Berita Foto Opini

Opini: Toleransi Saling Jaga Hati

Opini: Toleransi Saling Jaga Hati

Wujud toleransi. | Kompas.com

Wujud toleransi. | Kompas.com

Oleh Dian Wuryandari Syafiatin, ASN di BPS Kota Metro

Seminggu setelah Natal, lima gadis kecil sedang asyik bersenda gurau dan bercerita sambil menikmati kue kue Natal yang tersisa. Di sela-sela cerita, mereka mulai merencanakan agenda Idulfitri nanti mau ke rumah siapa dulu. Kegiatan rutin yang sudah dilakukan sejak mereka saling mengenal dua tahun yang lalu.

Setelah tiga dekade berlalu, terlihat dua wanita paruh baya duduk di sebuah sudut restoran cepat saji sambil sibuk memainkan gawainya, berharap seseorang dapat dihubungi melalui video call.

Mereka sedang berusaha menghubungi tiga karibnya yang tinggal di luar pulau. Salah satu dari wanita tersebut mengenakan hijab sedangkan yang lainnya mengenakan kalung dengan liontin salib mengantung indah di dadanya.

Kebahagiaan yang terlukis di wajah keduanya dan berharap waktu berhenti karena cerita masa lampau yang tidak pernah habis.

Pemandangan yang menggambarkan toleransi yang masih tersisa di zaman seperti saat ini. Toleransi yang ditanamkan dari hati sekumpulan anak-anak kecil.

Toleransi yang diterapkan dari usia dini. Toleransi yang tidak harus digaungkan secara besar-besaran, toleransi yang tidak harus dipatahkan karena perbedaan prinsip.

Namun, saat ini, tanpa sadar sikap toleransi mulai tergerus dengan perkembangan zaman dan teknologi. Termasuk semakin mudahnya mendapatkan informasi.

Ada informasi yang berdampak baik, namun banyak pula yang berdampak buruk. Kemudian terbentuk kelompok-kelompok.

Kelompok berdasarkan kesamaan, kesamaan agama, kesamaan prinsip, bahkan kesamaan politik. Semakin sulit menemukan hubungan pertemanan bahkan persahabatan yang di dalamnya ada perbedaan.

Dari kelompok-kelompok inilah mulai ada yang saling mencela. Merasa kelompoknya paling baik.

Timbulah rasa ketidaksukaan terhadap beberapa kelompok. Yang akhirnya saling tidak suka antarindividu.

Apabila sudah timbul rasa ketidaksukaan terhadap sesuatu, berarti sudah timbul penyakit hati. Penyakit hati inilah akan menimbulkan energi negatif.

Dampak dari energi negatif berpengaruh terhadap diri sendiri dan bagi orang lain sekitar kita.

Hati yang tidak tenang, berpikiran buruk terhadap orang lain, lama-kelamaan akan mengganggu kesehatan jiwa dan raga. Selain itu, akan mengurangi rasa kenyamanan kita di tempat umum.

Kita akan selalu berpikiran apakah orang orang menerima kita atau tidak.

Beberapa orang bahkan secara sengaja maupun tidak mengajak orang orang di sekitarnya untuk tidak menyukai orang-orang yang mempunyai perbedaan dengan dirinya dan kelompoknya. Ketidaksukaan itu pun disampaikan secara terbuka.

Dengan kemajuan teknologi seperti sekarang, informasi ketidaksukaan antarkelompok pun dapat sampai ke anak-anak kita. Karena masih usia dini, informasi yang diterima oleh anak-anak itu akan salah diterapkan.

Mereka akan berpikiran tidak suka terhadap individu individu yang mempunyai perbedaan dengan mereka.

Kesalahan kita menyikapi perbedaan akan berdampak tidak baik terhadap generasi penerus. Padahal perbedaan itu bisa dikelola dengan baik oleh hati. Karena dengan perbedaan, kita bisa saling memahami dan menjaga hati masing masing.

Oleh karena itu, sikap toleransi juga harus diajarkan kepada anak-anak sedini mungkin. Pembelajaran tidak hanya dilakukan di sekolah.

Di rumah para orang tua juga harus mengajarkan hal ini kepada anak anak. Dengan begitu si anak juga akan memahami menghargai toleransi dan hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk menghargai perbedaan. Baik perbedaan agama maupun perbedaan pendapat.

Menjelang pemilu di mana kita akan memilih pemimpin negara. Akan semakin banyak perbedaan perbedaan yang terlihat.

Akan banyak perkembangan isu-isu terkait agama. Di sinilah kita akan memberikan contoh yang baik kepada anak-anak. 

Cara kita menerapkan tolerasi saat ini akan dicontoh oleh mereka di masa depan. Kita mengajarkan kerukunan dan kedamaian di masa depan.

Jangan sampai dimasa yang akan datang rakyat Indonesia terpecah belah karena kita salah menjadi panutan bagi anak-anak kita.

Mulai saat ini kita harus bisa menjadi contoh bagi anak-anak kita sebagai generasi penerus bangsa. Dengan cara mengembangkan sikap saling menghormati dan menjaga hati dari perbuatan dan pikiran yang tidak baik.

Jadi, menjelang perayaan Natal dan pesta demokrasi, kita mulai mengajarkan toleransi kepada anak-anak kita. Dimulai dari sekarang dan dimulai dari lingkungan rumah.

Melakukan hal kecil dari lingkungan terkecil untuk ketentraman di masa yang akan datang. []

Foto dari Kompas.com di tautan ini

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda