Decky Ferdiansyah. | Dokumentasi

Decky Ferdiansyah, Perencana Ahli Madya Bappeda Provinsi Lampung
Menteri Keuangan RI Sri Mulyani menyampaikan bahwa Pandemi Covid-19 akan menjadi endemi pada 2022. Demikian dikutip dari situs kompas.com. Hal ini didasarkan pada survei Majalah Nature yang menyebutkan bahwa 89 persen dari 119 ilmuwan dari 23 negara sepakat bahwa pandemi akan berubah menjadi endemi dan tidak serta-merta hilang.
Senada dengan pernyataan tersebut, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan bahwa pandemi Covid-19 akan berubah statusnya menjadi endemi karena melihat perkembangan kasus harian Covid-19 yang mengalami tren penurunan. Sehingga menurutnya, status endemi akan segera terjadi mengingat situasi sudah mulai terkendali.
Lalu apakah endemi itu? Masih dari situs yang sama, endemi adalah keadaan munculnya wabah penyakit yang konstan terjadi di suatu tempat dan tidak sepenuhnya hilang dalam jangka lama. Sedangkan pandemi adalah wabah penyakit yang menyebar secara serentak dan meluas ke banyak negara.
Pandemi dan Indikatornya
Perkembangan kasus Covid-19 sepanjang Agustus-September 2021 tampaknya telah membuat pemerintah, baik pusat dan daerah, telah bersiap menyusun berbagai skenario bila status pandemi berganti menjadi endemi. Terlebih sejak ditetapkannya perpanjangan PPKM terus-menerus oleh pemerintah pusat, kasus harian Covid-19 menunjukkan tren penurunan, termasuk di Lampung.
Sehingga pelonggaran terhadap berbagai aktivitas masyarakat telah dilakukan, seperti diberlakukannya program tatap muka di berbagai jenjang sekolah dan dibukanya mal, bioskop serta tempat-tempat wisata.
Secara umum, ada dua indikator dalam menilai situasi pandemi, yaitu indikator kapasitas respons dan indikator laju penularan. Indikator kapasitas respons menggambarkan sejauh mana upaya untuk mengurangi laju penularan Covid-19, yang terdiri dari upaya testing, tracing dan treatment atau biasa disebut sebagai 3 T.
Adapun indikator laju penularan menggambarkan sejauh mana penularan Covid-19 terjadi di tengah-tengah masyarakat, yang terdiri dari penambahan kasus positif harian (positivity rate), jumlah kasus positif (active case) dan tingkat kematian (case fatality rate/CFR).
Beberapa epidemiolog membandingkan indikator kapasitas respons sebagai kondisi di hulu dan indikator laju penularan sebagai kondisi di hilir. Dengan kata lain, perkembangan laju penularan merupakan gambaran sejauh mana efektivitas kapasitas respon yang dilakukan oleh pemerintah, baik pemerintah pusat maupun daerah.
Lalu bagaimana perkembangan terbaru dari indikator-indikator tersebut? Dikutip dari Situs kawalcovid.id, per tanggal 24 September 2021 secara nasional positivity rate mencapai 1,66% dan CFR sebesar 3,36%. Bila dibandingkan dengan positivity rate per 16 Agustus 2021 yang mencapai 20,45%, angka positivity rate telah berkurang sangat signifikan.
Namun tidak dengan CFR yang justru bertambah bila dibandingkan CFR per 16 Agustus 2021 yang sebesar 3,08%. Bila mengacu kepada standar yang ditetapkan oleh WHO, angka-angka tersebut mengonfirmasi bahwa status pandemi di Indonesia sudah cukup terkendali. WHO dan beberapa negara mengapresiasi kebijakan penanganan pandemi yang dilakukan oleh pemerintah.
Namun sekali lagi, capaian ini tidak boleh membuat kita terlena karena penularan masih terjadi di tengah-tengah masyarakat. Begitupun tingkat kematian yang relatif masih berada di atas standar WHO.
Selain indikator-indikator di atas, upaya vaksinasi Covid-19 untuk mewujudkan kekebalan masyarakat (herd immunity) juga menjadi hal yang sangat penting dalam mengendalikan pandemi. Pengalaman di negara-negara lain membuktikan bahwa cakupan vaksinasi yang tinggi terbukti efektif menurunkan kasus harian secara signifikan.
Bagaimana dengan cakupan vaksinasi Covid-19 di Indonesia? Pada kurun yang sama, cakupan vaksinasi di Indonesia masih tergolong rendah. Bahkan di Provinsi Lampung, cakupan vaksinasi baru mencapai 17%. Besarnya kebutuhan vaksin yang harus impor, luasnya
wilayah, timpangnya kondisi infrastruktur transportasi, dukungan sarana distribusi dan ketersediaan petugas vaksinator menjadi beberapa faktor yang membuat cakupan vaksinasi Indonesia belum setinggi negara-negara lainnya.
