Ecoprint di SMPN 34 Bandar Lampung. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Suara ketukan palu meramaikan pelataran SMPN 34 Bandar Lampung pada proyek penguatan profil pelajar Pancasila (P5) yang dilaksanakan siswa kelas 7 dan 8 sebanyak 420 orang, Jumat pagi, 25/8/2023.
Ecoprint dipilih menjadi salah satu bentuk projek dari 7 tema yang dipelajari dalam P5 yang ada di Kurikulum Merdeka, antara lain yaitu kewirausahaan, suara demokrasi, perubahan iklim global, kearifan lokal, bhineka tunggal ika, bangunlah jiwa dan raganya, serta berekayasa dan berteknologi untuk membangun NKRI.
Pada proyek penguatan profil pelajar Pancasila ini, SMP Negeri 34 Bandar Lampung memilih tema “Kewirausahaan” dengan nama projek “Ecoprint: Nature for Better Life”.
Kegiatan dibuat agar peserta didik memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan membentuk karakter pancasila pada dimensi bergotong royong, bernalar kritis, dan kreatif.
Septina Lesturi, guru setempat, menjelaskan, mengapa proyek ini dipilih sebagai salah satu bagian dari P5. Septina menekankan, pemilihan ecoprint masih relevan dengan 6 elemen profil pelajar Pancasila yang menjadi pijakan utama pendidikan Kurikulum Merdeka.
Septina mengatakan, ecoprint membantu siswa untuk beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia melalui apresiasi terhadap keindahan alam.
Selain itu, ekspresi kreatif dalam ecoprint, kata dia, mempromosikan kebhinekaan global, sementara kerja sama dalam prosesnya memperkuat nilai gotong royong.
Siswa juga belajar mandiri dan dilatih bertanggung jawab dalam menyiapkan alat dan bahan yang harus disiapkan mereka sendiri.
Lebih dari itu, ecoprint merangsang pemikiran kritis saat mereka merencanakan dan melaksanakan proyek.
“Ini adalah wadah yang sempurna untuk melatihkan pendidikan karakter dan kreativitas pada siswa kami,” ujar Septina dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi hari ini.
Ecoprint sendiri merupakan teknik pencetakan alami yang menggunakan daun, bunga, dan bahan alami lainnya untuk mencetak pola dan warna pada kain atau media lainnya.
Teknik pounding dipilih SMP Negeri 34 Bandar Lampung dalam prosesnya. Caranya dengan menempatkan helaian daun dan mahkota bunga di atas kain polos kemudian dilapisi plastik bening dan diketuk-ketukkan menggunakan palu hingga warna alami dari daun dan bunga keluar.
Kemudian merendamnya dalam air garam agar warna yang dihasilkan lebih tahan lama. Selama proses pengetukan, pigmen alami dari bahan-bahan tersebut bertransfer ke kain, menciptakan desain yang unik dan cantik.
Para siswa terlihat gembira ketika berkolaborasi bersama rakan sajawatnya yang dibentuk dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 10-15 orang, di bawah bimbingan guru pendamping masing-masing. Para guru juga turut terlihat antusias memberikan arahan pada siswa-siswinya.
Selain guru-guru dari SMP Negeri 34, ada lima mahasiswa Kampus Mengajar Angkatan 6 (Program flagship MBKM yang dikelola oleh Kemendikbud) yang ikut membersamai proyek ini.
Kelima mahasiswa sebenarnya memiliki ide program yang sama, yaitu eco-print. Namun, secara kebetulan, di SMP Negeri 34, ecoprint telah menjadi salah satu bagian dari P5 sehingga hal ini menjadi suatu kejutan yang tak terduga.
Program Kampus Mengajar yang dijalankan para mahasiswa tersebut bertujuan untuk bermitra dengan sekolah untuk membantu mengatasi masalah literasi dan numerasi di kalangan peserta didik.
Program Kampus Mengajar difokuskan pada literasi dan numerasi, yang secara umum terpisah dari seni seperti eco-print. Namun, proyek ecoprint juga sebenarnya sangat terkait dengan kedua aspek ini.
Marissa Wardhana, mahasiswa Kampus Mengajar yang terlibat dalam proyek ini, menjelaskan, ketika berbicara literasi, kita melihat bagaimana siswa semakin mahir dalam memahami dan berkomunikasi dengan pesan visual.
Mereka, kata dia, belajar untuk menginterpretasi desain, pola, dan estetika dalam proses eco-print, yang pada dasarnya adalah bahasa visual.
Sedangkan dari segi numerasi, tambah Marissa, proyek ini memasukkan aspek pengukuran dan perhitungan. Siswa harus melakukan pengukuran yang akurat untuk menentukan letak dan jarak antara elemen desain, dan ini memanfaatkan konsep numerasi seperti panjang, lebar, dan perbandingan ukuran.
“Jadi, mereka tidak hanya menciptakan karya seni, tetapi juga mengasah kemampuan numerasi mereka secara praktis,” ujarnya.
Proyek ecoprint di SMPN 34 Bandar Lampung membantu siswa mengembangkan kedua unsur literasi visual dan numerasi secara alami melalui ekspresi kreatif dalam seni.
Proyek ini masih akan berlangsung selama beberapa pekan ke depan. Harapannya, mencapai tahapan terakhir yang telah ditargetkan oleh sekolah, yaitu sebuah panen raya dalam kegiatan bazar penjualan produk ecoprint.
Proses ini merupakan tahap penutup yang sangat dinantikan dari proyek ini, di mana karya seni unik yang dihasilkan oleh siswa rencananya akan ditampilkan dan dijual kepada masyarakat.
Sementara itu, mahasiswa Kampus Mengajar yang aktif terlibat dalam proyek ini, memberikan dukungan yang kuat kepada sekolah.
“Kami mendukung SMPN 34 Bandar Lampung menjadi sekolah contoh bagi yang lain. Ini bukti nyata bagaimana pendidikan yang kreatif dan berorientasi lingkungan dapat memberikan dampak positif kepada siswa dan masyarakat. Kami berharap prestasi mereka dalam proyek ini akan mengilhami sekolah-sekolah lain untuk mengadopsi inovasi serupa dalam pendidikan,” tambah Marissa dalam rilis hari ini. []
