Pesisir Barat

Turni dan Getah Damar, Menetes Pelan Memberi Kehidupan

Turni dan Getah Damar, Menetes Pelan Memberi Kehidupan

Wartalampung.id, Krui – Pagi belum terlalu panas saat Turni (50) mulai bersiap ke kebun. Tidak ada jam khusus, tidak ada aba-aba. Ia hanya tahu, hari itu waktunya mengambil getah damar.

“Biasanya berangkat jam delapan, kalau kesiangan, panasnya makin bikin capek,” ujar Turni santai.

Di kebun, waktu berjalan pelan. Pohon-pohon berdiri tinggi, sunyi, seolah menyimpan cerita sendiri. Turni sudah hafal ritmenya. Ia tahu kapan harus mulai, kapan harus berhenti, dan kapan pohon harus dibiarkan beristirahat.

Mengambil getah damar bukan pekerjaan harian. Turni melakukannya setiap dua puluh hari sampai sebulan sekali. Selebihnya, ia menjalani pekerjaan lain.

“Kalau belum waktunya, ya nggak diambil, kalau dipaksa, pohonnya bisa rusak,” ujarnya baru-baru ini kepada wartalampung.id.

Bagi Turni, damar bukan sekadar sumber penghasilan. Ada batas yang harus dijaga. Pohon tidak boleh diperlakukan sembarangan, karena dari sanalah hidupnya bergantung.

Ia bekerja sendiri, tanpa banyak bicara.

“Kalau nunggu orang, kadang malah nggak jadi,” katanya singkat.

Prosesnya tidak sederhana. Getah diambil dari lubang paling bawah hingga ke bagian atas batang pohon. Semuanya dilakukan bertahap, satu per satu.

“Biasa pake kapak dan anyaman rotan panjang yang dipakai untuk memanjat. Capeknya terasa kalau sudah setengah hari, tenaga mulai habis, tapi bagian atas harus tetap diselesaikan,” ujarnya dengan dedikasi yang kuat.

Siang adalah bagian terberat. Matahari tepat di atas kepala, keringat tidak berhenti, dan tubuh mulai terasa berat. Namun, pekerjaan tidak bisa ditinggal di tengah jalan.

Hutan tidak pernah benar-benar kosong. Selain suara serangga dan angin, kadang ada hal-hal yang tidak biasa.

“Pernah ketemu hewan aneh,” katanya dengan raut muka yang datar.

Bentuknya seperti tupai, tapi bisa melayang dari satu pohon ke pohon lain. Di tempatnya, hewan itu disebut kubung.

“Bukan kelelawar. Dibiarkan saja, lama-lama pergi sendiri,” ujarnya santai.

Turni tidak banyak bercerita soal itu. Baginya, hutan punya caranya sendiri menunjukkan kehadiran.

Setiap masuk kebun, ada kebiasaan yang tidak pernah ia tinggalkan. Bukan soal aturan tertulis, tapi kebiasaan yang sudah mendarah daging.

“Sebelum masuk, biasanya berdoa dulu,” ujarnya.

Ia memakai baju panjang, celana panjang, dan topi. Bukan untuk gaya, tapi untuk melindungi diri dari tawon, ulat bulu, dan serangga lainnya.

“Biar aman,” ujarnya.

Getah damar bisa dijual langsung atau disimpan dulu di rumah. Turni biasanya mengumpulkan sampai cukup banyak.

“Harganya sekarang lumayan, sekitar dua puluh lima ribu per kilogram,” ujarnya.

Untuk jenis tertentu, harganya bisa lebih tinggi. Saat harga bagus, hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Alhamdulillah, cukup. Yang penting bisa makan,” ujar Turni pelan.

Turni ingat sekali, dulu pohon damar lebih banyak. Sekarang, tidak lagi.

“Banyak yang roboh karena sudah tua. Ada juga yang ditebang buat bangunan,” ujarnya.

Ia tahu sekarang ada aturan yang melarang penebangan pohon damar. Baginya, aturan itu penting.

“Kalau sampai habis, kita juga bingung mau kerja apa,” katanya pelan.

Turni tidak bicara soal mimpi besar. Ia hanya ingin kebun tetap ada, pohon tetap berdiri, dan anak-anaknya punya pilihan hidup yang lebih baik.

“Harapannya hutan dijaga, kalau damarnya ada, ekonomi juga bisa jalan,” ujarnya.

Ia menatap kebun, lalu kembali pada pekerjaannya.

“Selama masih ada damar, ya saya jalani saja,” ujarnya.

Tidak ada kalimat penutup yang dibuat-buat. Hidup Turni mengalir seperti getah damar, pelan, menetes, tapi terus memberi. [Nayla Sakina/SMAN 1 Pesisir Tengah]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda