Berita Foto Ruwajurai Bandar Lampung

Catatan Detti Febrina Alumnus Smanda Bandar Lampung untuk Siswa Afirmasi

Catatan Detti Febrina Alumnus Smanda Bandar Lampung untuk Siswa Afirmasi

Detti Febrina (tiga kanan) bersama sejumlah siswa Smanda. | Dokumentasi

Detti Febrina (tiga kanan) bersama sejumlah siswa Smanda. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Jumat pagi itu, sekalian mengantar anak bujang sekolah, saya jumpa 47 siswa baru almamater tercinta SMAN 2 Bandar Lampung jalur afirmasi.

Tidak terasa mata merebak menyimak sambutan Bapak Kepal Sekolah Hendra Putra dan doa Pak Guru Arief, Ketua Masjid Nurul Hidayah Smanda.

Intinya menguatkan, menyemangati, mengingatkan untuk bersyukur dengan serius belajar sampai lulus dan lanjut perguruan tinggi.

“Jangan pedulikan hinaan orang yang bilang ngapain sekolah. Sekolah enggak penting. Buktikan keadaan keluarga kalian tidak menghalangi untuk berprestasi,” demikian Pak Kepsek.

Afirmasi, bagi yang belum familiar, adalah sebutan untuk jalur penerimaan siswa dari kalangan ekonomi tidak mampu pun penyandang disabilitas.

Semua sekolah negeri wajib menyediakan kuota ini sebesar 15 persen dari total jumlah penerimaan siswa.

Saya sendiri dapat true story anak-anak afirmasi ini yang sedih-sedih. Misalnya ada yang orang tuanya masih ada, tapi diasuh nenek dengan keadaan ekonomi yang nelangsa.

Tahun ini Bu Guru Rita Aprilyawati, notabene panitia PPDB Smanda yang survei langsung kondisi calon siswa, menggagas program khusus untuk anak-anak potensial ini.

Mereka wajib belajar ngaji atau kerohanian, diberi les gratis, ada pembinaan talent agar punya skill sekiranya memutuskan enggak lanjut kuliah.

“Ini beranjak dari pengalaman yang lalu, anak afirmasilah yang tidak naik kelas. Anak afirmasi yang dikeluarkan dari sekolah karena sering bolos, enggak ada semangat lanjutkan sekolah,” terang guru fisika dan pembina olimpiade kebumian ini.

Untuk awalan, ada uang donasi Rp65 ribu per anak untuk alat sekolah.

“Nanti kalau program sudah jalan, sesekali bantuan ilmu dari alumni diperlukan, ya. Yang dokter, yang psikolog, yang guru sains, dan IPS.”

Walau sepanjang sekolah mereka dibebaskan dari segala biaya baik SPP maupun uang komite, biaya lain-lain di tengah aktivitas belajar mengajar pastinya ada saja.

Waktu saya tanya soal seragam yang nominalnya lumayan (lebih dari dua jutaan untuk 10 item), Bu Rita bilang, “Iya, benar. Mereka biasanya cari baju bekas siswa yg udah tamat.”

Tapi untuk ini OSIS sudah buat program yaitu siswa yang tamat menyumbangkan seragamnya.

“Nanti siswa yg membutuhkan bisa menghubungi Waka kesiswaan atau pembina OSIS.”

Atau soal gadget dan sambungan internet yang rasa-rasanya hampir wajib untuk saat ini.

“Siapa di sini yang enggak punya hape? Ayo enggak apa-apa, enggak usah malu sama Bapak,” tanya Pak Kepsek Hendra yang juga Ketua MKKS SMA Provinsi Lampung.

“Atau enggak punya kuota? Nanti kami upayakan bantuan kuota ya karena internet sekarang penting untuk pembelajaran,” janji Pak Hendra.

*

Pagi itu saya menyaksikan anak-anak pintar yang ditakdirkan tidak seberuntung teman-teman mereka yang dimanja privilege. Tampak dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan.

“Sekarang bantuan perlengkapan sekolah untuk yang kelas X. Pekan depan insya Allah untuk yang kelas XI dan XII (seluruh siswa afirmasi Smanda tahun ini berjumlah 133 siswa). Ayo dibantu, ya,” pungkas Bu Rita.

Bagi teman-teman Smanda yang tergerak untuk berkontribusi, silakan langsung menghubungi Bu Rita di +62 857-6893-5022, BSI norek 7133054671 atas nama Rita Aprilyawati.

Detti Febrina, Smanda angkatan 1994. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda