Berita Foto Advertorial

Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia Dinda Indah Jelita Nobar “Uang Panai Mahal(r) l”

Mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia Dinda Indah Jelita Nobar “Uang Panai Mahal(r) l”

Dinda Indah Jelita. | Dokumentasi

Dinda Indah Jelita. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Makassar – Dinda Indah Jelita kemarin bertambah lagi pengalaman selama mengikuti pertukaran mahasiswa merdeka (PMM) di Universitas Fajar, Makassar. Mahasiswi cantik asal Universitas Teknokrat Indonesia, Lampung, ini kemarin bersama semua mahasiswa PMM nonton bareng (nobar) film berjudul “Uang Panai Mahal(r) l”.

Awalnya mereka akan nobar di sebuah bioskop. Namun, rencana berubah. Walhasil, semua mahasiswa menonton di gedung kampus Universtas Fajar.

Dinda mengatakan, ia juga ditunjuk mewakili mahasiswa PMM untuk memberikan opini opini tentang film tersebut. Rupanya, para dosen di sana tahu Dinda orang Bugis sehingga dinilai punya pengalaman khusus.

Nobar kemarin, ujar Dinda, adalah bagian dari acara kebinekaan. Selain para mahasiswa PMM, dosen Modul Nusantara dan beberapa dosen juga hadir dalam nobar di Ballroom Universitas Fajar.

Uniknya, kata Dinda, sebelum menonton, mereka diberikan kertas yang isinya nomor 1-119. Usai itu baru deh nobar dimulai.

Dinda menuturkan, film ini menceritakan tentang perjuangan seorang pria yang baru pulang dari perantauan. Ia kemudian bertemu lagi dengan seorang perempuan yang dulu pernah mengisi hatinya.

Proses balikan ini yang kemudian menjadi awal konflik dalam film ini.

”Semakin lama hubungan, ceweknya minta kepastian minta dilamar. Sementara dalam suku Bugis, kalau mau melamar, harus ada namanya mamanu-manu yang artinya penjajakan sebelum melamar dan untuk hubungan yang lebih serius lagi,” urai Dinda kepada wartalampung.id hari lewat percakapan media sosial.

Dinda melanjutkan, dalam proses penjajakan itu, keluarga pria datang ke rumah yang perempuan untuk menanyakan uang panai yang harus disiapkan.

Kalau di Bugis, uang panai berbeda dengan uang mahar. Uang panai ini kalau dilihat dari perspektif tradisi, dimaknai harga diri perempuan suku Bugis Makassar atau dalam budaya siri na pacce.

Dari situlah konflik bermula. Sebab, kata Dinda, keluarga perempuan meminta uang panai Rp120 juta. Dari situ si eria mulai berusaha untuk mengumpulkan uang.

Dari kerja kerasnya dan dukungan sahabat serta keluarga, uang panai itu bisa terkumpul.

“Filmnya happy ending kok,” kata dia.

Nobar di Ballroom Universitas Fajar, Makassar. | Dokumentasi

Usai nobar, mereka kemudian berdiskusi. Ada yang pro, ada yang kontra.

“Aku kebetulan masuk kelompok pro dan mewakili salah satu mahasiswa untuk menyampaikan pro  soal film tadi,” kata dia.

“Kalau itu semua emang sudah adat dan yang harus diikuti. Kita enggak bisa bilang adat itu salah atau materialistis. Sadat memang punya ciri khas masing-masing. Salah satunya ya adat Bugis Makassar yang menggunakan uang panai sebelum menikah,” kata Dinda.

Dinda tegas menyatakan ia setuju dengan hal ini. Pasalnya, kita harus tetap menghargai dan mengikuti adat. Lagipula semua yang dilakukan itu mempunyai maksud dan tujuannya tersendiri.

“Uang panai adalah salah satu bentuk menghargai perempuan.”

Dinda juga menceritakan pengalaman kakak kandungnya yang sudah menikah. Semua, ujarnya, mengikuti aturan adat, yaitu menggunakan uang panai sebelum acara pernikahan.

Dinda berujar, diskusi usai film itu seru karena ada yang pro, ada yang kontra. Namun, semua sama-sama menghormati pendapat yang disampaikan.

“Dari sini juga kami semua bisa mengambil pembelajaran bahwa kebudayaan Indonesia itu sangat beragam,” kata dia.

Seorang dosen Modul Nusantara menjelaskan, film ini ditayangkan tahun 2016. Film ini termasuk film Bugis terpopuler. Tahun 2024, direncanakan akan tayang yang kedua.

Wah, seru juga pengalaman Dinda. Hmm, berarti Dinda nanti mesti dikasih uang panai ya sama calon suaminya? []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda