Peserta program tahfiz di Masjid Syairullah. | Setiaji Eka Putra

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Kia mengulang-ulang hafalan surat-surat pendek dalam Alquran. Dari mulutnya meluncur beberapa ayat dari surat Al Insyirah. Sang mentor, Hafiz, menyimak saksama.
Ada kurang dari sepuluh anak yang duduk melingkar sama Kia di ruangan Masjid Syairullah, Desa Pemanggilan, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, Kamis malam itu, 8/9/2022.
Belasan anak lainnya, putra dan putri, duduk bersama mentor yang lain. Ayat yang dimurajaah sebagian besar di juz 30 Alquran.
Kia sukses melafalkan surat itu. Ia bagian terakhir yang setor hafalan. Yang lain sudah.
Sejak bakda magrib anak-anak ini berkumpul. Magrib di masjid dijalankan dengan khusyuk. Usai itu mereka langsung memulai setoran hafalan.
Biasanya diawali dengan nasihat atau tausiyah agama. Temanya tak jauh-jauh dari keutamaan menghafal Alquran.
Ikhtiar pengurus beberapa masjid terdekat di sini memang demikian. Mereka tak muluk-muluk anaknya hafal Alquran 30 juz. Sebab, kegiatan ini sifatnya pekanan.
Usai malam setor hafalan ini, mereka kembali dengan aktivitas reguler. Belajar di sekolah dan mengaji di Taman Pendidikan Alquran (TPA) di masjid dekat rumah mereka masing-masing.
Jam makan malam paling ditunggu. Namanya juga anak-anak. Mereka senang bisa dapat makan malam. Sejak beberapa bulan ini menu memang menjadi perhatian pengelola program tahfiz ini.
Semua pengelola sepakat, orangtua dan donatur urunan. Anak-anak dikasih makan bergizi. Menunya minimal telur dan susu. Kadang diberi lauk daging ayam. Sesekali ikan.
Kuspratiknyo, tenaga medis di Rumah Sakit Bumiwaras, Bandar Lampung, yang didapuk menjadi salah satu pengurus kegiatan tahfiz ini bercerita. Kata Kus, demikian ia biasa dipanggil, anak-anak sejak beberapa bulan terakhir dipikirkan benar menunya.

Mereka sudah sepakat, telur, daging, ikan, dan susu konsumsi saban minggu. Kus paham, anak-anak seusia sekolah dasar ini masih bertumbuh.
Selain menjaga gizi seimbang mereka, Kus dan pengelola lain tak ingin anak-anak ini stunting alias gagal tumbuh, baik pada fisik maupun intelegensianya.
Syukur alhamdulilah, semua donatur dan orangtua ikhlas saban minggu urunan. Lauk anak-anak penghafal Alquran ini dijaga benar. Susu menjadi menu wajib mereka sebagai tambahan.
Harga susu kotak di warung atau swalayan dekat lokasi ini tak mahal. Yang sering susu yang dikeluarkan oleh PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk: Real Good.
Ada orangtua yang bekerja di salah satu unit Japfa. Ia yang usul kala itu agar anak-anak dikasih susu setiap pekan malam Jumat saat setor hafalan.
Kus paham, susu menjadi elemen penting bagi anak-anak. Karena ia tenaga medis, penjelasan Kus yang didengar semua orangtua dan pengelola program tahfiz ini diiyakan. Tak ada yang menolak. Mereka paham, protein hewani dari ikan, daging, telur, dan susu sangat penting.
Mereka ingin menepis anggapan bahwa anak-anak cukup dikasih protein nabati semisal tahu dan tempe. Soal sayuran, semua juga sepakat untuk selalu diberikan dalam menu anak-anak.
Kus mengerti, mencegah stunting sekaligus menambah kecerdasan anak-anak ini tidak bakalan bisa hanya sepekan sekali. Maka itu, kepada orangtua, ia mewanti-wanti agar sesering mungkin memberikan menu susu, telur, daging, dan ikan kepada anak-anaknya.
Dian Amir, orangtua Kia, segendang sepenarian. Guru di sebuah sekolah dasar di Kabupaten Tanggamus, dua jam bermotor dari rumahnya itu, melakukan masukan Kuspratiknyo.
Di rumah, ia mengalokasikan uang untuk belanja kebutuhan protein dasar anak-anaknya. Jadi, Kia dan 3 saudara kandungnya di rumah pun mengonsumsi makanan dengan gizi yang baik.

Prof. Dr. Drg. Sandra Fikawati, MPH, ahli gizi kesehatan masyarakat dan guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, mengatakan, manusia membutuhkan protein yang terdiri atas asam-asam amino sebagai zat pembangun tubuh.
Saat menjadi narasumber seminar yang diadakan Japfa, 3 Agustus 2022 di Surabaya, Sandra mengatakan, sumber protein ini bisa menekan angka stunting.
Sandra menuturkan, prevalensi kasus stunting di Indonesia kian menunjukkan penurunan sejak beberapa tahun terakhir. Meski demikian, penurunan angka stunting tersebut masih jauh dari target nasional yakni sebesar 14 persen pada tahun 2024.
Stunting, ujarnya, menjadi masalah genting. Pasalnya, ini memiliki dampak jangka panjang yang berkontribusi pada produktivitas ekonomi dan pertumbuhan negara.
Sandra menambahkan, berdasar data Food and Agriculture (FAO), badan PBB, pada tahun 2017, total konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia hanya 8 persen.
Angka ini, ujarnya, berbeda secara signifikan dibandingkan negara Asia lainnya, misalnya Malaysia dan Thailand yang tingkat konsumsi protein hewani masing-masing mencapai 30 persen dan 24 persen.
Narasumber lain dalam seminar itu, Direktur Corporate Affairs JAPFA, Rachmat Indrajaya, menyampaikan, sebagai penyedia protein hewani di Indonesia, JAPFA berkomitmen memberikan kualitas produk terbaik dengan harga terjangkau.
Dengan begitu, semua produk olahan protein hewani yang dihasilkan memenuhi konsep aman, sehat, utuh, dan halal (ASUH). Japfa sendiri dikenal sebagai perusahaan agribisnis terkemuka di Indonesia.
Perusahaan ini memiliki lini bisnis pada produksi pakan ternak, pembibitan unggas, peternakan komersial, pengolahan hasil peternakan, produk konsumen, budi daya perairan, perdagangan, dan sebagainya.
Dian Amir mengatakan, ia dan istri tidak sulit mencukupi kebutuhan protein hewani buat anak-anak mereka. Mereka ingin, Kia dan adik-adiknya tumbuh dan berkembang secara normal. Dian bersyukur anak-anaknya terpenuhi gizinya, salah satunya protein.
Syukurnya juga, anak-anaknya tidak sulit melahap makanan apa saja. Termasuk untuk ikan dan susu yang untuk sebagian keluarga di tempat mereka tinggal, Perumahan Puri Sejahtera, Desa Hajimena, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, tak saban hari menikmatinya.
“Produk susu, telur, ikan, dan daging mudah ditemukan. Kalau susu, produk JAPFA kan banyak di swalayan. Harganya juga terjangkau. Kami masih bisa memenuhi kebutuhan anak-anak dari sisi protein hewani,” kata Dian akhir pekan lalu.
Dian termasuk yang paling rewel jika hari mendekati hari setor hafalan anak-anak. Dia acap mengingatkan di grup orangtua anak-anak yang ikut program tahfiz ini, agar menyediakan menu terbaik.
Meski sekali seminggu, buat Dian, sudah lumayan. Paling tidak, mereka yang tidak minum susu dalam enam hari di minggu itu, pas malam setor hafalan mendapat asupan susu. Rasa cokelat yang paling disukai anak-anak.

Melihat anak-anak program tahfiz minum susu dengan nikmat membuat Dian bersyukur. Kuspratiknyo pun demikian adanya.
Istri Kus, seorang ASN di kecamatan setempat. Muryani namanya. Mbak Mur demikian ia biasa disapa.
Karena sering ikut dalam forum pengajian dan perkumpulan warga, Mur acap memberikan masukan soal gizi ini. Khususnya soal stunting dan kebutuhan protein anak-anak.
Malah dalam sebuah acara pengajian, Mur dengan gamblang menjelaskan bahaya stunting jika orangtua tidak peduli dengan asupan gizi anak-anak.
Kepada para ibu, Mur juga acap bilang agar menyediakan susu buat anak-anaknya. Ia juga menepis anggapan susu bikin gemuk anak-anak dan risiko obesitas.
“Anak-anak mesti dikasih susu. Itu kebutuhan mereka. Apalagi yang balita sampai usia sekolah dasar, susu itu penting,” demikian kata Mur di suatu Sabtu siang kala memberikan materi pengajian kepada ibu-ibu di kompleksnya tinggal.
Muryani juga mengingatkan para gadis yang ikut kajian agar menjaga nutrisi sejak sekarang. Sebab, kelak mereka akan menjadi ibu. Kata Mur, jika sedari sekarang para gadis memahami arti nutrisi, berarti mereka sudah bisa menangkal stunting sejak dini. Mur juga mewanti-wanti agar asupan gizi bagi perempuan-perempuan muda calon pengantin benar-benar dijaga.
“Pola hidup dan pola makan dijaga. Asupan ikan, daging, telur, dan susunya sangat dianjurkan,” ujar Muryani.
Kia sendiri senang jika tiap malam Jumat datang ke masjid untuk setor hafalan. Wajahnya semringah usai salat isya. Setelah separuh teman-temannya setor hafalan, acara makan malam paling ia tunggu. Selain menikmati makan malam dengan lauk “mewah”‘, ini bisa menikmati sekotak susu berasa cokelat.
“Seneng banget kalau malam setoran hafalan. Hafalan kami nambah, makan juga enak. Ada susu lagi,” kata dia.
Topan, tetangga Dian Amir, yang anaknya juga ikutan program tahfiz pekanan itu, juga sibuk kalau hari Kamis. Maklum, nyaris semua orangtua meminta istrinya untuk memasak buat makan malam anak-anak para penghafal Alquran ini.
Topan dan istrinya sudah komitmen memasak yang terbaik buat anak-anak. Menu daging ayam yang paling sering karena anak-anak paling suka. Dengan modal Rp10 ribu per orang, menu sudah bisa dibikin.
Soal susu, beberapa orangtua lain yang urunan. Pokoknya, saban pekan menu ini wajib diberikan. Kadang jika jumlah uang yang masuk tak cukup untuk semua anak-anak, Topan tak ragu merogok kocek sendiri.
Pegawai swasta di sebuah perusahaan baja ini tak sayang keluar uang demi gizi anak-anak. Apalagi buat mereka yang sudah mau ikut program tahfiz pekanan.
Jika jumlah duit yang terkumpul minggu itu lumayan banyak, Topan akan menambah menu dengan nugget. Produk JAPFA dia bilang yang paling enak dan bermutu serta harga terjangkau.
“Anak-anak lahap betul kalau makan menu daging atau telur plus ada nugget-nya,” ujar Topan.
Topan juga tahu soal stunting. Ia rajin membaca. Berita di media massa online yang paling sering ia konsumsi.
Topan mahfum banyak orangtua tidak begitu paham soal kebutuhan protein hewani bagi anak-anak. Maka itu, ia sedari awal mengiyakan untuk memenuhi kebutuhan makan malam anak-anak ini.
“Kita enggak mau dong anak-anak ini cebol sama intelegensia rendah. Kayak mana mau menghafal Alquran kalau gizi kurang. Makanya ya sama-sama kita perhatikan gizi anak-anak ini. Pokoknya, telur, ikan, daging plus susu itu wajib hukumnya. Masak mau anaknya hafal Alquran tapi enggak modal buat gizi mereka,” kata Topan.
Dokter TA Larasati, dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Lampung, juga menaruh perhatian yang sama dengan pengelola program tahfiz di Desa Pemanggilan itu.
Dokter Laras, begitu sapaan akrabnya, juga mengajak para ibu untuk membuat dimsum dari daging ayam, ikan, udang, dan sayuran.
Ia membawa mahasiswa kedokteran untuk mengajari para ibu membuat dimsum itu. Tujuan utamanya menjaga pasokan konsumsi protein hewani.
Dimsum dipilih karena sedang menjadi makanan yang digemari. Laras membidik keluarga yang anak-anaknya berpotensi stunting di Desa Jatimulyo masih di Kabupaten Lampung Selatan.
Wakil Ketua Komite IV DPD RI asal daerah pemilihan Lampung Abdul Hakim juga merespons langkah baik pencegahan stunting dan peningkatan gizi anak-anak.
Hakim juga punya konsentrasi tugas untuk mencegah stunting. Dalam setiap kunjungan kerjanya dan sinergi dengan banyak pihak, Hakim selalu menyelipkan pesan untuk mencegah gagal tumbuh kembang anak-anak.
Hakim bahkan sudah menyampaikan ini ke Komandan Korem 043 Garuda Hitam Brigjen TNI Ruslan Effendy. Hakim mengajak Danrem untuk mengedukasi masyarakat tentang ikhtiar mencegah stunting.
Hakim ingin semua komponen TNI dilibatkan untuk kampanye mencegah stunting. Hakim merespons anak-anak penghafal Alquran yang dipenuhi gizinya dari struktur protein hewani berupa susu, telur, ikan, dan daging.
ID Arter, ASN pada Badan Pusat Statistik Kota Metro, menulis opini di wartalampung.id, 1 Maret 2022 yang lalu.
Arter menulis, angka prevalensi stunting di Lampung pada tahun 2021 berada di angka 18,5 persen. Angka tersebut menurun signifikan jika dibandingkan tahun 2018 yang berada di angka 26,25 persen dan tahun 2020 sebesar 24,40 persen.
Arter mencatat, sedangkan untuk prevalensi wasting, Lampung masuk dalam katgoiru kronik dengan angka stunting rendah dan wasting tinggi yakni pada angka 1,2 persen, naik 0,4 persen di tahun 2019 sebesar 6,8 persen. Dan lebih tinggi 0,1 persen dari angka nasional 7,1 persen pada tahun 2021.
Stunting adalah kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingg anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir. (Kementerian Kesehatan RI, 2018).
Sedangkan wasting adalah kondisi pada balita yang ditandai dengan kurangnya berat badan menurut panjang/tinggi badan anak (BB/TB). (Kementerian Kesehatan RI, 2013).

Jam sudah menunjukkan sembilan malam. Anak-anak di Masjid Syairullah sudah hampir selesai berkegiatan. Semua selesai setor hafalan. Acara pun ditutup.
Setiaji Eka Putra, yang malam itu ditunjuk sebagai penanggung jawab, memberikan tausiyah penutup. Ia meminta peserta tahfiz di rumah sering mengulang-ulang hafalan.
Tujuannya, tidak cepat lupa. Selain itu, surat yang dipakai bisa dipakai ketika mereka melaksanakan salat sunah.
Aji, sapaan akrabnya, juga mengucapkan terima kasih atas partisipasi banyak pihak yang masih setia mendukung program ini.
Anak-anak mendengar dengan takzim. Meski lelah, mata mereka berbinar. Ujung acara ini benar-benar khusnul khatimah.
Susu segar Real Good sudah menunggu mereka. Aji mahfum. Ia senyum-senyum saja kala acara sudah berakhir.
Kia juga demikian. Ia paling suka minum susu. Usai acara ditutup resmi, setiap anak menerima susu Real Good. Ada yang berasa cokelat, stroberi, dan keju. Kia memilih yang cokelat.
“Enak bener susu Real Good ini,” kata Kia yang punya nama asli lumayan panjang: Amir Abdillah Putra Cendekia Raya. [Adian Saputra]
