Bandar Lampung

Tim Pengabdian Unila Dorong Edukasi Anti-Bullying di SD Negeri 5 Metro Utara

Tim Pengabdian Unila Dorong Edukasi Anti-Bullying di SD Negeri 5 Metro Utara

Pengabdian Unila

Wartalampung.id, Metro Utara — Perkembangan teknologi digital telah mengubah cara anak berkomunikasi, belajar, dan membangun pertemanan. Di tengah berbagai manfaat teknologi tersebut, muncul tantangan baru yang perlu mendapatkan perhatian, salah satunya adalah perilaku perundungan (bullying) yang tidak hanya terjadi secara langsung, tetapi juga dapat berkembang melalui ruang digital.

Kondisi tersebut menjadi perhatian tim Pengabdian kepada Masyarakat Unggulan dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung melalui kegiatan bertajuk “Penguatan Digital Civility dan Positive Social Interaction dalam Edukasi Anti-Bullying di UPTD SD Negeri 5 Metro Utara.”

Kegiatan ini dipimpin oleh Dayu Rika Perdana, bersama anggota tim Deviyanti Pangestu, Siti Nuraini, Miranda Abung, dan Kartika Eka Pertiwi.

Program tersebut dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian terhadap pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, ramah anak, dan mampu membangun hubungan sosial yang sehat di tengah perkembangan kehidupan digital.

Menurut Ketua Tim Pengabdian, Dayu Rika Perdana, edukasi anti-bullying perlu diberikan secara komprehensif karena persoalan perundungan tidak hanya berkaitan dengan tindakan fisik, tetapi juga dapat muncul melalui ucapan, perilaku sosial, hingga interaksi di media digital.

“Anak-anak saat ini tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi. Karena itu, edukasi anti-bullying juga perlu menyentuh bagaimana mereka berinteraksi secara sehat, baik secara langsung maupun ketika berada di ruang digital. Anak perlu memahami bahwa apa yang mereka katakan, tuliskan, maupun bagikan dapat memberikan dampak kepada orang lain,” jelas Dayu Rika Perdana.

Ia menambahkan bahwa konsep digital civility menjadi salah satu aspek penting yang perlu diperkuat sejak usia sekolah dasar. Digital civility tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana seseorang mampu menunjukkan kesopanan, empati, rasa hormat, dan tanggung jawab ketika berinteraksi di ruang digital.

“Literasi digital tidak cukup hanya membuat anak mampu menggunakan teknologi. Mereka juga perlu memiliki etika dalam menggunakannya. Jangan sampai kemampuan menggunakan media sosial berkembang lebih cepat daripada kemampuan memahami dampak dari perilaku mereka terhadap orang lain,” tambahnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta didik diarahkan untuk mengenali berbagai bentuk bullying, memahami dampaknya, serta membangun keberanian untuk mengambil sikap ketika menghadapi atau menyaksikan tindakan perundungan.

Tidak kalah penting, peserta didik juga diperkenalkan dengan konsep positive social interaction atau interaksi sosial positif. Konsep ini menekankan pentingnya membangun hubungan pertemanan melalui sikap saling menghargai, empati, kerja sama, komunikasi yang baik, serta kemampuan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan.

Pendekatan tersebut menjadi penting karena pencegahan bullying tidak cukup dilakukan dengan memberikan larangan atau hukuman. Anak perlu dibiasakan untuk memahami nilai empati dan menghargai orang lain sehingga tercipta budaya sekolah yang mendukung hubungan sosial yang sehat.

Dalam kesempatan tersebut, pihak sekolah menyambut baik pelaksanaan kegiatan pengabdian yang dinilai relevan dengan kebutuhan peserta didik saat ini.
Kepala UPTD SD Negeri 5 Metro Utara menyampaikan bahwa persoalan interaksi anak perlu menjadi perhatian bersama, terutama karena perkembangan teknologi membuat pola komunikasi peserta didik semakin luas.

“Kami sangat menyambut baik kegiatan ini karena anak-anak sekarang tidak hanya berinteraksi secara langsung di sekolah, tetapi juga sudah banyak berinteraksi melalui teknologi. Mereka perlu diberikan pemahaman bagaimana menggunakan teknologi dengan baik dan bagaimana menghargai teman dalam setiap bentuk interaksi,” ungkap Kepala UPTD SD Negeri 5 Metro Utara.

Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi peserta didik.

Namun, upaya tersebut membutuhkan kolaborasi antara sekolah, guru, peserta didik, orang tua, dan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap dunia pendidikan.

“Pencegahan bullying tidak bisa hanya menjadi tugas guru. Anak-anak juga harus memiliki kesadaran untuk saling menjaga dan saling menghargai. Kami berharap kegiatan seperti ini dapat memberikan pemahaman yang lebih kuat kepada peserta didik dan dapat terus diterapkan dalam keseharian mereka,” lanjutnya.

Melalui kegiatan pengabdian tersebut, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan mengenai bahaya bullying, tetapi juga diajak memahami posisi dan peran mereka dalam menciptakan lingkungan sosial yang positif.

Peserta didik didorong untuk mampu membedakan antara candaan dan perilaku yang dapat menyakiti orang lain, memahami pentingnya menjaga perasaan teman, tidak menyebarkan konten yang merendahkan orang lain, serta berani melaporkan atau mencari bantuan ketika menemukan tindakan perundungan.

Tim pengabdian juga menekankan bahwa ruang digital merupakan bagian dari kehidupan sosial anak yang tidak dapat dipisahkan dari pendidikan karakter. Oleh karena itu, nilai-nilai seperti tanggung jawab, empati, kesopanan, penghargaan terhadap perbedaan, dan kepedulian sosial perlu diterapkan baik dalam kehidupan nyata maupun dalam interaksi digital.

Kegiatan ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam menjawab tantangan pendidikan yang terus berkembang. Perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam menghasilkan pengetahuan, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan solusi yang relevan bagi persoalan yang dihadapi masyarakat dan satuan pendidikan.

Melalui kolaborasi tersebut, edukasi anti-bullying diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi dapat berkembang menjadi bagian dari budaya positif sekolah.

Pada akhirnya, penguatan digital civility dan positive social interaction diharapkan mampu membentuk peserta didik yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kecakapan sosial dan karakter yang kuat.

Sebab, menjadi generasi yang cerdas di era digital bukan hanya tentang seberapa mahir anak menggunakan teknologi, tetapi juga tentang seberapa bijak mereka menggunakannya dan seberapa mampu mereka menghargai orang lain.

Tim Pengabdian kepada Masyarakat Unggulan Universitas Lampung berharap kegiatan ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, ramah anak, dan bebas dari perundungan, sekaligus memperkuat budaya interaksi positif di tengah perkembangan era digital. []

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda