Bandar Lampung

Tekan Gas Metana dari Sampah Pangan, Ruang Pangan Bangun Ekosistem Penyelamatan Makanan di Lampung

Tekan Gas Metana dari Sampah Pangan, Ruang Pangan Bangun Ekosistem Penyelamatan Makanan di Lampung

Komunitas Ruang Pangan. | MIrliana

Wartalampung.id, Bandar Lampung — Penumpukan sampah organik di tempat pemrosesan akhir (TPA) bukan sekadar masalah kebersihan, melainkan ancaman lingkungan serius yang menghasilkan gas metana tinggi. Menanggapi ancaman tersebut, komunitas Ruang Pangan hadir sebagai solusi sistemik penanganan food waste dan food loss di wilayah Lampung.

Komunitas yang digerakkan oleh gabungan mahasiswa Bandar Lampung ini bergerak menjembatani sektor industri, ritel, hingga rumah tangga agar tidak ada makanan yang terbuang sia-sia (zero food waste).

Co-Founder Ruang Pangan, Ahyar, mengungkapkan dalam wawancaranya, Minggu, 18 Oktober 2026 bahwa pihaknya telah menjalin kerja sama dengan sejumlah merek nasional dan ritel, seperti Holland Bakery, Nutrifood, Lays, hingga Sunpride, untuk mendistribusikan ulang (redistribute) produk pangan yang masih sangat layak konsumsi.

“Daily activity kami adalah redistribusi makanan dari mitra. Contohnya roti atau buah premium yang mendekati masa expired atau kelebihan produksi, kami jemput dan bagikan ke panti asuhan setiap Selasa, Kamis, dan Jumat sore. Mitra senang karena tidak perlu meretur atau memusnahkan barang, dan adik-adik panti asuhan juga bisa menikmati makanan berkualitas,” jelas alumni Unila tersebut saat ditemui dalam kegiatan Food Creative Campaign.

Tidak hanya menyelamatkan makanan yang masih layak konsumsi, Ruang Pangan juga menyiapkan skema penanganan untuk bahan pangan yang sudah tidak layak makan agar tidak berakhir menumpuk di TPA.

“Jika makanannya sudah tidak layak konsumsi, kami alihkan ke mitra pengolahan maggot (Black Soldier Fly). Sampah organik tersebut dijadikan pakan maggot, sehingga siklusnya tetap berputar dan tidak menghasilkan emisi berbahaya di penampungan sampah,” tambah Ahyar.

Ahyar mengingatkan bahwa sampah makanan merupakan salah satu penyumbang gas metana tertinggi yang berpotensi memicu bencana lingkungan, seperti ledakan gas di tempat penampungan sampah.

“Masyarakat akan lebih aware jika sudah paham dampaknya. Kami di tingkat komunitas akan terus mengejar kerja sama dengan pihak company dan pabrik agar produk mereka tidak terbuang. Namun, dukungan dari skala rumah tangga juga sangat dibutuhkan. Mengurangi sampah makanan adalah tanggung jawab bersama demi keberlanjutan bumi,” pungkasnya. [Mirliana Amira]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda