Gufron Azis Fuadi
Berdasarkan kalender Hijriah 1447 H yang dirilis Kementerian Agama RI, 1 Muharram 1447 H jatuh pada Jumat, 27 Juni 2025. Kamis wage ini adalah hari terakhir tahun 1447 Hijriah atau tahun terakhir 1958 Saka.
Tahun Saka adalah sistem penanggalan yang digunakan oleh umat Hindu, termasuk di Indonesia, khususnya di Bali. Tahun Saka dimulai pada tahun 78 Masehi, yang dipercaya sebagai waktu kedatangan Aji Saka.
Sultan Agung Mataram melakukan sinkretisme budaya Hindu, Budha, dan Islam dengan menyatukan atau menggabungkan sistem kalender Saka dengan kalender Hijriah dengan menjadikan Muharam sebagai bulan pertama.
Tetapi pada masyarakat Jawa bulan ini lebih dikenal sebagai bulan Syuro (dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia: Sura), yang diambil dari hari kesepuluh bulan Muharam (Asy-syuro). Sehingga penyebutan Sura bukan hanya untuk tanggal 10 saja tetapi untuk keseluruhan bulan Muharam.
Pemberlakuan kalender ini (kalender Sultan Agung/an) dilakukan untuk pertama kalinya pada tahun 1633 Masehi dengan mengadopsi dua sistem, Luni-Solar.
Tujuannya untuk menyelaraskan adat istiadat budaya keraton dan masyarakat Jawa dengan peristiwa budaya Islam.
Dengan penyatuan dua kalender ini, Sultan Agung berharap dapat berdakwah, memperkenalkan nilai-nilai Islam dalam (menjadi) tradisi kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa.
Ia juga berharap bahwa dakwah melalui alkulturasi budaya Jawa dan Islam ini, dapat menunjukkan bagaimana nilai-nilai Islam dapat diintegrasikan dengan tradisi lokal.
Akulturasi adalah proses saling mempengaruhi dua kebudayaan atau lebih dalam suatu masyarakat, di mana sebagian unsur kebudayaan itu diserap satu sama lain nya, sementara sebagian lainnya berusaha ditolak.
Sehingga peringatan hari hari besar Islam, seperti tahun baru Muharam/Sura, Muludan (maulid nabi), bulan Ramadan atau Poso dan Lebaran menjadi sesuatu yang lazim dalam masyarakat (Jawa).
Sebagaimana layaknya sistem penanggalan, Kalender Jawa Islam atau Kalender Sultan Agungan juga memiliki siklus hari dan bulan. Siklus hari pada Kalender Jawa Islam terdiri dari tujuh hari (saptawara) dan lima hari pasaran (pancawara).
Saptawara terdiri dari Ngahad (Dite), Senen (Soma), Selasa (Anggara), Rebo (Buda), Kemis (Respati), Jemuwah (Sukra), dan Setu (Tumpak). Sementara pancawara atau hari pasaran Jawa terdiri dari Kliwon (Kasih), Legi (Manis), Pahing (Jenar), Pon (Palguna), dan Wage (Cemengan).
Jadi kalender Sultan Agungan ini selain mengadopsi nama bulan dari Islam juga mengadopsi nama nama hari nya. Dan gabungan nama hari dengan nama pasaran inilah yang kemudian disebut weton.
Jadi asal-usul peringatan malam 1 Sura tidak lepas dari peran Sultan Agung Hanyokrokusumo, penguasa Mataram Islam pada abad ke-17 yang menetapkan kalender Sultan Agungan.
Kalau kita perhatikan model dakwah para ulama di Jawa pada zaman dulu banyak melakukan pendekatan kebudayaan. Dalam arti budaya yang sudah ada dan berkembang tidak serta merta dihapuskan tetapi sering kali diambil cangkangnya sebagai wadahnya kemudian diisi dan atau disesuaikan dengan isi yang islami.
Seperti tradisi Rajawedha yang merupakan tradisi yang sudah ada sejak awal Majapahit kemudian sempat dihapuskan oleh Raden Fatah. Kemudian, atas saran Sunan Kalijaga, dihidupkan kembali.
Tradisi ini mulanya adalah acara tolak balak untuk keselamatan raja, keluarga dan masyarakat kerajaan dengan salah satu acaranya adalah mengorbankan kerbau liar dan menjadikannya sebagai sesajen untuk Betari Durga.
Saat dihapus dan ditiadakan oleh Raden Fatah, timbullah gelombang protes dari masyarakat, yang masih belum memeluk Islam atau yang baru Islam merah. Sehingga akhirnya dihidupkan kembali dengan berbagai perubahan yang disesuaikan dengan ajaran Islam.
Misalnya pemotongan hewan tetap diadakan, tetapi tidak lagi untuk sesajen dan dilakukan dengan cara syariat Islam serta daging nya dibagikan untuk makan bersama masyarakat.
Dan ini kemudian menjadi cikal bakal adanya grebeg dan Sekaten.
Baik grebeg Syawal, grebeg besar maupun grebeg mulud. Yang terakhir itu berkaitan dengan acara Sekaten/an.
Dalam grebeg biasanya keraton atau raja memberikan tumpukan makanan berupa gunungan yang sudah diberkati untuk dibagikan kepada masyarakat.
Sedangkan tradisi Sekaten sendiri menurut sahibul hikayat, selain berasal dari kata Sekati yang merupakan nama gamelan ciptaan Sunan Bonang yang ditabuh di pelataran masjid keraton saat perayaan Sekatenan, juga berasal dari kata syahadatain.
Karena pada perayaan sekatenan ini dilakukan dakwah secara masif sehingga banyak masyarakat menjadi mualaf dengan mengucapkan syahadatain.
Konon, di masa Kerajaan Demak, orang-orang yang baru masuk Islam ini kemudian diberi sajian makanan nasi gurih, nasi bersantan, yang kemudian disebut sebagai “sego wudhu‘”, nasi yang disajikan untuk orang (mualaf) dan yang sudah berwudu sebagai bentuk penghormatan dan sukacita.
Tetapi (sayangnya) kemudian sampai ke kulon nasi tersebut berubah menjadi “nasi uduk”, sehingga nilai sakralnya jadi hilang. [Gufron Azis Fuadi]

Tinggalkan Komentar Anda