Berita Foto Nusantara

Syekh Abdurrahman Ganjur, Ulama Persia Penyebar Islam di Ngroto Grobogan

Syekh Abdurrahman Ganjur, Ulama Persia Penyebar Islam di Ngroto Grobogan

Makam Syekh Abdurrahman Ganjur di Desa Ngroto, Grobogan, Jawa Tengah. | Rizqia Alfiani

Makam Syekh Abdurrahman Ganjur di Desa Ngroto, Grobogan, Jawa Tengah. | Rizqia Alfiani

Wartalampung.id, Grobogan – Syekh Abdurrahman Ganjur kelahiran Persia. Ia dikenal penyebar Islam yang babat alas Desa Ngroto. Desa ini dahulu masuk wilayah Demak, sekarang masuk wilayah menjadi Grobogan/Purwodadi, Jawa Tengah.

Sujiah, jamaah Mejlis Zikir Al-Khidmah, bercerita, Syekh Ganjur tinggal di perdesaan sambil mengajar ngaji warga sekitar. Karena desa sepi, banyak warga desa lain datang untuk belajar dengan Syekh Ganjur.

Ini kemudian membuat menjadi ramai. Syekh Ganjur lalu memberi nama desa itu dengan nama Ngroto.

Ngroto berasal dari kata padang lan roto yang berarti cerah dan rata. Disebut rata, kata Sujiah, karena dulu desa itu dikelilingi tanaman glagah.

Ganjur adalah julukan yang diberikan oleh masyarakat kepada Syekh karena keterampilannya memukul gong dengan tangan kosong (di-ganjur) sebagai tanda masuknya waktu salat.

Selain itu, masyarakat juga menjulukinya “Godho Mustoko”. Cerita Sujiah, kubah di Masjid Agung Demak, dulu tidak ada satu orang dewasa pun yang bisa memasangnya. Namun Syekh Ganjur yang saat itu masih anak-anak bisa memasangnya. Wallahualam bissawab.

Sujiah menambahkan, dulu Masjid Agung Demak ingin dibangun di Desa Ngroto. Namun, urung dibangun yang akhirnya dibangun di Demak seperti sekarang ini.

Sujiah memaparkan, Syekh Ganjur hidup di zaman Wali Songo. Syekh Ganjur sampai di tanah Jawa karena keinginannya untuk mencari ayahnya yang sampai terlebih dahulu dengan berdagang dan menyebarkan Islam.

Suatu hari. masihg cerita Sujiah, Syekh Ganjur bertemu lelaki tua yang berpakaian seperti seorang kiai. Orang tua itu terlihat payah melepaskan rakit bambu yang tersangkut tonggak.

Melihat itu, Syekh Ganjur membantu lelaki tua itu dan berhasil melepaskan rakitnya. Syekh Ganjur mempersilakan lelaki itu untuk singgah ke tempatnya meskipun sebentar.

Keduanya berbincang hangat. Syekh Ganjur pun menceritakan ia berasal dari Persia. Ia tinggal di Jawa bersama ibunya (Nyai Samsiah) untuk berdagang dan menyebarkan Islam.

Selain itu ia juga mencari ayahnya yang pergi ke Jawa. Tiba-tiba lelaki itu merangkul Syekh Ganjur sambil menagis. Lelaki tua itu mengatakan bahwa Syekh Abdurrahman Ganjur adalah anaknya. Keduanya berpelukan melepas rindu.

Syekh Ganjur meminta ayahnya itu untuk tinggal bersamanya. Namun, karena ada tugas penting dari Demak, ayah Syekh Ganjur berkata ingin menyelesaikan tugas itu terlebih dahulu.

Selama di Desa Ngroto, Nyi Samsiah membantu putranya mengajar mengaji santri. Ia menggunakan metode eja ala Persia. Contohnya alif jabar a, alif ajer i, dan alif apes u.

Lama Syekh Abdurrahman Ganjur dan Nyi Samsiah tinggal di Desa Ngroto. Hingga keduanya meninggal di Desa Ngroto, ayah Syekh Ganjur tidak pernah menemui anak dan istrinya itu.

Syekh Ganjur menghabiskan seumur hidupnya untuk mengurus pondok dan menunggu ayahnya hingga tidak memiliki niat untuk menikah. Selain Ganjur dan Godho Mustoko, Syekh Ganjur juga diberi julukan “Kiai Wadat” (kiai yang tidak kawin) oleh masyarakat setempat.

Hingga sekarang nama Syekh Abdurrahman Ganjur masih dihormati masyarakat Desa Ngroto. Kemashyurannya sampai juga ke daerah lain. Hal ini terbukti banyak penduduk desa lain yang berziarah ke makamnya. [Risqia Alfiani, Jurnalis LPM Bangkit Unissula Semarang]

Bagikan :

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tinggalkan Komentar Anda