Berita Foto Bisnis

Dihantam Pandemi, Pemilik Usaha Fotokopi Sekitar UBL Pinjam Bank untuk Jaga-Jaga, Terparah Dibandingkan Krismon

Dihantam Pandemi, Pemilik Usaha Fotokopi Sekitar UBL Pinjam Bank untuk Jaga-Jaga, Terparah Dibandingkan Krismon

Usaha fotokopi di Jalan ZA Pagaralam. | Renaldi

Usaha fotokopi di Jalan ZA Pagaralam. | Renaldi

Wartalampung.id Bandar Lampung – Jasa print dan fotokopi adalah bidang usaha yang tak terpisahkan dari kehidupan kampus dan perkantoran.

Di mana ada kampus berdiri, di sana biasanya turut hadir pula sejumlah usaha fotokopi yang menyasar mahasiswa sebagai pasar utamanya.

Di Kota Bandar Lampung, salah satu pusat kegiatan kampus yang senantiasa ramai dengan hilir mudik mahasiswa ada di bilangan sekitar kampus UBL di Jalan ZA Pagaralam Labuhanratu.

Di sana juga berderet jasa print dan fotokopi.

Namun, seiring dengan liburnya seluruh aktivitas kampus di kala pandemi Covid-19 melanda, usaha fotokopi terkena imbasnya.

Selama hampir lima bulan belakangan, nyaris tak ada lagi pemandangan antrean mahasiswa yang bergantian memakai komputer dan menanti tugas-tugasnya dicetak.

Khaidir (57) menjadi salah satu yang terdampak. Ketika Wartalampung.id menyambangi kiosnya, Rabu (22/9/2021) siang, pria yang telah menjalankan usahanya tersebut tengah duduk bertopang dagu.

Kiosnya sepi, hanya satu dari dua mesin fotokopi yang dinyalakan. Komputer dan mesin print pun hanya dioperasikan 3 unit.

“Perbedannya jauh sekali, paling hanya 1-3 mahasiswa yang datang dalam sehari. Penghasilan enggak sampai 10% dari biasanya,” ungkapnya.

Dia mengatakan, pada hari-hari biasanya, usahanya dapat mengantongi penghasilan kotor rata-rata Rp1.500.000.Saat ini, untuk mendapat Rp200.000 dalam satu hari pun dirasa sulit.

“Pas awal awal PPKM itu sangat sepi. Namun akhir akhir ini alhamdullilah PPKM sudah turun kampus UBL juga sudah mulai ramai dengan mahasiswa akhir,” ungkapnya.

Kondisi ini diakuinya merupakan yang terparah selama lebih dari 20 tahun berjualan. Bahkan jauh lebih parah dibanding saat krisis moneter (krismon) melanda Indonesia.

Hal tersebut juga otomatis membuat dirinya dan keluarga harus mengencangkan ikat pinggang. Meski stok makanan diakuinya masih aman, Khaidir tetap harus memutar otak agar istri dan tiga orang anaknya ternafkahi dengan layak.

“Kalau orang dewasa sih bisa hemat makanan, tapi untuk popok dan susu anak enggak bisa dikurangi. Kemarin akhirnya saya beranikan pinjam uang ke bank untuk simpanan, jaga-jaga saja,” tutupnya. [Renaldi, Mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UBL]

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda