Iwan Setiawan

Ustaz Iwan Setiawan, Lc., M.E. (Biro Kepatuhan Syariah IZI)
Lafazh cinta itu lafazhnya sederhana. Namun, makna dan nilainya terlalu istimewa khususnya bagi orang-orang yang beriman karena cinta dan benci yang dilandasi kecintaan kepada Allah SWT akan menghantarkan seorang hamba kepada nikmatnya iman.
Dalam sebuah riwayat, Ibnu Abbas RA berkata bahwa barang siapa yang mencintai dan benci karena Allah, berteman dan bermusuhan karena Allah, sesungguhnya pertolongan-Nya diperoleh dengan dimikian itu.
Seorang hamba tidak akan dapat merasakan kenikmatan iman walaupun sudah banyak shalat dan puasanya kecuali sudah berbuat demikian. Sesungguhnya kebanyakan ikatan persaudaraan manusia itu dilandasi kepentingan dunia. Ikatan seperti itu tidak akan bermanfaat apapun bagi mereka. (Tafsir Ibnu Rajab: 1/504; Tafsir Al-Maturidi: 9/183)
Umat Islam siapapun orangnya, orang Arab, Eropa, Afrika, Asia atau bukan, orang desa atau kota di dalam hati mereka telah tertanam aqidah tauhid yang mengikat mereka semuanya, dimana aqidah tersebut adalah bukti cinta Allah SWT kepada hamba-Nya yang ditanamkan di dalam hati setiap muslim. Allah SWT pula menetapkan kesamaan aqidah itu sebagai ikatan persaudaraan di antara hamba-Nya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah saudara.” (QS Al-Hujurat: 10)
Pertanyaannya, mengapa rasa cinta dan ikatan persaudaraan itu tidak jarang menjadi renggang? Syaikh Shalih Al-Munjid (111957) menjelaskan bahwa kuat lemahnya rasa dan ikatan itu bergantung pada dua faktor utama:
Pertama, faktor keshalihan dan ketakwaan. Kaum muslimin tidak seragam dalam mengekspresikan keshalihan dan berbeda-beda pula dalam tingkat iman dan takwa. Mereka juga tidak sama dalam akhlak, budi pekerti, dan kewibawaan.
Jika sumber rasa cinta adalah komitmen seorang hamba pada perintah-perintah Allah, maka kuatnya rasa cinta dan eratnya ikatan persaudaraan akan berbeda antar muslim bergantung pada keistiqamahan mereka.
Kedua, faktor kesamaan, kesesuaian, atau kecocokan (munasabah) antara hati orang-orang yang saling mencintai. Imam Ibnul Qayim dalam Rudhatul Muhibbin (67) menjelaskan bahwa kecocokan antar jiwa adalah di antara sebab terkuat timbulnya rasa cinta. Kecocokan ini kalau tidak melekat dari asal penciptaan, maka akan tumbuh karena kedekatan atau karena mengikuti sesuatu yang sama.
Apabila sumber rasa cinta adalah kecocokan, maka ketika kaum muslimin merasakan suatu permasalahan yang sama, atau memiliki tujuan yang sama, maka akan semakin kuat rasa cinta dan ikatan persaudaraan di antara mereka.
Setiap muslim memiliki hak atas saudara muslimnya untuk dicintai, maka seorang muslim tidak akan menimpakan keburukan, iri dengki, murka, atau dendam kepada saudara muslimnya.
Seorang muslim yang mencintai saudaranya tidak akan muncul ketika saudaranya sedang berbahagia atau mengunjungi mereka saat masa damai saja, namun juga ikut merasakan beban dan masalah yang menimpa saudara muslimnya, serta membantu dan mendukung saudaranya sekuat apa yang mereka bisa. Hal itu seperti pepatah Arab yang mengatakan:
وما الحب من حسن ولا من ملاحة
ولكنه شيء به الروح تكلف
“Dan tidaklah cinta itu karena indah dan manja semata,”
“namun cinta adalah sesuatu yang membebani jiwa.”
Apa saja yang seorang muslim dapatkan dan harapkan dari kebaikan-kebaikan, dan apa saja yang ingin seorang muslim hindari dari keburukan-keburukan, maka itulah yang ia inginkan terjadi pula pada saudara muslimnya.
Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari 13 dan Muslim 45).
Sebagai contoh, bangsa Indonesia dan Palestina memiliki kecocokan dalam aqidah, tujuan, dan perasaan. Keduanya adalah tanah air yang didiami orang-orang yang beriman kepada Allah SWT, keduanya memiliki tujuan yang sama yaitu menjaga kesucian Baitullah Al-Aqsha dan sama-sama merasakan kepedihan yang sama akibat penjajahan.
Palestina sedang berjuang mengusir pendudukan penjajah, maka Indonesia pernah mengalaminya, Palestina sedang terkoyak batas-batas wilayahnya oleh Israel, maka Indonesia pernah mengalaminya selama agresi militer Belanda, dan kesamaan-kesamaan lain yang sepatutnya menambah kuat cinta dan ikatan persaudaraan antara Bangsa Indonesia dan Palestina.
Sebagian orang Indonesia yang belum memahami persoalan di Palestina saat ini, semoga tidak melupakan pelajaran sejarah di sekolah dasar tentang perjuangan bangsanya sendiri. Sejarah seolah mengulangi peristiwanya dan sedang memilih Palestina sebagai ujian bagi Bangsa Palestina dan bangsa-bangsa lain yang dulu pernah dijajah.
Semoga Allah SWT menjaga cinta dan persaudaraan di antara kaum muslimin, menguatkan barisan kaum muslimin, memudahkan semangat gotong royong saling membantu di antara kaum muslimin, membinasakan orang-orang zhalim dan kafir yang menjajah dan memerangi kaum muslimin, mencerai-beraikan barisan mereka, dan menerima kaum muslimin yang syahid dalam membela agama dan tanah air mereka.
Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memerdekakan dan memberikan kebaikan-kebaikan kepada kami, Bangsa Indonesia, anugerakan-Lah kemerdekaan dan kebaikan-kebaikan kepada saudara kami, Bangsa Palestina. aamiin. []

Tinggalkan Komentar Anda