Ade Dwi Putra. | Dokumentasi

Ade Dwi Putra, M.Kom. Dosen Bidang Multimedia Universitas Teknokrat Indonesia.
Corona Virus Disease 2019 atau yang biasa kita kenal dengan istilah Covid-19 sudah melanda dunia selama satu setengah tahun. Hal ini tentunya membawa dampak yang sangat mengkhawatirkan di berbagai sistem pemerintahan negara di dunia, khususnya di Indonesia.
Salah satu sistem yang sangat terasa dampaknya yaitu sistem pendidikan. Dalam rangka mengantisipasi hal tersebut, pemerintah tentu saja memiliki sebuah cara untuk meminimalisir laju penyebaran virus ini.
Alhasil, konsep belajar dari rumah dengan metode daring merupakan pilihan terbaik saat ini yang bisa dijalankan.
Tapi apakah dengan menerapkan konsep belajar dari rumah membuat proses belajar dan mengajar menjadi lebih baik? Tentu saja ada banyak hal yang memengaruhi kondisi ini.
Sejauh ini proses pembelajaran dari rumah masih mengandalkan koneksi jaringan internet. Indonesia merupakan negara dengan kondisi geografis yang sangat luas dan menyebabkan tidak meratanya penyebaran jaringan internet.
Jaringan internet biasanya bisa digunakan didaerah-daerah perkotaan saja dan masih banyak daerah yang belum terlalu maksimal penyebaran jaringan internet. Bahkan, ada beberapa daerah yang sama sekali tidak terjangkau jaringan internet.
Internet masih menjadi harapan untuk membantu kondisi ini dan media pembelajaran saat ini masih bergantung pada koneksi internet. Penggunaan sistem pembelajaran dalam jaringan yang disediakan oleh Dinas Pendidikan setempat atau bahkan menggunakan surel hingga media komunikasi seperti WhatsApp.
Semua media tersebut akan terasa maksimal jika koneksi internet tersedia secara maksimal. Oleh karena itu, diperlukan media pembelajaran yang tidak secara seratus persen tergantung pada koneksi internet, sehingga proses pembelajaran dari rumah akan menjadi lebih maksimal.
Selain soal infrastruktur jaringan internet, metode daring di rumah juga sudah dikeluhkan orangtua. Pasalnya, sistem daring yang dijalankan masih banyak memberi beban kepada orangtua untuk mengawal pembelajaran.
Bahkan ada sekolah yang tidak dapat menjalankan metode daring dengan ideal karena beberapa alasan. Sementara untuk membuka tatap muka tentu saja tidak dapa dilakukan.
Ini yang menjadi kekhawatiran masyarakat bahwa tiga semester pendidikan di era pandemi tidak berjalan dengan baik sehingga akan berdampak pada kualitas peserta didik.
Augmented Reality
Saat ini kita sudah mengenal teknologi yang bernama augmented reality (AR). AR adalah realitas tertambah, dengan penjelasan AR merupakan penambahan objek dunia maya ke dunia nyata.
Teknologi AR ini sudah digunakan sejak tahun 1968 oleh Ivan Sutherland. Pada awalnya teknologi AR berkembang pada industri bisnis, gaming, logistik, industri ritel dan saat ini merambah ke media sosial.
Teknologi AR dapat kita lihat pada penerapan filter di aplikasi media sosial seperti Snapchat, Instagram, Facebook dan beberapa aplikasi media sosial lainnya.
Pada bidang pendidikan, AR dapat meningkatkan kualitas belajar dan mengajar secara daring. Tenaga pengajar akan diberikan sebuah fasilitas yang dapat mendukung penyampaian materi untuk meningkatkan pengalaman belajar siswa.
Teknologi AR ini dapat digabungkan dengan teknologi animasi yang akan lebih membuat siswa tertarik dengan materi yang akan disampaikan dan akan lebih menyenangkan lagi jika dihubungkan dengan smartphone.
Proses pembelajaran yang biasanya menyajikan sebuah gambar pada kertas atai buku, dengan adanya AR gambar tersebut bisa dibuat menjadi bergerak dengan bentuk animasi 3D apabila gambar yang menjadi marker (tanda) disorot dengan menggunakan kamera yang ada di smartphone.
Tantangan di dunia pendidikan di masa pandemi Covid-19 akan teratasi oleh adanya teknologi AR. Beberapa developer AR di dunia sudah merasakan kesuksesan pernerapan AR di bidang edukasi.
Sebut saja aplikasi StarWalk yang membanti siswa ataupun masyarakat umum mengenal dan mempelajari sistem tata surya. Objek yang sebelumnya tidak pernah terjangkau akan terasa nyata di hadapan pengguna dalam hal ini siswa dan membantu siswa memahami pelajaran lebih baik.
Selain itu, penerapan dalam pelajaran biologi, seperti pengenalan pancaindera. Sebelumnya objek-objek hanya dikenalkan dalam bentuk gambar 2D dengan teknologi AR gambar tersebut bisa dilihat lebih nyata dalam bentuk 3D dan siswa bisa dengan jelas melihat detail yang ada pada animasi 3D yang ditampilkan.
Penerapan teknologi AR dapat membawa dampak positif pada anak-anak yang biasanya banyak menghabiskan waktu bermain smartphone. Mengoptimalkan penggunaan smartphone sebagai media pembelajaran merupakan suatu cara yang terbaik untuk merubah kebiasaan penggunaan ponsel cerdas untuk bermain menjadi kegiatan belajar yang tentu saja menyenangkan dan jauh lebih mandiri.
Lalu seberapa efektif AR untuk dunia pendidikan? Saat ini sudah cukup banyak jurnal yang bisa kita temui yang membahas teknologi AR yang diterapkan dalam dunia pendidikan.
Dari keseluruhan jurnal tersebut dapat dilihat keuntungan dari penerapan teknologi AR dalam pendidikan, seperti meningkatkan motivasi belajar siswa, kemampuan siswa untuk berinteraksi dengan objek yang ditampilkan dan kolaborasi. Jadi tujuan utama penerapan AR ini sudah bisa memenuhi konsep belajar di rumah yang tidak lagi tergantung dengan jaringan internet. []
