Pesisir Barat

Pantai Siging, Napas Kehidupan yang Terjaga 24 Jam

Pantai Siging, Napas Kehidupan yang Terjaga 24 Jam

Pantai Siging

Wartalampung.id, Krui – Subuh di Pantai Siging, Pardasuka, Kecamatan Ngaras, Kabupaten Pesisir Barat, tidak datang dengan gegap gempita.

Ia merayap pelan, dibawa angin laut yang dingin dan bau asin yang menempel di kulit.

Pukul 04.40, garis pantai mulai terisi oleh langkah-langkah orang yang datang untuk bekerja. Di bawah cahaya lampu seadanya, nelayan berkumpul di sekitar perahu membuka penutup mesin, meraba jaring, memastikan hari itu bisa dimulai. Laut masih gelap, tetapi pantai sudah terjaga.

Ketika langit perlahan beralih warna, sekitar pukul 05.10, kesibukan itu menemukan arahnya. Perahu-perahu didorong ke air, mesin dinyalakan, dan ombak kecil menyambut buritan yang menjauh dari darat.

Satu per satu perahu meninggalkan pantai, membawa harap yang diserahkan sepenuhnya pada laut. Di Pantai Siging, subuh bukan sekadar pergantian waktu, melainkan peralihan dari persiapan menuju perjuangan.

Ahmad Firdaus sudah berada di pantai sejak persiapan dimulai. Nelayan berusia 35 tahun itu bukan warga lokal Pantai Siging.

Ia berasal dari Penengahan. Ahmad ke Siging atas rekomendasi temannya yang bernama Zam, nelayan yang lebih dulu bekerja dan sudah memiliki perahu pribadi.

Kini, Ahmad bekerja di bawah naungan Zam.

“Kalau berangkat subuh, biasanya pulang jam sepuluh sampai jam dua belas siang,” kata Ahmad, Ahad, 28/12/2025.

Selain nelayan subuh, ada pula nelayan yang pergi melaut malam hari, mereka berangkat sekitar pukul lima sore. Mereka biasanya kembali ke darat antara pukul enam hingga tujuh pagi saat nelayan subuh justru masih ditengah laut.

Alat tangkap yang digunakan nelayan di Pantai Siging masih sederhana, yaitu jaring dan pancing. Dengan pancing, hasil yang sering didapat adalah ikan karang, tenggiri, dan tuhuk atau marlin.

Sementara jaring lebih banyak menghasilkan layur, simba, dan sepah tebu. Dari seluruh hasil tangkapan itu, tenggiri dan kakap merah menjadi yang paling bernilai, dengan harga sekitar 40 hingga 45 ribu rupiah per kilogram.

Namun, hasil laut sepenuhnya bergantung pada cuaca. Angin kencang dan ombak tinggi membuat kerja menjadi tidak efektif.

“Kalau cuaca buruk, penghasilan juga ikut terganggu,” kata Ahmad. Risiko itu sudah menjadi bagian dari kehidupan nelayan.

Pantai Siging tidak hanya diisi nelayan lokal. Banyak nelayan datang dari Ngaras, Ngambur, Bengkunat, hingga Krui. Sebagian dari mereka tidak sekadar datang untuk bekerja lalu pulang, tetapi memilih tinggal sementara di wilayah sekitar Siging.

Mereka menyewa kos-kosan sederhana dan meninggalkan anak serta istri di kampung asal demi bisa terus bekerja. Ahmad Firdaus salah satunya.

Nelayan asal Penengahan itu kini tinggal di kosan Bu Nurul, di Bandar Agung.

“Saya tinggal di kosan Bu Nurul di Bandar Agung,” kata Ahmad Firdaus.

Ketika perahu-perahu kembali ke darat, rantai kerja belum berhenti. Hasil tangkapan nelayan tidak langsung dibawa ke pasar.

Ikan-ikan tersebut terlebih dahulu dijual ke tempat penampungan ikan milik Hasan. Di tempat itu, ikan dikumpulkan dan disiapkan sebelum didistribusikan.

Dari penampungan milik Hasan, ikan-ikan hasil laut Pantai Siging kemudian dijual ke berbagai pasar. Tenggiri, kakap merah, ikan karang, hingga layur bergerak dari perahu nelayan ke penampungan, lalu ke meja-meja pasar.

Menjelang pagi hingga siang, aktivitas pantai semakin padat. Selain penjual makanan dan ikan, terdapat pula pekerja derek perahu yang menunggu di pelabuhan.

Sistem derek di Pelabuhan Siging terbagi rapi. Terdapat delapan derek yang menepati wilayahnya masing-masing.

Masing-masing derek memiliki hak menderek sekitar 60 perahu nelayan, dengan tarif jasa Rp15 ribu per perahu. Para tukang derek mulai bekerja sejak pukul enam pagi hingga sekitar tengah hari.

Salah satunya adalah Adi Candra, 35 tahun. Sejak pagi ia berdiri di tepi pantai, memperhatikan perahu-perahu yang mendekat.

Dari pukul enam hingga sekitar tengah hari, Adi menarik perahu nelayan ke darat.

“Nunggu nelayan pulang,” katanya.

Adi tinggal bersama istri, empat orang anak, dan ibunya. Dari jasa derek itulah kehidupan keluarganya ditopang.

Bagi Adi, derek perahu bukan sekadar pekerjaan fisik, melainkan bagian penting dari roda ekonomi Pantai Siging.

Jika satu perahu diisi dua nelayan, dengan 60 perahu per derek dan delapan derek yang beroperasi, jumlah nelayan di Pantai Siging diperkirakan mencapai sekitar 960 orang. Angka itu menjelaskan mengapa pantai ini tak pernah benar-benar sepi.

Menjelang sore, Pantai Siging mulai melambat. Aktivitas bongkar hasil laut berkurang dan perahu-perahu lebih banyak terparkir di darat.

Hanya sebagian kecil nelayan yang bersiap untuk berangkat melaut malam. Jumlahnya tidak banyak sekitar satu hingga lima perahu yang perlahan didorong ke laut saat cahaya senja mulai hilang.

Malam di Siging tidak seramai pagi, tetapi tetap menyimpan denyut kehidupan yang tak sepenuhnya padam.

Padatnya aktivitas itulah yang membuat Pantai Siging jarang digunakan sebagai tempat pariwisata. Pantai ini lebih dikenal sebagai sumber mata pencarian daripada sektor pariwisata.

Meskipun memiliki bentang laut yang indah, dari ujung ke ujung garis pantai hampir seluruhnya dipenuhi perahu nelayan yang terparkir rapat. Tak banyak ruang tersisa bagi pengunjung untuk sekadar berjalan atau duduk menikmati laut.

Walaupun begitu, keindahan Pantai Siging tetap menemukan jalannya. Menjelang sore, anak-anak setempat kerap datang untuk menikmati matahari terbenam.

Mereka berdiri di tepi pantai, menatap laut yang mulai tenang setelah seharian bekerja. Hanya di ujung barat pantai yang terdapat ruang terbuka tanpa perahu, satu-satunya tempat kita bisa memandang laut lepas tanpa terhalang lambung dan tali tambat.

Di Pantai Siging, laut menjadi penentu ritme hidup banyak orang. Dari nelayan yang datang sebelum subuh, pekerja derek yang menunggu perahu pulang, hingga ikan-ikan yang berpindah tangan sebelum sampai ke pasar, semuanya saling terkait.

Setiap pagi dan sore, pantai ini menyimpan cerita tentang orang-orang yang menggantungkan hidup pada air asin dan ombak bekerja dalam sunyi, pulang membawa harap, lalu mengulanginya lagi keesokan hari. [Salsa Bila Aini/SMAN 1 Pesisir Tengah]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda