Berita Foto Opini

Opini: Puasa Lancar Maksiat Gencar

Opini: Puasa Lancar Maksiat Gencar

Ilustrasi

Ilustrasi

Oleh Ana Yulismawati, Mahasantri Mahad Al Jamiah UIN Raden Intan Lampung

Pada bulan suci penuh berkah ini, banyak orang berlomba-lomba memperbaiki ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Lantunan ayat-ayat suci Alquran berkumandang di setiap musala dan masjid.

Akan tetapi, tanpa kita sadari, ganjaran pahala ibadah yang telah kita lakukan itu sia-sia, tidak tersisa. Mengapa hal tersebut dapat terjadi?

Puasa elit salat sulit

Untuk apa puasanya? Apakah puasanya hanya formalitas semata agar terlihat seperti muslim muslim lainnya?

Jika diibaratkan sebuah bangunan. Salat adalah fondasinya. Kemudian puasa adalah atapnya.

Jika fondasinya runtuh, seluruh bangunannya pun akan runtuh. Sama saja seperti puasa tidak melaksanakan salat sehingga percuma puasanya. Sebab, yang akan kita dapatkan hanyalah lapar dan dahaga saja.

Puasa kita sah, akan tetapi puasa kita hanya mengamalkan hakikat dari puasa itu sendiri, bukan syariatnya. Sebab, hakikat puasa bukan sekadar menahan makan dan minum, melainkan menahan diri dari hawa nafsu, amarah, menjaga pandangan, dan lain sebagainya. Kalau puasa hanya mengandalkan menahan lapar dan dahaga, anak kecil juga bisa.

Gibah atau menggunjing adalah salah satu penyebab berkurangnya pahala selanjutnya. Karena pada hakikatnya menggunjing orang sama saja dengan memakan bangkai saudaranya sendiri.

Maksiat selanjutnya yang dapat mengurangi pahala puasa adalah berpacaran. Karena sesungguhnya Allah membenci perbuatan zina.

Dosa pezina tidak akan diampuni oleh Allah, apalagi berzina di bulan Ramadan yang mulia ini. Karena pada saat kita berpacaran, rentan mengucapkan rasa sayang kita ke pasangan, mengumbar aurat, berdekatan antara lawan jenis yang bukan mahramnya.

Tidak hanya di bulan Ramadan di bulan-bulan lainnya pun berpacaran tidak diperbolehkan karena mengundang syahwat anak Adam dan Hawa.

Ketika kita mencuri, berbohong saat berpuasa dapat mengurangi ganjaran pahala yang kita peroleh. Karena perbuatan tersebut adalah perbuatan tercela tidak terpuji. Bukan hanya di bulan Ramadan di bulan-bulan lainnya pun kita harus menghindari perbuatan tersebut.

Maksiat yang telah dituturkan tadi seperti tidak salat, mendekati zina, mencuri, berpacaran, dan gibah tidak membatalkan puasa. Akan tetapi, perbuatan tersebut dapat mengurangi amal puasa yang telah kita lakukan.

Puasa itu diibaratkan sebuah mangga. Ketika kita melakukan kesalahan dan kemaksiatan, daging buahnya diiris. Ketika kita pacaran, dagingnya diiris. Ketika kita gosip, diiris lagi dagingnya.

Sampai-sampai tanpa kita sadari ketika kita melakukan maksiat tersebut pahala kita habis tak tersisa dan yang amalan yang kita kerjakan akan sia-sia.

Mari sama-sama kita memperbaiki diri, muhasabah diri di bulan suci penuh berkah ini karena tidak ada kata terlambat dalam bertobat.

Semua orang punya kesalahan, akan tetapi bergantung pada cara kita memperbaikinya. Karena ada pepatah mengatakan, hati nurani yang bersih lebih berharga daripada uang.

Tingkatkan lagi iman kita. Jangan sampai hawa nafsu menguasai kita.

Perbanyaklah melakukan amalan-amalan kecil, seperti berzikir, berkata baik, selalu ingat kepada Allah, tadarus Quran, dan salat jangan sampai ketinggalan.

Niscaya ketika kita istikamah melakukannya, insya Allah bukan hanya bulan Ramadan, melainkan di bulan-bulan lainnya kita akan terbiasa menerapkannya.

Sulit itu pasti, akan tetapi kita harus yakin kita bisa melakukannya. Niatkan ketika kita melakukan sesuatu itu karena Allah jangan mengharapkan imbalannya. Karena amalan-amalan kecil akan menjadi bukit ketika kita melakukannya dengan istikamah.

Mari berlomba-lomba dalam kebaikan. Kita sudah tahu ilmunya bahwa hal tersebut dilarang. Jika kita tidak mengamalkannya, dosa yang akan kita peroleh dua kali lipat daripada orang yang belum mengetahuinya. []

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda