Berita Foto Opini

Opini: Segudang Masalah di Film ‘Vina: Sebelum 7 Hari’

Opini: Segudang Masalah di Film ‘Vina: Sebelum 7 Hari’

Ilustrasi.

Ilustrasi.

Oleh Sekar Sari Indah Cahyani (Jurnalis)

Dalam sepekan film ‘Vina: Sebelum 7 Hari’ sudah ditonton lebih dari 3 juta orang. Penonton diprediksi akan terus naik, seiring dengan ramainya perbincangan film yang diproduksi PH Dee Company tersebut.

Di tengah kesuksesan secara komersial, menurut saya film ini memiliki banyak masalah. Diklaim sebagai film ‘biopik’, karya sutradara Anggy Umbara ini justru mengeksploitasi kasus nyata pemerkosaan dan pembunuhan terhadap seorang remaja di Cirebon pada 2016.

Berpatokan dari berbagai review, film ini menampilkan adegan pemerkosaan dan penyiksaan terhadap korban secara eksplisit dan brutal. Adegan ini tentunya dapat memicu trauma kekerasan kepada penonton atau korban lainnya.

Di berbagai pemberitaan, Anggy Umbara mengatakan jika film ini dibuat untuk meningkatkan kesadaran akan kasus tersebut, agar tidak ada lagi korban serupa.

Padahal ada banyak pilihan jika memang film ini bertujuan untuk “mengedukasi”. Tahun lalu, Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI) Lampung menggelar diskusi sekaligus nonton bareng film ‘;She Said’. Film drama yang diangkat dari buku berjudul sama karya reporter Jodi Kantor dan Megan Twohey.

Meski mengangkat investigasi New York Times yang membongkar pelecehan dan kekerasan seksual oleh produser Harvey Weinstein, adegan kekerasan seksual tidak ditampilkan secara vulgar. Adegan yang bisa memicu trauma itu ditampilkan secara simbolis. Sequence wawancara korban juga tidak mengganggu karena ditampilkan secara wajar.

Memang pada akhirnya, kasus Vina kembali muncul dan mendapat atensi publik. Disebutkan juga jika kasus ini akan kembali diusut karena tiga pelaku lainnya belum tertangkap.

Tapi hal ini tidak mengurungkan harapan jika sebenarnya ‘Vina: Sebelum 7 Hari’ bisa diproduksi dengan lebih baik dan mengutamakan empati kepada keluarga korban dan korban kekerasan seksual lainnya.

Saat ini kekerasan seksual terhadap perempuan sangat tinggi. Dalam catatan tahunan (catahu) 2023, Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat ada 401.975 kasus kekerasan.

Memang menurun sekitar 12 persen jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, dari 457.895 menjadi 401.975. Tapi angka ini tetap tinggi.

Padahal film dapat menjadi salah satu media untuk memerangi kekerasan seksual terhadap perempuan. Selama bertahun-tahun, penderitaan dan trauma perempuan digunakan untuk menciptakan tontonan yang mengejutkan penonton.

Tapi adegan-adegan yang seringkali menjadi pemicu ini justru kontra produktif untuk mengatasi kekerasan seksual terhadap perempuan di luar layar.

Sampai sekarang di film, perempuan masih dilihat melalui sudut pandang laki-laki (male gaze). Perempuan menjadi objek dengan diambil gambar tubuh dari jarak dekat.

Penonton justru senang saat melihat kondisi ini. Situasi saat tokoh perempuan mengalami hukuman membantu menegaskan patriarki, dimana laki-laki diposisikan sebagai pihak yang memegang kendali.

Dan yang paling menyedihkan adalah ketika penonton terus-menerus diperlihatkan gambaran perempuan yang dianiaya, tanpa adanya penjelasan, sinema kembali menghukum perempuan tanpa pesan sosial apa pun.

Untuk mengatasi masalah ini, representasi perempuan di dunia film harus bertambah. Jadi film tentang perempuan ya dibuat dari sudut pandang perempuan, tidak hanya jadi objek pemanis.

Terakhir, shout out to Cine Crib yang memutuskan tidak me-review film ini karena dinilai tidak etis mengeksploitasi kesedihan dan kekerasan. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda