Gufron Azis Fuadi
Pada tahun 1158 cucu Jenghis Khan, Hulago Khan, memimpin pasukan Mongol menjarah Baghdad, ibukota kekhalifahan Bani Abbasiyah. Bangsa Mongol mengalahkan pasukan Muslim di wilayah yang kini dikenal sebagai Iran, Irak, dan Suriah dengan relatif mudah di antaranya karena pengkhianatan seorang pejabat tinggi dinasti Abbasiyah, yakni wazir atau mentri yang bernama Ibnu Alqami.
Tentu Ibnu Alqami berharap setelah dia membantu pasukan Mongol ia akan diangkat menjadi orang penting dalam pemerintahan penjajah Mongol. Tetapi apa yang terjadi?
Hulaqo Khan, membunuh Ibnu Alqami dengan alasan bahwa seorang pengkhianat tidak boleh diberi panggung, meskipun ia telah berjasa dalam invansi pasukan Mongol. Karena terhadap tuannya yang membesarkannya saja, dia bisa berkhianat apatah lagi kepada kita yang bukan siapa-siapanya?!
Diwaktu dan belahan bumi yang lain kita juga mengenal nama Sultan Haji yang bergabung dengan VOC untuk menggulingkan kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa di Banten.
Sultan Haji merupakan seorang putra mahkota dari Sultan Abu al-Fath Abdul Fattah atau Sultan Ageng Tirtayasa tetapi terbujuk rayuan kompeni Belanda untuk berkhianat dan mengkudeta ayahnya, yang selama ini selalu menentang kompeni VOC.
Sebagai imbalan membantu mengkudeta ayahnya ini, kompeni meminta beberapa syarat jika nantinya Sultan Haji sudah bertakhta. Di antaranya Banten harus menyerahkan Cirebon, VOC diizinkan memonopoli perdagangan lada di Banten hingga penarikan pasukan Banten yang menguasai daerah pantai dan pedalaman Priangan.
Setelah sultan Haji setuju, kompeni segera (pada 7 April 1682) mengirimkan bantuan pasukan dari Batavia dibawah kapten Francois Tack. Singkat cerita bersama kapten Tack, sultan Haji berhasil memaksa ayahnya, Sultan Abdul Fatah keluar keraton dan bertahan di Tirtayasa hingga akhirnya tertangkap pada tahun 1683 dan dipenjara di Batavia gingga wafat pada tahun 1689 dan dimakamkan di Tirtayasa.
Pengkhianatan Sultan Haji akhirnya menjadi pintu masuk bagi kompeni untuk menguasai Banten selanjutnya. Atas jasa-jasanya, Sultan Ageng Tirtayasa diberi gelar pahlawan Nasional, pada 1970. Namanya harum dan dikenang sebagai nama universitas, jalan, taman dan lainnya.
Sedangkan sultan Haji, dia tercatat dengan tinta hitam sebagai pengkhianat. Tidak ada nama jalan, taman atau monumen kepahlawanan untuk nya. Mungkin hanya di Kota Sepang, Bandar Lampung saja yang ada nama jalan Sultan Haji. Bisa jadi itu satu satunya di Indonesia!
Karena memang hati nurani dunia sepakat, pengkhianat tidak boleh diberi panggung. Sebagaimana juga tidak ada foto marsekal Oemar Dani mantan KASAU, yang menjadikan Halim Perdana Kesuma menjadi markas bagi PKI melancarkan G30S/PKI, di gedung gedung AU.
Tidak dipasang fotonya dan namanya juga tidak digunakan untuk memberi nama gedung bahkan sebuah ruangan sekalipun, apalagi munumen adalah agar tidak menjadi contoh dan pembenaran perilaku pengkhianatan.
Sepertinya memang ada kesepakatan tidak tertulis, agar tidak memberikan panggung untuk pengkhianat.
Karena bila para pengkianat masih diberi panggung, maka generasi berikutnya akan beranggapan bahwa berkhianat itu sah sah saja. Apa lagi bila berkhianatnya secara sopan!
Sebagian mungkin ada yang berfikir, ini kejam! Seolah tidak menghargai perjuangan masa lalunya. Tetapi ya memang begitu hukum dunia.
Sebagaimana yang dialami oleh Ronggolawe, Nambi dan Lembusora yang memberontak kepada raja kedua Majapahit Jayanegara. Padahal ketiganya sangat berjasa dalam mendirikan kerajaan Majapahit bersama Raden Wijaya.
Selogis apa pun alasannya, mereka tetap ditulis dengan tinta hitam, sebagai pengkhianat.
Islam pun sangat membenci sifat khianat. Rasulullah Saw memasukkan sifat ini sebagai tanda kemunafikan.
Allah juga mengingatkan dalam Al-Anfal ayat 27: “Hai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”
Sedangkan nabi Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah akan mengibarkan bendera untuk para pengkhianat, dan dikatakan kepadanya, ‘Ini adalah bendera pengkhianatan si fulan’.” (HR. Muslim)
Semoga Allah menjauhkan kita dari sifat dan sikap khianat dan menjadi pengkhianat. Aamiin.
“…Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang yang berkhianat.” (Al Anfal 58)
Wallahu a’lam bi shawab. [Gufron Azis Fuadi]

Tinggalkan Komentar Anda