Latifah Lustikasari. | Ajeng

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Menjadi relawan pasti memiliki cerita suka dan duka. Salah satunya ialah Latifah Lustikasari, staf marketing dan komunikasi Dompet Dhuafa Lampung.
Ini disampaikan Latifah kemarin di aulo Pusat Bahasa UIN Raden Intan Lampung. Ia bersama Kepala Cabang Dompet Dhuafa Lampung Yogi Achmad Fajar menjadi narasumber seminar jurnalistik yang diadakan wartalampung.id untuk memaknai HUT ke-2 media massa ini yang jatuh pada 1 November 2022.
Ia memiliki pengalaman saat menjadi relawan untuk daerah Pesisir Selatan, Kabupaten Pesisir Barat . Saat itu ia dan tim ditugaskan menjadi relawan di tempat pegunungan.
Jalan yang ia lewati tidaklah mudah. Saat sampai di desa yang dituju, ia melihat semua masyarakat terlihat kaget dengan kedatangannya.
Saat ia tanya, ternyata belum pernah ada mobil keluarga yang memasuki kawasan daerah mereka. Hanya truk-truk besar pengangkut buah sawitlah yang acap mereka temui.
Mendengar penjelasan warga, Latifah pun menjelaskan alasan ia dan tim datang.
Latifah dan tim pun mulai bergerak untuk observasi lapangan. Ia tertegun melihat keadaan masjid setempat yang tidak terurus. Bahkan warga pun mengaku bahwa mereka tidak pernah memakai masjid tersebut.
Warga juga tidak bisa membaca Alquran dan bahkan mereka pun belum pernah melihat Alqu’an. Saat Latifah dan tim Dompet Dhuafa memberikan Alquran gratis, masyarakat baru paham bagaimana bentuk dari mushaf Alquran itu.
Latifah merasa miris, pada era canggih seperti ini, masih ada daerah yang warganya perlu diberikan pemahaman agama.
Kata Latifah, diperlukan relawan-relawan untuk memberikan arahan dan pemahaman agama Islam kepada penduduk-penduduk pelosok yang selama ini tidak terjangkau. [Aina Salsabila, Anggota Ekskul Jurnalistik Mahad Al Jamiah UIN Raden Intan Lampung]
