Berita Foto Politik

Parosil Mabsus Larang Warga NU Masuk PKS, Ini Tanggapan Ketua PKS Lampung Ahmad Mufti Salim

Parosil Mabsus Larang Warga NU Masuk PKS, Ini Tanggapan Ketua PKS Lampung Ahmad Mufti Salim

Ahmad Mufti Salim. | Dokumentasi

Ahmad Mufti Salim. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Jakarta – Ketua Umum DPW PKS Lampung Ahmad Mufti Salim menanggapi pernyataan eks Bupati Lampung Barat yang juga Ketua DPC PDIP Lampung Barat Parosil Mabsus melarang warga NU masuk PAN dan PKS.

Baca beritanya di sini: Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus Larang Warga NU Masuk PAN dan PKS

Mufti Salim mengatakan, tidak benar bahwa ada larangan dari PBNU bahwa Nahdliyin tak boleh masuk PAN atau PKS.

Mufti yang alumnus Ponpes Krapyak Yogyakarta itu mengatakan, NU adalah payung besar untuk umat Islam di Indonesia.

Baca Juga: Kader PKS Ahmad Khairuddin Syam Minta Parosil Mabsus Minta Maaf Terbuka

Masih kata Mufti, NU pun tidak melarang warganya untuk masuk atau memilih partai politik manapun di Indonesia pada pemilu.

“Apalagi kepada partai yang legal dan berkomitmen menjaga nilai-nilai bagi keberlangsungan NKRI,” ujarnya.

Sebelumnya diberitakan, eks Bupati Lampung Barat yang juga Ketua DPC PDIP Lampung Barat, Parosil Mabsus, melarang warga Nahdlatul Ulama (NU) untuk bergabung ke PAN dan PKS. Dalam video yang diterima redaksi, Parosil memang jelas menyebutkan jangan masuk PAN dan PKS.

Dalam video berdurasi 2 menit 7 detik itu, awalnya Parosil mengungkapkan warga NU tersebar di berbagai macam partai dan dapat berkontribusi dalam membesarkan NU.

Pernyataan itu disampaikan Parosil dalam kegiatan Pendidikan Dasar Nahdlatul Ulama di Kecamatan Suoh, Minggu (6/8) lalu.

“Mungkin hari ini ada di antara kalian yang ikut pendidikan ini mungkin di luar dari partai saya (PDIP) ataupun partai Mas Jafar (PKB). Mungkin ada di kuning, mungkin ada di hijau,” ujarnya yang menyebutkan juga nama Ketua DPC PKB Lampung Barat, Jafar Sodiq.

Namun, di akhir video, ia melarang audiens untuk bergabung ke PAN serta PKS. Menurut dia, dua partai tersebut memiliki pemahaman yang berbeda.

“Yang penting jangan masuk yang dua, karena yang dua ini berbeda pemahamannya dengan kita. Yang pertama itu Partai Amanat Nasional (PAN) karena itu organisasinya Muhammadiyah, yang kedua PKS. Kalau yang lain monggo-monggo wae (silakan saja),” lanjut dia lagi disambut tepuk tangan oleh peserta yang hadir. []

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda