Pedagang di Pasar Way Dadi Bandar Lampung. | Adnan/Wartalampung.id

Oleh M Aris Subarkah, ASN Dinas Perdagangan Kota Metro
Harga naik, kebutuhan naik. Kalangan ibu-ibu paling berat merasakan.
Menurut Bima Yudhistira, ekonom sekaligus Direktur Center of Economics and Law Studies (Cellius) di kompas.com, naiknya harga pangan hingga kenaikan rata-rata upah minimum provinsi tak sampai lima persen membuat potensi kalangan masyarakat menengah ke bawah tertekan.
Tekanan paling dirasakan saat ini ke masyarakat kelompok 40 persen menengah dan 40 persen ke bawah.
Bahan pokok merupakan kebutuhan utama bagi masyarakat. Kebutuhan yang tidak lepas dan harus ada di keluarga.
Semakin ke depan semakin banyak bahan pokok yang dibutuhkan.
Khusus bagi ibu-ibu, pengelola kehidupan di lingkungan rumah tangga, kenaikan bahan pokok sepeerti beras, minyak makan, terigu, telur, cabai, dan bawang menjadi dilema tersendiri.
Adanya acara hajatan dan pola hidup menjadi kendalam tertentu. Ditunda apa terus?
Ditunda berarti ragu akan kenaikan harga. Terus berarti penambahan alokasi anggaran.
Berhenti berarti akan menjadi malapetaka di kehidupan keduanya.
Harga yang cenderung naik, ibu-ibu panik. Beras sebagai kebutuhan utama semakin menggila harganya.
Minyak goreng menjadi dilema tersendiri. Cabai semakin pedas harganya.
Tanpa bawang merah dan putih yang harganya semakin tidak stabil, membuat masakan menjadi hambar.
Hari Ibu, hari ini, menjadi momen yang meresahkan. Para ibu dituntut untuk bijak di usianya yang makin bertambah.
Kenaikan dan tidak tentunya harga bahan pokok menjadi bumbu dan sajian utama dalam Hari Ibu.
Komitmen pemerintah dituntut untuk meredakan “amarah” ibu di Hari Ibu. Stabilkan harga. Standarkan harga. []

Tinggalkan Komentar Anda