Bisnis

Stabilkan Rantai Pasok Jagung, General Manager Marketing PT Charoen Pokphand Indonesia Abdul Rochim Soroti Peran Kunci Industri Pakan Ternak

Stabilkan Rantai Pasok Jagung, General Manager Marketing PT Charoen Pokphand Indonesia Abdul Rochim Soroti Peran Kunci Industri Pakan Ternak

Abdul Rochim. | Nathania Shakira

Wartalampung.id, Bandar Lampung – Abdul Rochim, General Manager Marketing PT Charoen Pokphand Indonesia, memaparkan materi mengenai peran strategis industri pakan ternak dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan rantai pasok jagung di Provinsi Lampung.

Paparan tersebut disampaikan dalam diskusi publik yang digelar pada Kamis, 27 November 2025, di Aula Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Unila).

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian HUT ke-52 Fakultas Pertanian Unila yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Fakultas Pertanian Universitas Lampung (Ikaperta).

Dalam pemaparannya, Abdul menjelaskan bahwa jagung memiliki tiga kelompok pemanfaatan utama, yaitu feed atau pakan ternak, food untuk kebutuhan pangan, serta others yang meliputi produk seperti bioetanol dan dextrose.

Menurut dia, industri pakan ternak merupakan pengguna terbesar jagung nasional sehingga keberadaannya sangat berpengaruh terhadap keseimbangan rantai pasok.

Abdul juga menyinggung pentingnya hilirisasi, yang ia definisikan sebagai upaya penambahan nilai pada suatu komoditas melalui proses pengolahan.

Pada sektor pertanian, khususnya jagung, hilirisasi berarti mengubah jagung menjadi produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi, seperti tepung, pakan ternak, dan olahan lainnya.

Ia menjelaskan, dalam industri pakan ternak, jagung menempati porsi terbesar dalam komposisi produksi, yaitu sekitar 50%, disusul rice bran sebanyak 35%, dan bahan lainnya sekitar 15%.

Abdul menyebutkan bahwa dari total produksi jagung nasional yang mencapai sekitar 16 juta, industri pakan ternak menyerap antara 8 hingga 9 juta atau lebih dari 50 persen.

Di tempatnya sendiri, serapan jagung pada tahun 2025 diproyeksikan mencapai 682 ribu ton, atau sekitar 53% dari total produksi jagung Provinsi lampung.

Proyeksi tahun 2026 diperkirakan meningkat seiring pertumbuhan industri pakan ternak yang diasumsikan tumbuh minimal 10 persen, ditambah dengan hadirnya pabrik baru PT Malindo yang ditargetkan mulai beroperasi pada Juli 2026 mendatang.

Abdul turut menyoroti pola penyaluran jagung yang selama ini terjadi, yaitu melalui empat jalur:

  • petani ke pabrik,
  • petani–pengepul–pabrik,
  • petani–pengepul–trader–pabrik,
  • petani–trader–pabrik.

Menurut dia, salah satu kendala yang kerap dihadapi petani adalah persyaratan administrasi, seperti kewajiban memiliki NPWP, sehingga banyak petani yang terpaksa menjual hasil panen melalui pengepul atau trader.

Ia juga menjelaskan bahwa pabrik umumnya menerima jagung dalam dua kategori kadar air, yaitu 14–15%, serta 16,1–35% yang disertai syarat tertentu. Namun, petani kerap kesulitan memenuhi standar tersebut.

Abdul menambahkan bahwa ke depan, kemungkinan akan dikembangkan pola Koperasi Merah Putih agar rantai distribusi menjadi lebih sederhana.

Dengan model ini, pihak pabrik dapat memperoleh jagung yang lebih segar dan harga yang lebih efisien, sementara petani juga dapat menerima harga yang lebih baik tanpa harus melalui terlalu banyak perantara.

Menutup materinya, Abdul menyampaikan tiga harapan utama industri pakan ternak terkait pasokan jagung, yakni ketersediaan jagung berkualitas, dengan umur panen 90–115 hari, kadar air 14–15%, dan aflatoksin maksimal 140 ppb, pasokan jagung yang berkelanjutan tanpa putus, sehingga industri dapat terus berproduksi dan pertumbuhan produksi pakan yang diimbangi ketersediaan bahan baku, agar keberlanjutan industri dan kesejahteraan petani tetap terjaga. [Nathania Shakira]

Bagikan :

Tinggalkan Komentar Anda