Tim UBL dan seniman Yogya kembangkan batik cap ramah lingkungan. | Dokumentasi

Wartalampung.id, Pesawaran – Universitas Bandar Lampung (UBL) melalui program pengabdian kepada masyarakat (PKM) terus berinovasi dan berkolaborasi dengan masyarakat.
Kali ini, tim UBL bersama seniman Jogjakarta Nurohmat melakukan kolaborasi dalam pelatihan bagi masyarakat Desa Negerikaton Pesawaran membuat tapis lampung dengan metode cap yang ramah lingkungan.
Nurohmat yang memiliki sanggar DongAji_batik Jogjakarta dalam pelatihan ini menjelaskan, teknologi cap ramah lingkungan memanfaatkan kertas bekas yang banyak dijumpai di masyarakat seperti bungkus rokok, kotak snack, sisa limbah undangan hingga limbah rumah tangga lainnya.
“Berdasarkan pengalaman yang sudah saya lakukan, alat cap ramah lingkungan yang dibuat dengan memanfaatkan bahan kertas bekas dapat digunakan untuk mengecap hingga 32 .000 kali. Ini artinya kita bisa berinovasi tapi juga bisa membantu mengurangi sampah kertas yang ada,’ ujar Nur Rohmat, Senin (20/12).
Lebih lanjut, Nurohmat mengatakan pembuatan desain kain tapis Lampung dalam hal ini memerlukan presisi yang akurat dan perajin perlu mempertimbangkan pemotongan desain agar pengecapan dapat dilakukan secara bersambung (nyengget) dan ketelatatenan dari si calon pembuat cap.
Sementara itu, Ida Farida, Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UBL, dalam sambutannya mengatakan, pelestarian kain tapis sebagai budaya asli Lampung memerlukan inovasi agar kain tapis tetap diminati masyarakat Lampung.
“Pengembangan inovasi pembuatan kain tapi dengan metode cap yang ramah lingkungan merupakan salah satu hal yang dilakukan UBL agar kain tapis tetap di hati masyarakat Lampung,” ujarnya
Sebagai tim mitra PKM, Redawati, Ketua Kelompok Pengrajin Tapis Jejama, mengungkapkan, pelatihan pembuatan kain tapis dengan metode cap yang ramah lingkungan yang dikembangkan UBL dengan mendatangkan seniman asal Yogyakarta merupakan langkah yang sangat tepat untuk mendorong pelestarian tapis sebagai budaya asli Lampung.
‘Walaupun kain tapis yang dibuat merupakan duplikasi dari kain tapis asli, motif kain tapis yang dibuat dengan metode cap ramah lingkungan tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kecintaan masyarakat Lampung terhadap budaya asli Lampung,’’ujarnya.
Kegiatan ini merupakan pengabdian kepada masyarakat dengan pendanaan dari pendanaan program penelitian kebijakan merdeka belajar kampus merdeka dan pengabdian kepada masyarakat berbasis hasil penelitian perguruan tinggi swasta tahun 2021 Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi yang beranggotakan Soewito,Budhi Waskito, Noning Verawati, dan Hanindyalaila Pienrasmi. []
