Berita Foto Opini

Opini: Peduli Sampah untuk Bumi yang Indah

Opini: Peduli Sampah untuk Bumi yang Indah

Sampah di TPA Bakung. | Kompas.com

Sampah di TPA Bakung. | Kompas.com

Oleh Khoirunnisa, Mahasiswi Pendidikan Bahasa Prancis FKIP Universitas Lampung

Sampah menjadi masalah yang serius dari dahulu hingga sekarang, sampah yang dibuang lama kelamaan akan menumpuk dan merusak lingkungan. Masih banyak masyarakat yang tidak peduli dan membuang sampah sembarangan seperti di sungai dan laut.

Padahal hal tersebut jika dibiarkan terus-menerus akan menyebabkan banjir dikarenakan air yang tidak dapat mengalir semestinya sehingga terjadi luapan di lingkungan sekitar. Banjir yang terjadi di permukiman akan menimbulkan kerugian dan menghambat aktivitas masyarakat.

Tidak hanya menyebabkan banjir, air dan tanah akan tercemar oleh sampah yang dibuang tidak pada tempatnya serta akan menjadi masalah yang serius dikemudian hari. Seperti kualitas air yang kurang baik sehingga berdampak pada kesehatan manusia dan mengancam ekosistem bahari yang dapat merugikan hewan laut.

Kebiasaan membuang sampah sembarangan ini akan terus menjadi kebiasaan buruk jika masih banyak yang belum peduli. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan kehutanan (KLHK) tahun 2022, jumlah timbunan sampah di Indonesia adalah sebesar 86,7 juta ton/tahun dengan komposisi sampah didominasi oleh sampah organik, khususnya sampah sisa makanan yang mencapai 41,27%.

Tempat pembuangan sampah melepaskan gas metana dalam jumlah besar akibat penguraian oleh bakteri aerobik. Gas metana adalah salah satu gas berbahaya pembentuk gas rumah kaca (GKR) yang menyebabkan pemanasan global.

Jika masyarakat Indonesia melakukan pengomposan sampah organik sisa makanan setiap tahunnya secara mandiri di rumah, 10,92 juta ton sampah organik tidak dibawa ke TPA, dan hal ini dapat menurunkan emisi gas rumah kaca.

Di tempat pembuangan sampah, metana bercampur dengan gas karbon dioksida membentuk gas landfill (LFG). Menyadur dari United States Environmental Protection Agency, alih-alih dibiarkan begitu saja di udara, LFG ditangkap, diubah, dan digunakan sebagai sumber energi terbarukan.

Gas landfill yang ditangkap bisa mengurangi gas rumah kaca dan menjadi sumber energi bagi pembangkit listrik penggunaan langsung untuk rumah tangga, industri, dan manufaktur.

Solusi lainnya untuk persoalan sampah ini dapat dimulai dari membangun kebiasaan pada masyarakat, seperti memberikan pendidikan pengelolaan sampah sejak dini dalam penanganan sampah sesuai dengan jenisnya. Agar masyarakat terbiasa sehingga dapat mengelola dengan baik, namun pengelolaan manajemen sampah yang baik perlu melibatkan semua stakeholder.

Tentunya diperlukan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat seperti membuat program yang melibatkan masyakarat agar pengelolaan sampah dapat terlaksana dengan maksimal. Pemerintah bisa mengambil langkah seperti memfasilitasi penyedia prasarana dan sarana pengelolaan sampah, pengembangan teknologi penanganan sampah serta melakukan koordinasi antarlembaga pemerintah dan masyarakat dalam pengelolaan sampah.

Perlu diketahui, sampah sebenarnya dapat dimanfaatkan apabila di daur ulang menjadi barang yang bernilai guna. Contoh sampah organik yang berasal dari sisa makhluk hidup dan mudah terurai secara alami dapat dijadikan kompos dan sampah anorganik dapat dijadikan kerajinan yang bernilai jual dan sangat menguntungkan.

Bahkan, dapat digunakan sebagai media bisnis. Dengan melakukan pendauran ulang sampah, masalah-masalah seperti banjir dapat teratasi dengan sendirinya.

Pemerintah dapat mengeluarkan biaya untuk membangun kesadaran akan pentingnya mendaur ulang sampah sejak dini saja.

Saya sangat mengharapkan kepada para pembaca untuk membangun kesadaran akan pentingnya mendaur ulang sampah sejak dini. Hal ini mungkin tidak berdampak bagi kehidupan kita sekarang, namun akan sangat berarti bagi generasi-generasi selanjutnya.

Sampah tidak bisa kita biarkan begitu saja jika hal ini tidak ada penanganan serta lambatnya kesadaran. Diketahui beberapa anak muda membuat komunitas dalam penanganan lingkungan untuk bumi yang bebas dari sampah dengan mengadakan kegiatan bersih-bersih sungai, bibir pantai dan lingkungan lainnya.

Kegiatan tersebut bertujuan tidak hanya untuk membuat lingkungan menjadi bersih namun juga untuk menyadarkan akan tanggung jawab terhadap sampah di sekitar kita.

Sebagai contoh, Pandawa Grup yang berisi lima orang pemuda yang berasal dari Bandung. Berawal dari dari kondisi di mana mereka menjadi korban banjir membuat lima sekawan ini mulai tergerak hatinya untuk turun langsung membersihkan sampah-sampah yang ada di sungai dan kegiatan tersebut mereka bagikan ke media sosial lalu mendapat pujian masyarakat dan memberikan dampak positif untuk mengajak semua orang untuk peduli dengan lingkungan.

Meskipun demikian, menciptakan lingkungan yang bersih adalah tanggung jawab kita bersama, intinya kegiatan tersebut dapat kita contoh dan terapkan pada lingkungan sekitar agar terjaga dari sampah dan tidak menyebabkan banjir serta menyelamatkan bumi dari ancaman penumpukan sampah.

Menurut saya, alangkah baiknya jika kita menanamkan sikap peduli terhadap lingkungan dengan cara membuang sampah pada tempatnya sejak dini dengan membuang sampah pada tong-tong terdekat yang sudah disediakan.

Bila tidak ada, cukup simpan sampah tersebut ke dalam kantong. Tanamkanlah sikap kesadaran ini akan bahayanya membuang sampah sembarangan secara terus menerus. Bukan hanya kepada diri sendiri, kita juga harus menyadarkan sikap ini kepada orang sekitar. []

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda