang begini kira-kira, “Ada di kantor kami seorang penulis feature yang bagus. Pendidikannya tidak tinggi hanya sampai SMA. Tapi tulisan feature-nya bagus sekali. Namanya Sudarmono.”
Sebelum Iswadi ngomong begitu, nama Sudarmono sering saya baca. Sebagai pembaca Lampung Post sejak masih SD, dan intensif sejak kuliah, nama Sudarmono kerap saya baca di bagian akhir tulisan yang detail menceritakan yang kemudian disebut jenis tulisan feature.
Kala saya bekerja di Lampung Post pada 30 September 2004 sampai dengan 16 Desember 2014, interaksi dengan tokoh utama esai ini lumayan akrab.
Pada 2013, saya ditempatkan redaksi di desk Minggu. Tugasnya mengurusi halaman Lampung Post edisi hari Minggu. Saya asisten redaktur, sementara Mas Dar redakturnya. Kami pasangan yang cocok untuk mengisi halaman Minggu. Tak hanya soal keredaksian, beberapa kerjaan seseran juga sering kami kerjakan bareng.
Kerja kami kala itu kilat. Khususnya sih saya. Beberapa halaman yang ditugaskan kepada saya, biasanya sudah selesai pada hari Kamis, padahal halaman baru di-setting itu hari Sabtu. Kebetulan tukang setting-nya Irsyad, sahabat yang juga sudah saya angap saudara sendiri.
Bekerja untuk edisi Lampung Post minggu buat saya menyenangkan. Kami tidak mesti ke kantor tiap hari. Targetnya jelas, Sabtu semua halaman sudah siap ditata letak.
Pernah suatu kali, Mas Dar mengajak saya mengisi pelatihan jurnalistik di SMAN 1 Way Jepara, Lampung Timur, hari Sabtu. Hari Kamis dia telepon.
“Halaman tolong hari ini bereskan semua. Sabtu kita ke Way Jepara ngisi pelatihan. Ada honornya.”
Saya bersicepat mengerjakan. Hari Jumat semua halaman beres. Kami akan tenang ke Way Jepara hari Sabtu pagi sampai sore. Begitu terima honor, Mas Dar bilang “bakdu”. Saya baru ngeh maknanya bagi dua. Alhamdulillah. Rezeki enggak kemana. Pakem kami, “kalau sabar mah insya Allah”.
Waktu Mas Dar naik haji sekitar tahun 2014, saya ketiban kerjaan dobel. Ya halaman minggu mesti saya tangani sendiri meski kantor menugaskan Padli Ramdan membantu saya. Tugas keduanya, Mas Dar meminta saya menyelesaikan buku Bupati Way Kanan kala itu Bustami Zainudin. Judulnya Si Belang. Waduh, berabe urusan.
Soal halaman minggu saya kerjakan sendiri tidak masalah. Hari Kamis saban minggu semua tulisan sudah kelar dikerjakan. Yang agak runyam ini soal buku. Saya kan masuk belakangan. Meski Mas Dar sudah menjelaskan teknis menyelesaikan buku sampai terbit, bahkan saya sudah dipertemukan dengan Bustami Zainudin, tetap saja urusan ini bikin pening kepala.
Alhamdulillah sebelum Mas Dar pulang haji, semua kerjaan beres. Ada riak-riak sedikit soal kerjaan, tapi secara umum oke-oke saja.
Yang tidak saya sangka, saya diberi honor lumayan besar untuk buku itu. Kalau ditotal sampai sepuluh jutaan rupiah mah lebih.
Saat jelang Idul Fitri, Mas Dar memanggil saya. “Ini untuk Nuh,” kata dia menyebut nama anak sulung saya. Ia menyerahkan amplop. Tidak kosong tentu. Saya buka semenit kemudian, isinya lima ratus ribu rupiah. Nayamul aguj—baca balik.
Saya cek ke beberapa kawan asisten redaktur di kantor, ada enggak redaktur mereka yang kasih duit kepada asisten redakturnya, alhamdulillah enggak ada.
Untuk beberapa kerjaan, saya dan Mas Dar memang sehati. Terutama urusan duit, hahaha.
Kenangan di Gang Suparman, lokasi rumah Mas Dar, memang menyenangkan. Setiap kali azan zuhur berkumandang, kami ke masjid yang jaraknya sepuluh langkah dari rumahnya.
Usai salat, kami biasanya makan siang bareng. Menu lengkap di meja makan. Kalau rada kurang, tinggal ke warung depan untuk membeli kerupuk. Kadang kalau beruntung ketemu anak pemilik warung yang lumayan sinam–baca balik.
Habis majalah selesai cetak, biasanya ada pesan dari Mas Dar di WhatsApp. Yang bikin gembira ada foto struk bukti transfer. Kadang jumlahnya 1 juta rupiah, kadang 1,5 juta rupiah. Pernah juga sampai 2,5 juta rupiah. Siapa enggak senang ngetem di rumah beliau di Gang Suparman kalau kayak gini ceritanya.
Kata Mas Dar, Suparman itu kakak iparnya. Dulunya Suparman ini mantri sunat. Saking terkenalnya, gang masuk rumah Suparman ini dikasih nama si empunya nama. Jadilah sampai sekarang dikenal sebagai Gang Suparman.
Kalau Anda naik flyover terusan Jalan Kiai Maja, Way Halim, begitu turun, lepas sekitar 50 meter, di kanan jalan ada Gang Suparman. Ada semacam gapura di mulut gang. Mudah kok mencarinya. Gangnya lumayan lebar. Kalau dua mobil amprokan ya dua-duanya bisa lewat asal pelan-pelan.
Tadinya esai ini mau saya kasih diksi “Sudarmono” pada judul. Tapi enggak jadi karena kurang enak aja jadi judul tulisan esai. Kalau yang ini kan lumayan enak didengar dan diucap. Khawatir juga kalau ada nama orang yang masih hidup nanti dikira kultus, hahaha.
Itulah kenangan saya tentang Gang Suparman ditambah sana sini supaya agak panjang dan layak jadi bacaan yang menyenangkan di akhir pekan. Semoga Mas Dar sekeluarga diberikan keberkahan oleh Allah Swt, termasuk juga seluruh warga yang berdiam di Gang Suparman.
Semoga juga Mas Dar segera punya momongan—cucu dalam artian bukan anak ya. Oh iya, saya masih nunggu kok transferan dari Gang Suparman. [Adian Saputra]
