Opini pertama saya dimuat Teknokra. | Dokumentasi

TANGGAL 1 Maret kemarin Unit Kegiatan Mahasiswa Teknokra Universitas Lampung berulang tahun yang ke-44. Ulang tahunnya sama dengan tanggal lahir anak saya yang kedua, Mirai Al Biruni.
Sewaktu kuliah di Unila, saya tidak bergabung dengan Teknokra. Meski saya punya ketertarikan dengan dunia jurnalistik, entah mengapa waktu itu saya tak minat gabung ke Teknokra. Saya lebih banyak aktif di Pers Mahasiswa Pilar Ekonomi di fakultas. Beberapa senior di Pilar juga aktif di Teknokra. Bahkan, dua pemimpin umum Pilar Ekonomi, kelak menjadi pemimpin umum juga di Teknokra.
Waktu saya mulai masuk menjadi reporter Pilar Ekonomi, pemimpin umum kami Juwendra Asdiansyah. Kelak, Bang Juwe, demikian ia biasa disapa, banyak berjasa bagi saya dan sudah saya anggap mentor jurnalistik. Bahkan dengan Bang Juwe, saya lumayan lama berinteraksi sampai dengan sekarang.,
Tahun 2002, saya diminta Bang Juwe bergabung di Lembaga Swadaya Masyarakat Komite Anti-Korupsi (LSM Koak) Lampung. Saya diminta Bang Juwe menjadi editor buku yang sedang digarapnya. Saya diduetkan dengan Doddy Wuryanto, juga alumnus Teknokra dan mantan Ketua Senat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unila.
Saya dan Bang Juwe kemudian sama-sama gabung dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung pada tahun 2006. Pada pemilihan pengurus masa bakti 2007-2010 Bang Juwe dan saya terpilih sebagai ketua dan sekretaris AJI Bandar Lampung.
Usai saya keluar dari Lampung Post tahun 2014, saya bergabung dengan duajurai.com–kini duajurai.co, yang dipimpin Bang Juwe.
Lepas Bang Juwe, Pilar dipimpin Agus Sahlan Mahbub. Bang Juwe dan Mas Agus berturut-turut memimpin Teknokra usai tugas di Pilar Ekonomi.
Awal-awal masuk Unila, saya memang sudah kepingin jadi jurnalis dan penulis. Teknokra menjadi ruang bagi saya untuk menulis opini. Opini pertama saya dimuat di Teknokra.
Temanya saya ingat soal profesionalisme jurnalis muslim. Saya banyak mengutip dari beberapa sumber. Namanya juga tulisan awal, masih kering bener. Dalam artian, saya belum banyak referensi soal itu. Namun, minat yang besar terhadap jurnalistik membuat saya semangat menulis dengan mengrimnya ke Teknokra.
Saya ingat betul kala menyerahkan naskah itu kepada Mas Agus Sahlan Mahbub. Ketika saya itu diberi tanda dengan spidol di banyak tempat oleh Mas Agus Sahlan. Sampai-sampai saya bingung, ini apa salah semua ya tulisan, kok semuanya dicoret-coret, hehehe.
Saat edisi surat kabar Teknokra terbit, tulisan saya itu dimuat. Itulah opini pertama saya yang dimuat media massa. Itu bahkan cukup jauh rentangnya dengan tulisan opini pertama saya yang kelak dimuat di Harian Umum Lampung Post akhir tahun 1999.
Senangnya bukan main. Suci Diah, kawan saya di Pilar yang juga aktivis di Teknokra, bilang kalau tulisan saya itu ada honornya. “Kita pakai makan aja ya,” kata dia.
Selain perihal opini pertama tadi, saya terkesan dengan Teknokra dari sisi kekeluargaannya. Tiap kali ada orangtua anggota Teknokra yang meninggal, semua ramai-ramai datang takziah. Tak hanya saat pemakaman saja, bahkan terus sampai acara tahlil dan yasinan.
Demikian juga jika ada alumnus yang wisuda, semua ramai-ramai datang memberikan selamat. Pun jika ada hajatan di rumah anggota atau alumni, semua pengurus dan anak magang datang beramai-ramai. Guyub sekali. Ini juga yang diadopsi oleh Pilar Ekonomi.
Waktu resepsi pernikahan saya dan Sekar Sari Indah Cahyani pada Januari 2008, satu peleton anak Teknokra juga datang. Saya senang semua ramai datang. Tengok-tengok foto waktu mereka datang, puluhan yang hadir. Ada Andri Kurniawan dkk yang hadir.
Teknokra juga membekali pegiatnya dengan idealisme. Nyaris semua wadyabala Teknokra punya independensi dan idealisme yang kuat. Tak salah kalau beberapa alumnusnya ketika bekerja di media massa, dikenal sebagai wartawan yang baik dan profesional serta punya prinsip antisuap.
Selain Bang Juwe yang pernah memimpin AJI Bandar Lampung, ada pula Padli Ramdan yang menjadi ketua organisasi profesi pers itu. Padli juga lulusan Teknokra dan lama bekerja di Lampung Post.
Teknokra juga menyumbangkan pataka jurnalisme dalam tingkat yang adiluhung. Sewaktu Bang Juwe dan saya menjadi pengurus di AJI, kami menahbiskan nama Saidatul Fitriah sebagai nama penghargaan AJI untuk karya jurnalistik yang dinilai mempunyai dampak luas terhadap kebijakan publik. Almarhumah Saidatul adalah fotografer Teknokra. Tahun 1999 saat ada demo penolakan undang-undang keadaan bahaya, Atul, demikian sapaan akrab almarhumah, meliput dan menjadi korban kekerasan oleh oknum tertentu.
Atul kemudian meninggal usai beberapa hari koma akibat pukulan keras benda tumpul di tengkorak kepalanya. Kini, saban tahun, AJI Bandar Lampung memberikan penghargaan Saidatul Fitriah kepada jurnalis yang karya jurnalistiknya dinilai punya dampak besar untuk perubahan kebijakan publik di masyarakat.
Ranah jurnalisme di Lampung tak berlebihan kiranya juga bersyukur masih ada Teknokra. Sebab, dari persemaian di kampus ini, kita bakal mendapat pasokan jurnalis muda yang punya idealisme yang kuat dan profesional dalam bekerja. Oh iya, Opini saya di Teknokra tak hanya sekali dimuat. Ada sekitar 3 kali opini saya dimuat media ternama di kampus Unila itu. Selamat ulang tahun Teknokra. Tetap berpikir merdeka. []
