Berita Foto Opini

Opini: Menekan Keinginan Flexing Kala Buka Bersama

Opini: Menekan Keinginan Flexing Kala Buka Bersama

Ilustrasi buka puasa bersama. | Bola.com

Ilustrasi buka puasa bersama. | Bola.com

Oleh: Annisa Salsabila, Mahasantri Mahad Al Jamiah UIN Raden Intan Lampung

Buka puasa bersama (bukber) adalah acara yang biasa di dalam bulan Ramadan. Momen ini dijadikan kesempatan untuk bertemu teman alumni, keluarga, atau bahkan dijadikan momen menambah keakraban dengan rekan kerja.

Bukber juga biasanya diadakan di tempat-tempat hits dan instagramable. Jadi, selain bisa makan enak dan ngobrol santai bersama rekan atau sanak saudara, pengunjung juga bisa mendapat spot foto yang estetik untuk mengisi feeds Instagram atau sekadar kebutuhan snapgram.

Tetapi di balik hangatnya kegiatan bukber ini, ada momen saling flexing harta, jabatan, prestasi yang bisa bikin iri satu sama lain. Niatnya bukber untuk menyambung silahturahmi, healing sejenak dari kepenatan aktivitas yang padat, malah dijadikan ajang berjulid ria.

Bukannya tambah sayang dengan sesama saudara, malah jadi saingan pencapaian masing-masing. Sebenarnya untuk beberapa pihak hal itu tidak salah jika ia kemudian menjadikan hal tersebut sebagai motivasi untuk dirinya agar bisa lebih semangat bekerja atau mencapai suatu prestasi.

Yang repot adalah pihak pihak yang nyinyir, tidak suka dengan pencapaian saudaranya, yang justru mengumbar fitnah dan prasangka yang buruk, yang tentunya bisa merusak tali persaudaraan.

Hal ini harus dihindari. Selain merugikan diri sendiri juga merugikan orang lain.

Bagi diri sendiri flexing menjadikan diri kita sebagai pribadi yang sombong, haus pujian, ingin dianggap yang bisa menjadi kontroversi di kalangan masyarakat. Juga bagi orang lain.

Bagi mereka yang punya kebiasaan insecure, bisa menjadikan mereka tidak pede untuk bersosialisasi dengan rekan-rekannya yang flexing tadi. Akhirnya rusaklah pertemanan di antara mereka.

Budaya flexing tentu harus dihilangkan di momen temu kangen. Untuk apa sih kita pamer? Agar dilihatkah? Dipujikah?

Alangkah lebih baiknya kita menjaga perasaan saudara kita. Sebab, kita tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada saudara kita. Mana tahu ia sedang susah, eh kita malah flexing.

Ada baiknya kalau kita bisa membantu mereka untuk bangkit dari keterpurukannya, bukan malah menonjolkan yang kita punya sehingga bisa membuat rusak rasa kekeluargaan. []

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda