Berita Foto Bisnis

Pedagang Sate Taichan, Dipukul Pandemi Kini Siap Bangkit Lagi

Pedagang Sate Taichan, Dipukul Pandemi Kini Siap Bangkit Lagi

Sate taichan. | Renaldi

Sate taichan. | Renaldi

Wartalampung.id Bandar Lampung – Pandemi virus corona (Covid-19) telah memukul banyak pelaku usaha di berbagai sektor, tak terkecuali pelaku usaha sate taichan di Bandar Lampung.

Sony (25 tahun), penjual sate Yamayam mengungkapkan omzetnya terpangkas 50 persen sampai 60 persen saat pandemi Covid-19 terjadi.

Sony mengatakan usaha ini ia rintis sejak 2019, berlokasi di Jalan Dr Harun II, Gang Klutum II, No 11B, Tanjungkarang Timur Bandar Lampung.

Omzet menurun lantaran pemerintah memberlakukan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Ini membuat banyak kios terpaksa harus menutup usaha dan sepi.

Sony bahkan harus mulai berjualan lewat Instagram sembari menunggu kejelasan soal PPKM. Berbekal promosi lewat para influencer di media sosial, ia mencoba bertahan menjalani usahanya dan sejak April 2020 di akun Instagram @taichanyamayam.

“Jualan konvensional dan online itu berbeda ya, keuntungannya menurun 50 persen sampai 60 persen. Dulu omzetnya Rp1 juta sampai dengan Rp2j uta per hari dan bisa menghabiskan 500 sampai 700 tusuk. Sekarang hanya 100-200! tusuk dengan omzet paling maksimal Rp400 ribu,” ujar Sony kepada wartalampung.id, Rabu (29/9/2021)

Sony juga mengeluhkan minimnya daya beli masyarakat akibat pandemi. Akibatnya stok satenya yang tersedia tidak terjual dan harus disimpan di mesin pendingin sehingga tetap segar saat disajikan.

“Per hari aku stok 800 tusuk tapi masih bisa disimpan dan tahan,” ungkap dia.

Namun akibat modal yang terbatas, ia sangat berharap bisa mendapatkan modal usaha dari pemerintah.

Meskipun banyak perusahaan fintech yang memberikan akses permodalan, Sony enggan untuk mencobanya.

Ia mengaku masih khawatir dengan sistem keamanannya sehingga meskipun butuh modal ia memilih lembaga penyalur modal terpercaya.

“Saya berencana kembali ke usaha konvensional, tetap dengan protokol Covid-19,” ujarnya.[Renaldi, Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UBL]

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda