Haris Muwardi. | Dokumentasi

Dr. Eng. Haris Murwadi, S.T., M.T., Dosen Pascasarjana Universitas Bandar Lampung Peneliti di Pusat Studi Lingkungan Binaan dan Arsitektur (Puslib Arsitektur)
Bandar Lampung mengalami hujan yang cukup deras (Jumat, 15 April 2022) hingga menyebabkan banjir di beberapa titik. Bahkan, beberapa media menyebutkan terdapat terjadi di sejumlah wilayah antara lain Jalan Kartini, Jalan Teuku Umar, Tanjungkarang Pusat, Jalan, Enggal, Kedaton, Rajabasa, dan sejumlah titik lainnya.
Kejadian banjir ini juga menyebabkan kemacetan panjang di ruas-ruas jalan protokol.
Kejadian banjir di Kota Bandar Lampung ini sebenarnya sudah terjadi berulang kali. Banjir terjadi setiap terjadinya hujan yang cukup deras atau dalam durasi yang cukup lama.
Beberapa kasus banjir yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan terjadinya kerusakan pada hunian hingga infrastruktur. Hal ini berarti bahwa kejadian banjir tidak boleh lagi terulang di Kota Bandar Lampung.
Kota-kota di Indonesia khususnya Bandar Lampung yang terletak di negara tropis semestinya menyadari bahwa fenomena hujan merupakan hal yang terjadi berulang setiap tahunnya.
Jika fenomena yang terjadi selalu dianggap biasa namun mendatangkan musibah, berarti ada yang salah dengan persepsi dan perilaku masyarakat maupun pembuat kebijakannya.
Banjir yang terjadi merupakan masalah yang perlu disikapi secara serius dan prioritas. Sehingga, musibah banjir yang terjadi secara berulang dapat segera diakhiri.
Penanganan banjir tersebut dapat dilakukan melalui delapan langkah strategis berikut:
Pertama, pemetaan titik rawan dan potensi banjir kota. Pemetaan ini bertujuan untuk mengetahui jumlah, letak dan posisi titik rawan banjir maupun yang berpotensi banjir di kemudian hari.
Melalui pemetaan ini, penyebab terjadinya banjir di suatu titik dapat diketahui dan terklasifikasi apakah murni disebabkan oleh alam, perilaku masyarakat, atau bahkan terkait daya dukung infrastrukturnya.
Kedua, pemetaan titik (area) resapan air alami. Pemetaan ini bertujuan untuk mengetahui jumlah letak dan posisi titik resapan air. Sehingga, kita dapat mengetahui seberapa besar volume air maksimal yang dapat didukung oleh masing-masing titik (area) resapan.
Ketiga, normalisasi Daerah Aliran Sungai (DAS). Normalisasi DAS berupa mengembalikan kondisi, dimensi, garis sempadan sungai (GSS) dan fungsi DAS sebagaimana semestinya.
Keempat, ekstensifikasi dan optimalisasi Ruang Terbuka Hijau (RTH). Ekstensifikasi RTH merupakan penambahan titik (area) RTH terutama di area-area yang dekat dengan titik rawan banjir.
Hal ini bertujuan untuk menambah ruang-ruang resapan tambahan. Selain itu, RTH publik dan privat juga perlu selalu dievaluasi secara intensif agar dapat mendukung resapan air hujan secara optimal.
Kelima, evaluasi ketersediaan dan dimensi sumur peresapan air hujan (SPAH). Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui kondisi eksisting ketersediaan SPAH dari setiap fungsi bangunan (rumah/hunian, bangunan komersial, bangunan perdagangan, bangunan Pendidikan, dsb).
Melalui evaluasi ini, kita dapat mengetahui jumlah persentase fungsi-fungsi bangunan yang telah memiliki SPAH serta berapa cukup ukuran dimensi SPAH tersebut dibandingkan luas lahan dan bangunannya.
Ketersediaan SPAH bangunan ini merupakan salah satu hal efektif dalam menyerapkan air hujan ke tanah di masing-masing area (fungsi bangunan) hingga mengurangi beban drainase kota.
Keenam, evaluasi sistem drainase yang ada. Evaluasi ini bertujuan untuk mengetahui seberapa efektif fungsi drainase yang sudah tersedia dari tingkat hunian, lingkungan, jalan, hingga kota (kawasan).
Evaluasi ini mengetahui efektivitas setiap level drainase. Jika drainase yang sudah tersedia belum mampu menghindari genangan air pada ruas-ruas jalan, sudah semestinya sistem drainase tersebut perlu dikembangkan kembali sesuai dengan kebutuhan dan konteks lingkungan kota.
Penyusunan masterplan drainase sangat penting dilakukan sebagai langkah strategis yang prioritas.
Ketujuh, sistem pencegahan penyumbatan drainase. Sistem pencegahan penyumbatan ini bertujuan untuk menghindari penyumbatan drainase yang disebabkan oleh alam (pasir/tanah, sampah dedaunan) maupun sampah buangan manusia (sampah plastik).
Pencegahan penyumbatan ini dapat dilakukan berupa perawatan drainase secara berkala (bulanan). Sedangkan sistem pendukung lainnya adalah melalui edukasi dan evaluasi pengelolaan sampah yang dimulai dari level individu, rumah tangga, pendidikan, perkantoran, perdagangan, pariwisata, hingga pemerintahan.
Edukasi ini perlu melibatkan berbagai pihak yaitu pemerintah, semua institusi pendidikan, serta rumah tangga. Sehingga, selain kota memiliki drainase yang lancar, secara otomatis kota juga akan terlihat bersih.
Kedelapan, penggunaan material perkerasan (hard material) yang ramah lingkungan. Material ramah lingkungan yang dimaksud adalah material yang mampu menyerap air atau material berpori yang dapat menghantarkan air ke permukaan tanah. sehingga, material perkerasan dapat tetap berkontribusi dalam mengurangi aliran air yang tak terduga yang dapat menimbulkan dampak banjir.
Momentum Hari Bumi (22 April 2022), kita berharap pemangku kepentingan segera memperhatikan dan memprioritaskan penanganan banjir di masa yang akan dating melalui langkah strategis di atas.
Semoga dari delapan langkah strategis di atas, Kota Bandar Lampung dapat terhindar dari banjir setiap tahunnya bahkan dapat menjadi kota yang nyaman dan berkelanjutan sebagaimana yang banyak diimpikan oleh warga masyarakat. []
