Berita Foto Ruwajurai Bandar Lampung

Dosen Unila Pengabdian, Kelompok Wanita Tani Bungsu Cantik Hasilkan Kompos

Dosen Unila Pengabdian, Kelompok Wanita Tani Bungsu Cantik Hasilkan Kompos

Pengabdian dosen Unila. | Dokumentasi

Dosen Unila pengabdian di Gedongair dengan mengajak Kelompok Tani Bungsu Cantik menghasilkan kompos. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Sampah merupakan masalah besar yang saat ini dihadapi di seluruh dunia termasuk Indonesia. Berdasarkan data SIPSN Kementerian Lingkungan Hidup tahun 2022 timbunan sampah di Indonesia mencapai 35.421.817,61 ton/tahun dan 37,94 persen sampah tidak terkelola.

Padatnya pemukiman penduduk menjadi salah satu penyebab menumpuknya sampah. Sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan berakibat menurunnya daya dukung lingkungan. Masih banyak masyarakat yang perlu diedukasi karena menganggap remeh masalah sampah.

Sebagai bentuk kepedulian terhadap masalah lingkungan khususnya pengolahan sampah, tim dosen dari Universitas Lampung tergerak untuk mengadakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM) berupa “Peningkatan Kemandirian Wanita Tani Melalui  Edukasi Kompos Berbasis Aplikasi Digital Pada Kelompok Wanita Tani Bungsu Cantik Kota Bandar Lampung”.

Sasaran kegiatan ini adalah ibu-ibu anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Bungsu Cantik di Kelurahan Penengahan Raya, Kecamatan Kedaton, Bandar Lampung. Wanita memiliki peran penting karena bersentuhan langsung dengan sampah rumah tangga dan jika melalui kelompok akan memiliki kontribusi yang lebih besar bagi masyarakat sekitar.

Pengabdian dosen Unila. | Dokumentasi

Para anggota KWT tinggal di daerah yang padat penduduk sehingga produksi sampah cukup tinggi di daerah tersebut. Para anggota juga ingin menghasilkan pupuk kompos yang dapat dimanfaatkan bagi tanaman kebun yang diusahakan dan juga memasarkannya untuk memperoleh pendapatan kelompok maupun rumah tangga.

Kegiatan PKM dilaksanakan dalam tiga tahap. Kegiatan awal adalah penyuluhan mengenai sampah dan pembuatan pupuk kompos.

Kegiatan kedua dilaksanakan dengan fokus kegiatan pengolahan sampah nonorganik melalui pembuatan paving block.

Kegiatan ketiga adalah pemanfaatan aplikasi jual beli sampah dan sosialisai rencana usaha.

Kegiatan penyuluhan dan pembuatan kompos dilaksanakan pada bulan Mei 2023 dan dihadiri oleh ibu-ibu anggota KWT, penyuluh, ketua RT, ketua lingkungan, tim dosen, dan mahasiswa.

Penyuluhan diberikan oleh para narasumber tim pengabdian Unila yaitu Lina Marlina, Yessi Mulyani, Ujang Efendi, dan Ilim. Kegiatan ini diawali dengan pemberian materi mengenai bahaya sampah, jenis-jenis sampah dan pentingnya pemilahan sampah.

Salah satu yang ditekankan dalam kegiatan penyuluhan ini adalah saat ini cara mengolah sampah yang dilakukan paling banyak adalah dengan dibakar yang tentunya memberikan dampak negatif terhadap manusia dan alam sekitar.

Padahal sampah dapat diolah menjadi produk-produk yang bermanfaat dan bernilai ekonomis seperti kompos, bahan campuran paving, eco-brick, dan kerajinan tangan. Peserta kegiatan juga diajarkan cara membuat pupuk kompos yang benar sehingga peserta dapat menghasilkan pupuk kompos baik dengan ciri warna cokelat tua hingga hitam seperti tanah, tidak larut dalam air, dan tidak berbau.

Setelah penyuluhan dan praktik dilakukan peserta mengalami peningkatan dalam mengetahui informasi setelah mengikuti kegiatan pelatihan yang terlihat dari skor akhir postes yang 21 persen lebih tinggi dibandingkan prates.

Pada kegiatan tahap kedua adalah kegiatan pemanfaatan sampah nonorganik menjadi paving block. Pada kesempatan ini tim pengabdi dari Unila memberikan pendampingan kepada peserta untuk mengolah sampah menjadi paving block.

Kegiatan juga dihadiri oleh ibu-ibu anggota KWT Bungsu cantik, tim dosen, dan mahasiswa. Dalam pembuatan paving hal yang perlu diperhatikan adalah kesesuaian antara jumlah pasir, semen, kerikil, air, dan sampah yang ditambahkan agar hasilnya bagus.

Jenis plastik yang baik digunakan adalah plastik kresek yang telah dicacah halus agar saat dicampurkan dalam bahan paving, plastik tidak terlihat secara jelas. 

Kegiatan PKM tahap ketiga adalah sosialisasi penggunaan aplikasi digital dan rencana usaha.

Olahan sampah seperti kompos dan sampah nonorganik dapat dijual sehingga memperoleh pendapatan.

Untuk memudahkan transaksi jual beli dapat dilakukan dengan bantuan aplikasi Jual Beli Sampah yang dapat diunduh di ponsel sehingga dapat membantu pihak yang membutuhkan layanan cepat dan praktis dalam jual beli sampah.

Peserta PKM juga diajarkan untuk membuat rencana usaha pupuk kompos. Rencana usaha pupuk kompos dibuat dengan menghitung harga pokok produksi dan penjualan berdasarkan jumlah produksi dan biaya-biaya yang dikeluarkan selama satu siklus produksi (tiga bulan).

Selama rangkaian PKM dilaksanakan dari mulai tahap koordinasi hingga pelaksanaan sekitar 5 bulan, anggota KWT Bungsu Cantik sangat antusias terlihat dari partisipasi dan kehadiran pada setiap kegiatan.

Selain itu, mereka juga menyatakan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat terutama memberikan kesadaran tentang pentingnya mengolah sampah mulai dari rumah tangga sehingga volume sampah menjadi lebih sedikit dibandingkan sebelum adanya PKM dari Universitas Lampung. Demikian rilis yang diterima wartalampung.id hari ini. []

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda