Berita Foto Opini

Opini: Resesi dan Narasi Pertumbuhan Ekonomi

Opini: Resesi dan Narasi Pertumbuhan Ekonomi

Muhammad Nur

Muhammad Nur

Muhammad Nur (Pegawai Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Banda Aceh)

Tahun 2023 diperkirakan dunia akan mulai mengalami resesi. Hal ini terutama dipicu oleh naiknya suku bunga acuan dari beberapa bank sentral negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Inggris. Pun demikian dengan negara-negara berkembang seperti Indonesia. Kita harus mulai bersiap diri dan waspada terhadap goncangan ekonomi global.

Namun demikian, optimisme terus digaungkan. Berkaca dari pengalaman resesi dunia di tahun 2008 dan beberapa periode setelahnya, negeri kita diprediksikan dapat bertahan dari badai resesi ekonomi dunia.

Selain Vietnam, Filipina, Kamboja, dan Malaysia, Indonesia juga diprediksi akan menjadi salah satu negara yang mampu bertahan di masa resesi tahun 2023 nanti (finance.detik.com, 16 Oktober 2022). Hal ini tentunya menjadi sebuah angin segar, tanpa menghilangkan kewaspadaan kita akan kondisi geopolitik dan ekonomi dunia.

Pengalaman Krisis 2008

Berkaca dari krisisi finansial global tahun 2008-2009, ekonom senior Faisal Basri menyatakan bahwa pada saat itu krisis ekonomi dipicu oleh krisis finansial di Amerika Serikat. Namun pada periode tersebut, terbukti bahwa Indonesia tidak terkena dampak parah dari resesi global.

Menurutnya, gejolak sosial domestik umumnya akan menandai potensi resesi yang terjadi. Faisal Basri juga menyatakan bahwa meski tantangan 2023 sangat berat.

Namun, berdasarkan pengalaman serupa tahun 2008 tersebut maka Indonesia diprediksi tidak akan terdampak resesi yang begitu parah (bisnis.tempo.co, 22 Oktober 2022). Mengapa demikian? Karena menurutnya keterkaitan perekonomian Indonesia dengan dunia masih relatif kecil.

Lebih lanjut ia mencontohkan saat krisis finansial global 2008, pertumbuhan ekonomi dunia rerata berada di angka minus 1 persen, namun Indonesia masih bertahan di angka pertumbuhan 4,6%, bahkan menjadi yang tertinggi nomor 3 dunia.

Hal ini jelas menunjukkan bahwa Indonesia relatif kuat menghadapi ancaman resesi dunia. Pun demikian halnya dengan ancaman serupa di tahun 2023 nanti. Kita tentu berharap bahwa pemerintah memiliki langkah-langkah strategis sehingga keterpurukan ekonomi dunia tidak berimbas secara dalam kepada perekonomian Indonesia.

Optimisme Pemulihan Ekonomi Nasional

Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) telah dilaksanakan sejak pandemi Covid-19 menyerang di awal tahun 2020. Tahun 2022 ini, berbagai program yang dilaksanakan dalam rangka PEN tersebut telah menampakkan hasil positif.

Pertumbuhan ekonomi di kuartal III tahun 2022 ini berada di atas angka 5%. Hal ini disampaikan oleh Menteri Keuangan dalam siaran pers APBN Kita, 21 Oktober 2022 lalu. Menteri Keuangan menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi yang mengalami penguatan ditopang oleh sejumlah indikator seperti PMI manufaktur yang terus berada di zona ekspansi, pertumbuhan konsumsi listrik dari sektor bisnis (tumbuh 17,3%) dan sektor industri (8,1%), serta industri pengolahan kapasitas produksi yang juga mengalami kenaikan (ekonomi.bisnis.com, 21 Oktober 2022).

Senada dengan hal tersebut, Bank Indonesia rupanya juga optimis bahwa pertumbuhan ekonomi pada tahun 2022 ini akan berada di kisaran 4,5-5,3% (ekonomi.bisnis.com, 24 Oktober 2022).

BI mendasarkan hal ini pada berbagai indikator dan hasil survei BI hingga awal semester II/2022, seperti keyakinan konsumen, penjualan eceran, dan PMI Manufaktur yang mengindikasikan terus berlanjutnya proses pemulihan ekonomi domestik.

Selain itu BI juga menyebut bahwa kinerja ekspor tetap positif ditengah melambatnya perekonomian dunia.