Survei Perilaku Masyarakat Pada Masa PPKM Darurat di Provinsi Lampung Pada tanggal 5 Agustus 2021, Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung menyampaikan hasil Survei Perilaku Masyarakat Pada Masa PPKM Darurat di Provinsi Lampung. Tujuan survei adalah untuk mengetahui informasi tingkat kepatuhan terhadap protokol kesehatan 5M, kegiatan yang dilakukan selama PPKM dan perasaan yang dialami selama berada di rumah.
Hasil survei menunjukkan bahwa responden berjenis kelamin perempuan memiliki tingkat kepatuhan menjalankan protokol kesehatan 5M yang lebih tinggi daripada responden berjenis kelamin laki-laki.
Sebagai contoh, tingkat kepatuhan dalam menggunakan satu masker sebesar 90,99% pada responden perempuan dan 79,21% pada responden laki-laki. Untuk tingkat kepatuhan menggunakan dua masker, responden perempuan sebesar 54,16% dan laki-laki sebesar 38,50%.
Untuk protokol mencuci tangan menggunakan sabun/hand sanitizer, tingkat kepatuhan responden perempuan sebesar 78,56% dan laki-laki sebesar 60,68%.
Untuk kegiatan yang dilakukan selama PPKM, lebih dari 60% responden menyebutkan bahwa berkomunikasi dengan keluarga/saudara/teman melalui telepon atau media sosial dan banyak berdoa/beribadah adalah kegiatan yang paling banyak dilakukan selama PPKM.
Dua kegiatan tersebut cenderung identik dengan pembatasan mobilitas. Di sisi lain, sebanyak 44,69% responden menyebutkan kegiatan olahraga dan lebih dari 10% mengunjungi keluarga dan rekreasi. Kegiatan olahraga, mengunjungi keluarga dan rekreasi cenderung identik dengan mobilitas masyarakat, sesuatu yang justru dilarang atau dibatasi oleh pemerintah.
Data lainnya menyebutkan bahwa 28,44% responden merasakan sangat jenuh berdiam diri di rumah dan 33,54% merasa jenuh. Data-data tersebut akhirnya menjelaskan mengapa ruang-ruang publik seperti lapangan olahraga, taman dan ruang terbuka lainnya cenderung tetap ramai selama masa PPKM. Sehingga bila dikaitkan dengan penambahan kasus harian Covid-19 di Provinsi Lampung yang justru meningkat tajam di awal PPKM, maka langkah pemerintah melalui 3Tdan program vaksinasi Covid-19 seolah menjadi tidak efektif.
Hal ini terjadi akibat masih banyak masyarakat yang tetap melakukan aktivitas secara bersama-sama di ruang-ruang publik selama masa PPKM. Dengan gambaran ini, sulit rasanya berharap pandemi akan berakhir dalam waktu singkat karena tingkat kepatuhan masyarakat dalam menjalankan protokol kesehatan 5M masih tergolong rendah.
Selain itu, ada pelajaran yang sangat berharga dari melonjaknya kasus harian Covid-19 di Singapura beberapa waktu terakhir ini. Kementerian Kesehatan Singapura mengakui terjadinya lonjakan tersebut akibat pergerakan warga yang sangat masif untuk pengunjungi mal dan tempat-tempat wisata.
Tingkat vaksinasi yang tinggi dan rendahnya positivity rate selama beberapa bulan membuat warga merasa yakin bahwa pandemi telah terkendali. Akibatnya, lonjakan kasus tak terhindarkan. Sehingga dengan kondisi tersebut, Singapura harus kembali memberlakukan lockdown secara menyeluruh terhadap berbagai aktivitas warganya.
Pandemi Belum Usai
Bila berkaca pada konsep new normal atau adaptasi kebiasaan naru yang telah dijadikan Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2020, sudah selayaknya para pengambil keputusan di Provinsi Lampung mengkaji secara lebih mendalam upaya penanganan pandemi Covid-19 ke depannya.
Kondisi yang terjadi di Singapura harus juga menjadi pelajaran berharga. Tingkat vaksinasi yang tinggi saja ternyata tidak menjadi jaminan bahwa pandemi telah terkendali.
Terlebih hasil Survei Perilaku Masyarakat pada masa PPKM telah menunjukkan bahwa penerapan protokol kesehatan 5M masih belum sepenuhnya dipatuhi oleh masyarakat.
Akan lebih bijak jika Pemerintah Provinsi Lampung dan kabupaten/kota se-Provinsi Lampung tetap fokus kepada optimalisasi 3T dan peningkatan cakupan vaksinasi Covid-19.
Di lain pihak, seluruh komponen masyarakat juga harus lebih berkomitmen dalam penerapan protokol kesehatan 5M dalam kehidupan sehari-hari.
Sehingga, menganggap pandemi telah berubah status menjadi endemi adalah hal yang berpotensi melenakan kita dalam memerangi virus berbahaya ini. Keselamatan dan nyawa manusia jauh lebih penting daripada status pandemi ataupun endemi.
Nyawa bukanlah sekadar hitungan angka statistik, melainkan merupakan anugerah Tuhan yang paling berharga dalam peradaban manusia. []
