Abdul Hakim. | Wartalampung.id

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Makna buku bagi seorang Abdul Hakim sangat besar. Buku, buat anggota Komite IV DPD RI itu, menjadi kawan setia dalam mencari tambahan referensi untuk kehidupan.
Buku, bagi Hakim, adalah sumber referensi yang akan menentukan langkahnya sejauh ini.
Memaknai Hari Buku 17 Mei yang lalu, Hakim mengatakan, ia membaca banyak buku terjemahan soal dunia Islam dari Timur Tengah saat aktif sebagai mahasiswa Universitas Lampung.
Khususnya lagi saat interaksi dengan para pegiat Islam di Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII) Lampung di Masjid AL Munawarah, Lebakmanis, Bandar Lampung.
Di Dewan Dakwah, Hakim membaca banyak buku yang membuka persepsinya soal Islam dan dunia luar. Dari buku pula, Hakim mulai berinteraksi dengan ragam pemikiran pemikir dan penggerak keislaman di luar dan dalam negeri.
Buku-buku itu, kata Hakim, menjadi salah satu sumber baginya dalam memaknai kehidupan. Dari situ, lulusan pondok pesantren dari Pandeglang, Banten, itu mendapat landasan bergerak dalam dimensi dakwah keislaman sampai dengan sekarang.
Pendeknya, Hakim menilai, buku bisa menjadi salah satu mata air kehidupan. Dari buku, kata dia, Hakim mendapat ilmu dan pengetahuan yang mahaluas.
Hakim berpendapat, sekarang buku menemui kekhasannya dalam masa dunia digital. Buku dalam artian fisik mulai tergeser dengan buku dalam format digital.
Namun, kata dia, itu tidak menjadi masalah. Sebab, esensinya adalah menjadi sumber bacaan yang terpercaya.
Hakim mendorong milenial untuk akrab dengan buku. Dengan banyak membaca, pengetahuan akan bertambah.
Dengan banyak membaca, kita bisa bijak dalam menilai banyak hal dalam kehidupan. Sekaligus membentuk cara pandang kita terhadap kompleksitas kehidupan. []
