Teki Prasetyo. | Dokumentasi

Oleh Teki Prasetyo Sulaksono (Dosen PPKn Universitas Lampung)
Mudik merupakan tradisi dalam masyarakat Nusantara yang biasanya dilakukan dalam momen tertentu, seperti Idul Fitri. Namun, pada masa pandemi Covid-19 banyak polemik mendera semua sektor kehidupan termasuk mobilitas masyarakat.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Covid-19 sebagai pandemi pada Maret 2020. Setelah terjadi kasus Covid-19 di Indonesia sejak Maret tahu lalu, pemerintah menetapkan kebijakan yang membatasi ruang gerak masyarakat dalam ruang publik.
Termasuk untuk kedua kalinya dalam suasana Ramadan dan Idul Fitri, pemerintah memberlakukan larangan mudik. Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipasi untuk menekan pertumbuhan Covid-19 di Indonesia.
Tentu hal ini menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat. Tradisi mudik yang sangat melekat yang dilakukan setahun sekali untuk bersilaturahmi dengan orangtua dan kampung halaman harus ditiadakan.
Kerinduan itu memang mendalam, namun ada hal penting lainnya yang harus dilakukan sebagai warga negara yang baik. Di tengah pro dan kontra tersebut perlu kita sadari bahwa menahan untuk tidak mudik merupakan bagian dari wujud bela negara.
Kondisi pandemi ini telah merasuk pada sendi-sendi kemanusiaan akan kesadaran dalam membantu sesama. Dalam konteks kenegaraan, tentu menaati apa yang menjadi kebijakan pemerintah adalah sebentuk partisipasi warga negara dalam bela negara.
Pandemi ini merupakan ancaman berdimensi keselamatan umum. Karena sifat penularannya dan tingkat kematian akibat covid-19. Hal ini memerlukan pengorbanan yang harus dilakukan, salah satunya adalah tidak melakukan mudik.
Meski tidak bisa mudik, ada beragam cara yang bisa dilakukan agar Idul Fitri terasa bermakna. Bisa melakukan video call dengan sanak keluarga, saling mengirim bingkisan Lebaran, ucapan, dan semua kata mesra tentang kerinduan.
Mempererat silaturahmi di daerah perantauan seperti saling memberi hadiah dan berkunjung dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat dengan memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, dan tidak bersalaman.
Sehingga suasana lebaran masih bisa dirasakan dengan makna kemenangan dan persaudaraan. Sembari kita semuanya baik pemerintah dan masyarakat, terus berdoa agar pandemi ini segera hilang dari bumi. []
