Berita Foto Opini

Opini: Wanita Lampung di Seputaran Isu Gender

Opini: Wanita Lampung di Seputaran Isu Gender

Gun Gun Nugraha. | Dokumentasi

Gun Gun Nugraha. | Dokumentasi

Gun Gun Nugraha, Statistisi Muda BPS Provinsi Lampung

Pada 9 Maret 2022 yang lalu, Indonesia memperingati Hari Wanita Indonesia. Sejalan dengan itu, isu gender—meskipun berbicara gender tidak melulu berbicara kaum wanita—masih menjadi perbincangan hangat, bukan hanya di Indonesia, di dunia pun demikian. Lalu bagaimana isu gender di Lampung, terutama wanita Lampung di seputaran isu gendernya?

BPS dalam rilisnya menyebutkan bahwa penduduk wanita di Lampung pada pertengahan tahun 2021 mencapai 4,43 juta jiwa atau 48,78% dari jumlah total penduduk Lampung yang mencapai 9,08 juta jiwa.  Kondisi ini menggambarkan bahwa jumlah penduduk pria di Lampung masih lebih banyak dibandingkan penduduk wanita.

Sex ratio penduduk Lampung mencapai 105,00 atau dengan kata lain, terdapat 105 penduduk pria dari setiap 100 penduduk wanita (angka proyeksi interim Sensus Penduduk 2020).  Selisih jumlah penduduk yang tergolong tidak terpaut cukup besar ini menunjukkan bahwa wanita turut memiliki potensi yang menjanjikan terhadap kemajuan bidang sosial ekonomi di Lampung.

Pembangunan Gender

Pembangunan gender dapat diukur melalui angka Indeks Pembangunan Gender (IPG).  IPG Lampung pada tahun 2021 mencapai 90,37 (skala 0–100) atau tumbuh 0,04% dibandingkan tahun 2020 yang mencapai 90,33.

IPG dihitung dengan cara membandingkan capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) wanita dengan IPM pria dikalikan 100.  IPG yang mencapai angka 100 menunjukkan bahwa pembangunan manusia antara wanita dan pria tidak memiliki perbedaan atau terjadi kesetaraan.

Di Lampung capaian IPM wanita masih lebih rendah dibanding capaian IPM pria. Pada tahun 2021, IPM wanita mencapai 66,81 sedangkan IPM pria mencapai 73,93.

Lebih detail dapat diuraikan bahwa untuk dimensi kesehatan, umur harapan hidup (UHH) wanita lebih tinggi daripada pria. UHH wanita mencapai 72,69 tahun sementara UHH pria mencapai 68,68.  UHH wanita yang mencapai 72,69 tahun mendeskripsikan bahwa harapan hidup seorang wanita yang lahir pada tahun 2021 mencapai 72,69 tahun sedangkan pria sebesar 68,68 tahun.

Pada dimensi pendidikan, harapan lama sekolah (HLS) wanita juga lebih baik daripada pria. HLS wanita mencapai 12,95 tahun sedangkan HLS pria mencapai 12,64 tahun. HLS wanita 12,95 tahun menjelaskan bahwa harapan lamanya bersekolah penduduk wanita berusia 7 tahun plus pada tahun 2021 mencapai 12,95 tahun atau mendekati tingkat diploma I.

Komponen lainnya adalah rata-rata lama sekolah (RLS).  Pada komponen ini, RLS wanita justru lebih rendah dibandingkan RLS pria.  RLS wanita mencapai 7,76 tahun sedangkan pria mencapai 8,39 tahun.  RLS wanita 7,76 tahun menjelaskan bahwa lamanya rata-rata lama sekolah wanita berusia 25 tahun plus pada tahun 2021 mencapai 7,76 tahun atau setingkat kelas 7 sedangkan pria mencapai 8,39 tahun atau setingkat kelas 8.

Terakhir pada dimensi ekonomi. Pada dimensi ini, pengeluaran per kapita yang disesuaikan (sebagai komponen yang digunakan) wanita tidak lebih tinggi daripada pria. Capaian komponen ini untuk wanita sebesar 7,78 juta per tahun per kapita sedangkan pria sebesar 14,31 juta per tahun per kapita.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk konteks pembangunan gender di Lampung, dimensi ekonomi memang masih memiliki ketimpangan yang masih cukup lebar antara pria dan wanita.  Namun demikian perlu dipahami lebih jauh bahwa di Indonesia umumnya, pria memang menjadi tumpuan dan tulang punggung dalam perekonomian keluarga.

Beberapa perusahaan di Indonesia juga belum sepenuhnya memprioritaskan wanita sebagai bagian dari tenaga kerjanya, terutama ketika dikaitkan dengan pekerjaan-pekerjaan kasar.

Pemberdayaan Gender

Isu gender kedua adalah masalah pemberdayaan gender.  Pemberdayaan gender biasanya diukur dengan Indeks Pemberdayaan Gender (IDG). IDG menitikberatkan pada partisipasi, dengan cara mengukur ketimpangan gender di bidang ekonomi, partisipasi politik, dan pengambilan keputusan. Proporsi penduduk sangat berpengaruh dalam penghitungan IDG.

Pada tahun 2020 (data 2021 belum rilis), Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Lampung mencapai 69,06. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya mengalami penurunan. Pada tahun 2019, IDG Lampung mencapai 69,23.

Penyebab adalah karena terjadinya perubahan komposisi persentase keterlibatan wanita di parlemen dan perubahan proporsi penduduk wanita.

Variabel penyusun IDG adalah persentase keterlibatan di parlemen, persentase tenaga manager, profesional, administrasi, teknisi, dan persentase sumbangan dalam pendapatan keluarga. Pada tahun 2020, persentase keterlibatan wanita di parlemen adalah 20,00%.  Untuk persentase tenaga manager, profesional, administrasi, teknisi wanita pria adalah 53,05%.  Sementara persentase sumbangan wanita dalam pendapatan keluarga hanya mencapai 29,52%.

Ketimpangan Gender

UNDP menghitung ketimpangan gender melalui Gender Inequality Index (GII).  GII sendiri merupakan indikator untuk menyempurnakan kelemahan ukuran ketimpangan gender sebelumnya seperti Gender Empowerment Measure (GEM) dan Gender Development Index (GDI).

Namun, GII tidak dapat digunakan ketika data di-break down di level subnasional.  Hal ini disebabkan karena indikator yang digunakan UNDP tidak tersedia secara reguler (tahunan) hingga level provinsi atau kabupaten seperti kematian ibu (maternal mortality rate) dan tingkat fertilitas remaja (adolescence birth rate).

BPS menggunakan ukuran ketimpangan gender melalui pendekatan indeks ketimpangan gender (IKG).  Dimensi yang digunakan masih sama dengan GII (kesehatan, pemberdayaan, dan pasar tenaga kerja), hanya saja beberapa indikator menggunakan proksi lain.

Angka Kematian Ibu didekati dengan faktor risikonya yaitu persalinan yang dilakukan di rumah atau tidak di fasilitas kesehatan, sedangkan ukuran fertilitas remaja didekati dengan proporsi wanita berusia 15-49 tahun yang pernah kawin dan saat melahirkan hidup pertama berusia kurang dari 20 tahun.

Selain itu, dalam dimensi pemberdayaan, indikator pendidikan yang digunakan oleh UNDP adalah persentase penduduk berusia 25 tahun ke atas yang berijazah terakhir minimal SMP, sedangkan BPS menggunakan batasan SMA.  Sebagai catatan, penghitungan IKG di BPS sifatnya masih kajian atau studi.

Capaian IKG nasional pada tahun 2020 adalah 0,400.  Sementara Lampung pada 2020 mencapai 0,403.  Selama rentang 2017-2020, IKG Lampung terus membaik. Pada dimensi kesehatan, indikator proporsi wanita pernah kawin usia 15–49 tahun yang pernah melahirkan hidup dalam dua tahun terakhir tidak di fasilitas kesehatan yang pada tahun 2019 adalah sebesar 13,15%, turun menjadi 10,90% pada tahun 2020.

Indikator proporsi wanita berusia 15–49 tahun yang pernah kawin dan saat melahirkan hidup pertama berusia kurang dari 20 tahun mengalami sedikit kenaikan.  Indikator ini naik dari 28,32% pada tahun 2019, menjadi 28,90% pada tahun 2020.

Pada dimensi pemberdayaan, peningkatan signifikan terjadi pada indikator persentase penduduk wanita yang berpendidikan minimal SMA menjadi kontributor utama dalam peningkatan IKG. Pada tahun 2019 mencapai 26,10% meningkat menjadi 29,36% pada tahun 2020.

Sementara itu, pada dimensi pasar tenaga kerja yang digambarkan dengan TPAK juga menunjukkan hal yang cukup baik. Terjadi penurunan gap kesempatan kerja antara laki-laki dan perempuan.

Angka IKG Lampung yang mencapai 0,403 pada tahun 2020 memang masih menunjukkan bahwa ketimpangan gender di Lampung masih cukup lebar.  Namun perlu di-highlight trennya menurun setiap tahun.

Penurunan tersebut disebabkan karena terus membaiknya semua aspek (kesehatan, pemberdayaan, dan pasar tenaga kerja). PR kita hanya tinggal mendorong agar penurunannya lebih cepat. Fokus pemerintah daerah tentu harus berangkat dari regulasi pembangunan gender, kemudian semakin meningkatkan bidang kesehatan, pendidikan, dan memperluas pasar tenaga kerja yang lebih egaliter antara pria dan wanita. []

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda