Suprihatin. | Delima Kurnia
Wartalampung.id, Bandar Lampung – Perjalanan panjang ditempuh Suprihatin, perempuan berusia 47 tahun asal Kecamatan Labuhan Ratu, Lampung Timur.
Sejak dinyatakan mengidap kanker payudara ganas, ia tak pernah berhenti berjuang demi kesembuhan.
Awalnya, Suprihatin merasakan ada benjolan di bagian dada kanan atas. Karena tidak terasa sakit, ia sempat mengabaikannya.
Namun, setelah diperiksa di Rumah Sakit Mardi Waluyo, hasil biopsi menunjukkan bahwa benjolan tersebut adalah kanker ganas yang sudah membesar.
Ia kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Ahmad Yani untuk menjalani operasi pertama yang dijadwalkan pada Mei 2023.
Setelah operasi, dokter menemukan adanya infeksi dan keluarnya cairan dari luka bekas operasi. Satu bulan kemudian, ia harus menjalani 8 kali kemoterapi di RS Ahmad Yani.
Namun, perjuangan belum berakhir. Setelah proses itu selesai, muncul kembali dua benjolan di sekitar ketiak.
“Dokter bilang, bagian akar-akarnya belum sepenuhnya terangkat.”
Pada Januari 2024, Suprihatin menjalani operasi pengangkatan payudara.
Setelah itu, ia kembali menjalani 8 kali kemoterapi, disusul dengan operasi lanjutan karena benjolan muncul kembali. Total, ia telah menjalani 5 kali operasi dan kurang lebih 28 kali kemoterapi.
Kini, ia tengah menjalani pengobatan sinar (radioterapi) di RSUD Abdul Moeloek sebanyak 33 kali tindakan. Hingga saat ini, Suprihatin sudah menjalani penyinaran ke-27.
Proses pengobatan yang panjang ini ia jalani bersama sang suami, Santoso, yang setia mendampinginya setiap hari.
Dalam kebingungannya untuk bertahan satu bulan lebih di kota orang untuk menjalani pengobatan, Suprihatin akhirnya menemukan tempat singgah yang membuat langkahnya terasa lebih ringan.
Melalui arahan dari petugas di rumah sakit, ia dan suaminya kini tinggal di Rumah Singgah Pasien YBM PLN IZI Lampung, yang berlokasi di dekat RSUD Abdul Moeloek.
“Alhamdulillah, semua di sini gratis. Ada tempat tidur yang nyaman, makanan disediakan, dan kami merasa seperti keluarga dengan pasien lain. Saya sangat terbantu, apalagi suami saya juga dapat jatah makan di sini,” tutur Suprihatin penuh rasa syukur.
Kini, besar harapan ia agar rangkaian terapi sinar yang dijalaninya menjadi pengobatan terakhir sebelum akhirnya dinyatakan pulih sepenuhnya.
“Saya sudah berjuang lama. Semoga setelah ini bisa benar-benar sembuh total,” ucapnya penuh harapan.
Rumah Singgah YBM PLN IZI Lampung menjadi tempat yang bukan hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga ketenangan dan kekuatan baru bagi para pejuang kesehatan seperti Suprihatin.
Di sana, mereka tak lagi merasa sendirian dalam menjalani perjuangan panjang melawan penyakit yang diderita. [Delima Kurnia]

Tinggalkan Komentar Anda