Sektor lain yang diproyeksikan dapat bertahan relatif kuat adalah bisnis logistik. Menurut Chairman Supply Chain Indonesia (SCI), bahwa orientasi dan penguatan logistik domestik perlu dilakukan untuk menghadapi ancaman resesi 2023 dengan cara memperkuat layanan untuk permintaan dan pasokan dalam negeri (finance.detik.com, 23 Oktober 2022).

Berikutnya, industri digital dan kesehatan juga diperkirakan dapat menjadi bisnis yang menjanjikan menurut Ketua Umum Perhimpunan Pengusaha Jasa Kantor Bersama Indonesia (finance.detik.com, 24 Oktober 2022).

Menurutnya, pada saat terjadinya krisis moneter tahun 1998 di Indonesia, justru melahirkan beberapa pengusaha baru yang sebelumnya belum pernah dikenal kiprahnya.

Strategi Pemerintah

Selain dari sektor bisnis dan privat, belanja pemerintah juga dapat menjadi faktor pendorong pertumbuhan ekonomi dan penahan terjadinya gejolak resesi. Hingga triwulan III tahun 2022, belanja negara dalam APBN tercatat mencapai Rp. 1.913,8 triliun (ekonomi.bisnis.com, 21 Oktober 2022).

Realisasi tersebut terdiri dari belanja K/L sebesar Rp. 674,4 triliun (terbagi dalam belanja pegawai, barang, dan modal), belanja non-K/L sebesar Rp. 686,8 triliun (terutama untuk penyaluran subsidi, kompensasi BBM dan listrik, serta pembayaran pensiun dan jaminan kesehatan ASN), belanja transfer ke daerah sebesar Rp. 552,6 triliun (untuk dana BOS/BOP, DAK Fisik, dan Dana Desa), serta pembiayaan investasi sebesar Rp. 60 triliun (untuk penyelesaian proyek strategis nasional dan pembiayaan sektor perumahan).

Strategi lain yang disiapkan pemerintah antara lain akan terus dilakukan penguatan pada sektor UMKM dengan memberikan insentif perpajakan serta dukungan permodalan, dan untuk para pencari kerja pemerintah juga masih memberikan program kartu prakerja (money.kompas.com, 21 Oktober 2022).

Selain itu, koordinasi pemerintah pusat dengan pemerintah daerah melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) juga terus diperkuat agar inflasi khususnya inflasi pangan dapat ditekan (nasional.kontan.co.id, 17 Oktober 2022).

Pemerintah juga akan berusaha menjaga stabilitas makro dengan fokus pada reformasi di berbagai bidang, seperti pasar tenaga kerja, kemudahan berbisnis, perubahan iklim, harmonisasi peraturan perpajakan, hubungan pemerintah pusat dan daerah, termasuk reformasi sektor keuangan sehingga tercipta fundamental ekonomi yang kuat (fokus.kontan.co.id, 24 Oktober 2022).

APBN 2023 sudah disiapkan untuk membangkitkan optimisme sekaligus menjaga kewaspadaan untuk menghadapi resesi global, demikian dinyatakan oleh Staf Khusus Menteri Keuangan Bidang Komunikasi Strategis, Yustinus Prastowo (money.kompas.com, 21 Oktober 2022).

Sementara itu, langkah antisipatif yang perlu disiapkan oleh pemerintah secara terencana dan sistematis antara lain dengan melakukan percepatan program PEN termasuk upaya realokasi anggaran yang belum terpakai.

Kemudian  meningkatkan konsumsi pemerintah, memperkuat ekonomi domestik melalui pemberdayaan UMKM, memperbanyak ekspor dan mengurangi impor yang tidak perlu, meningkatkan nilai bantuan sosial untuk menjaga daya beli masyarakat miskin, menghemat anggaran dengan menghentikan proyek berbiaya tinggi, memperkuat kebijakan stabilitas nilai tukar rupiah, serta mengembangkan energi hijau sebagai alternatif energi fosil (Ade Surya, diakses dari berkas.dpr.go.id, Oktober 2022).

Kewaspadaan terhadap potensi serangan resesi ekonomi dunia tetap perlu dikedepankan. Walaupun sejumlah indikator pertumbuhan ekonomi menunjukkan penguatan, namun kita tidak boleh lengah. Ketidakpastian kondisi geopolitik dunia dan kecenderungan kenaikan suku bunga acuan tetap perlu diperhatikan dengan saksama.

(Artikel ini adalah opini pribadi penulis dan tidak mewakili pandangan organisasi tempat penulis bekerja saat ini)

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda